23

4.9K 219 9
                                        


Heheh
Apakabar sayang?
Baik ya 😅

Maaf author baru balik lagi heheh

___






" Mas...nanti malem teman² ku mau datang, tolong siapin arang ya mas" ayu mengangkat pakaian setengah kering itu dan menjemurnya disamping rumah, sedangkan raka sibuk memberi pakan ayam kampung yang ia pelihara.

" iya cah ayu, iku ikan ne tinggal telu mau ditambah ndak?" Ayu mengeleng dan menjawab

" ikan nya iku udah cukup mas, tapi ayu kepingin kulit sama ati ampela  ayam mas kira kira ditempat budhe yayu masih ada ndak ya"

"Yowes nanti coba mas liat, kamu kesini cah ayu liat iku lantai nya basah" ujar raka yang sudah selesai memberi pakan ternak ayam nya, ayu menurut dan menaruh keranjang baju kotor ditempat nya setelah itu mendekati raka.

" Mas...kok malah mejem sana ke warung budhe yayu wong tadi bilang katanya mau kesana"

" Baru jam 4 loh cah ayu"

" ihhh...nanti abis toh mas, anakmu loh ini yang mau" kesal ayu berdecak pingang.

" hemm anak apa ibunya yang mau" ujar raka masih setia memejamkan matanya membuat ayu semakin kesal

" Mass"

" Yowes sayangku, mas berangkat" ujar raka dengan segera bangkit dari duduk nya.

Dengan penuh telaten ayu, mulai memotong bahan-bahan yang akan digunakan untuk bumbu ungkep ayam yang telah dibersihkan bik ina dan 3 ekor ikan yang akan ia bakar malam ini.
Menurut ibu nya bumbu ungkep buatan sendiri lebih enak daripada bumbu ungkep kemasan maka dari itu ia membuat bumbu ungkep sendiri.

" Assalamualaikum wr.wb  halooo gita datang, mana iki orang rumah endak ada" ujar gita masuk kedalam rumah ayu, ia bertanya tanya kemana pergi nya orang rumah.

" walah walah, bumil lagi masak toh aduh aduh" ujar gita terkejut melihat ayu yang fokus mengulek bumbu.

" ihh kamu iki dateng nya telat, mosok jam segini baru dateng udah tau aku endak tau masak"

"Heheh biasa wong sibuk, sini ta bantu ulek oh iyo tari belum datang?" Tanya gita mengabil alih pekerjaan ayu.

"Belum..yo palingan abis magrib"

"Hemm yowes, udah lama yo ndak ngumpul begini, biasanya pohon ceri menjadi saksi kalau kita ngumpul.. huuu mulut ku iki gatel pengen ngerumpi"

" hemm kamu iku....sana nikah biar hamil juga biar anak kita jadi besty kayak ibu nya"

"Huhu iku hilal ku belum nampak" keduanya pun asyik bercengkrama satu sama lain hingga menjelang sore, raka yang baru pulang dari warung agak sedikit kaget dengan kedatangan teman istrinya itu.

" cah ayu...iki kulit sama ati ayam, ampela e kosong hari ini ndak masuk"

"Alhamdullilah"

" makasih yo mas, hemmm arang sama apinya jangan lupa"

" iya sayang...iki mas mandi sekalian sholat magrib dulu nangung soalnya" ayu menganguk dan mengambil baskom kecil untuk membersihkan kulit dan ati ayam yang telah dibeli raka, sedangkan raka beranjak dari area dapur menuju kamar membersihkan diri.Tak lama azan magrib mulai berkumandang membuat gita mau pun ayu diam sejenak hingga azan magrib selesai setelah itu dengan penuh kesabaran gita mulai membakar ayam yang sudah dipotong2 kecil oleh ayu hingga tak berselang lama tari datang membawa kresek yang berisikan bolu dan juga empek-empek.

"Uhhh maaf yaa aku datang telat, iku tadi mas adi kedatangan tamu jadi gak enak kalau ditinggal"

" aduhh sayang endak papa toh, maklum lh namanya juga sudah berkeluarga" gita tersenyum senang membiarkan tari untuk duduk lesehan di lantai.

