*****
(Name) melepas sepatunya di depan pintu rumah Sae, menaruhnya rapi di rak. Begitu pintu terbuka, dua wajah mungil identik langsung menyapanya dengan ceria.
"(Name) Oba-chan!" seru Sia dan Shiro bersamaan, lalu berlari menghampiri.
(Name) tertawa kecil, jongkok, dan membuka kedua lengannya. "Sia-chan, Shiro-chan... kalian tambah tinggi lagi ya. Cepat sekali besarnya."
Keduanya mengangguk penuh bangga, lalu berebut untuk menggandeng tangan (Name). "Kaa-san lagi di kamar. Oba-chan, ikut kami."
(Name) sempat heran. "Memangnya Okaa-san kenapa?"
Shiro menunduk. "Kata Kaa-san, dia enggak enak badan."
Seketika senyum (Name) sedikit meredup, ada rasa khawatir menyelinap. Ia mengangguk, mengikuti langkah kecil kedua bocah itu hingga sampai ke kamar utama.
Di sana, (Y/N) terlihat berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Saat melihat (Name) masuk, (Y/N) memaksakan senyum. "(Name)-chan... kamu datang?"
(Name) duduk di tepi ranjang, memegang tangan kakak iparnya itu dengan lembut. "Aku dengar kamu enggak enak badan. Sae-san lagi rapat, kan? Untung aku mampir, (Y/N)-san. Apa kamu sudah periksa ke dokter?"
(Y/N) menggeleng pelan. "Hanya kelelahan, sepertinya. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk urus anak-anak dan pekerjaan rumah. Jadi badanku protes."
(Name) tersenyum tipis, meski matanya penuh khawatir. "Kalau begitu, biar aku bantu. Aku bawain makanan juga. Kamu istirahat saja. Untuk sementara, serahkan Sia-chan dan Shiro-chan sama aku, ya?"
Sia yang duduk di pinggir ranjang langsung berseru, "Yay! Oba-chan bakal masakin sesuatu?!"
(Name) menoleh pada keduanya, mengusap kepala mereka bergantian. "Tentu. Tapi dengan satu syarat: kalian harus janji enggak bikin Kaa-san capek lagi. Jadi banyak bantu, ya?"
Dua anak kembar itu mengangguk kompak dengan senyum lebar.
(Y/N) menatap pemandangan itu, rasa syukur tersirat di wajahnya. "Sejak dulu, aku selalu merasa kamu bukan hanya adik ipar, (Name)-chan. Lebih seperti adik sendiri... Terima kasih sudah datang."
(Name) menggenggam tangannya erat, memberi rasa tenang. "Kita keluarga, (Y/N)-san. Jadi jangan sungkan. Sekarang, kamu istirahat saja. Aku urus rumah ini untuk sementara."
(Y/N) menutup mata, akhirnya bisa bernapas lega, sementara (Name) bangkit dan mulai bergerak ke dapur, dengan dua bocah kembar yang setia mengikutinya dari belakang.
Dapur rumah Itoshi Sae sore itu terasa lebih ramai dari biasanya. Aroma tumisan bawang putih yang harum mulai menyebar, bercampur suara riuh tawa dua anak kembar yang sibuk membantu. (Name) mengenakan apron pinjaman (Y/N), rambutnya ia ikat sederhana ke belakang.
"Oba-chan, lihat!" Shiro dengan bangga menunjukkan wortel yang sudah ia potong-potong. Bentuknya tidak beraturan—ada yang terlalu tipis, ada pula yang tebal sekali.
(Name) menahan tawa, lalu mengelus kepala keponakannya itu. "Bagus sekali, Shiro-chan. Kamu sudah berusaha dengan baik. Tapi hati-hati ya, jangan sampai jari kamu ikut kepotong."
Shiro mengangguk serius. "Iya!"
Sementara itu, Sia berdiri di bangku kecil agar bisa menjangkau meja dapur, sibuk mengaduk sayuran di wajan dengan spatula yang nyaris terlalu besar untuk tangannya. "Aku chef juga, Oba-chan!"
(Name) menoleh, tersenyum hangat. "Iya, iya. Chef Sia dan Chef Shiro hari ini yang bantu aku, ya. Terima kasih."
Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan memasak itu, sampai tidak menyadari suara pintu rumah terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALER
CintaHati yang pernah hancur... bisa menemukan cahaya baru ketika seseorang datang untuk menyembuhkannya. 💫 Romance | Itoshi Rin x Female Reader Sequel of "AFFAIR" Characters belong to Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura - Blue Lock.