" hemmm iki spesial ayam bakar untuk para bumil bumil kesayangan ku...aduhh para laki nya udah datang fiks aku jadi nyamuk iki" ujar gita sesaat melihat raka dan adi jalan berbarengan dari dalam rumah.

" wes ayok dimakan, iki udah mateng semua ayo ayo" ujar ayu yang tak sabaran mengambil ayam bakar.

" gita sekarang masih kerja to?"

"Masih om..."

" Kamu iku sering sering main kesini, ayu bosenan soalnya kalau dirumah sendiri"

" heheh insyaallah om..nanti ta sering main kesini"

" hemm tari ndak papakan om adi sering gita ajak main,  mainya masih disini juga kok"

"Terserah" adi menjawab seadanya sambil mengigit sate kulit yang ada didepannya, suasana mendadak cangung setelah adi menjawab pertanyaan gita.

" hemm..kandungan ayu kan udah 3 bulan kalau tari berapa om?"

"Kamu itu bisa diam? Saya capek dengar suara kamu terus"

"Mass" lirih tari pelan membuat adi berdecak kesal membuang tusuk bambu  yang ia pegang.

" Makan cepat saya mau pergi" titah adi membuat tari menghela nafas pelan dan mengaduk aduk nasi didepan nya, ayu menatap raka dengan penuh pertanyaan sedangkan raka mengisyaratkan untuk ayu tidak ambil pusing. Sedangkan gita menelan ludah nya kasat ia tak meyangka adik dari pak raka akan setega itu dengan tari.

" maaf ya aku ndak bisa bantu apa²..ak..."

"Gak papa tari, pulang aja iku mas adi udah nunggu didepan" ujar ayu menaruh piring kotor ditempat cuci piring. Sedangkan tari membuang nafas nya berat perasaan tak enak menghantui dirinya.

" seka..."

"Ndak papa, tari...kamu pulang istirahat ya...hemm kalau kamu butuh tempat cerita telfon aja  ya" ujar gita yang dianguki tari walaupun samar, akhirnya mau tak mau tari pun pulang dari kediaman ayu.

" aku kok ngerasa ada sesuatu ya sama tari, tadi iku aku liat betis nya biru biru gitu"

" hemm iya kayaknya, tari juga agak kurusan padahal lagi hamil gitu"

"Apa om adi belum cinta ya?"

"Hemmm, ndak tau ta, aku pusing mikirinya "

***

" Mas...kalau gendutan gimana?"

" gimana gimana nya?"

"Ya semisal bb ku naik 100 kg gimana? Mas bakal tetep cinta atau gimana"

"Ya bakal tetep cinta toh cah ayu, wong kamu iku naik 300 kg juga mas tetep cinta sama kamu"

" MAS MAU AKU GENDUTAN SAMPE 300 KG?" pekik ayu tak percaya ia langsung melepas pelukanya terhadap raka yang kebingungan bukan main

" bukan begitu toh sayangku, itukan perumpamaan toh sayang" raka dengan pelan memegang lengan ayu yang sedikit menjauh dari dirinya

" omongan adalah doa toh mas, pokoknya aku kesel sama mas" ayu menghentakan tangan nya dan beranjak dari kasur ia melangkah turun dari kamar menuju sofa depan tv memencet asal remot tv hingga menayangkan sebuah berita

" ishh yang mau nonton berita siapa wong aku mau nonton sinetron" kesalnya sendiri mencari siaran sinetron yang sering ia tonton. Tak berselang lama raka dengan telanjang dada dan sarung wadimor yang ia gunakan ikut turun dan melangkah menuju ayu yang tengah kesal sendiri.

" Cah ayu...mas minta maaf...mas ndak bermaksud ngomong gitu...mas minta maaf ya"

"Ish sana jauh jauh "

"Sayangg"

"Yowes beli in mie ayam bakso ceker sama es kelapa" ujar ayu cepat tanpa menoleh kearah raka yang menghela nafas kecil ia gemas dengan tingkah istrinya itu. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas mengabil baju tanpa menganti celana terlebib dahulu. Setelah kepergian raka, ayu merebahkan tubuhnya mengingat curhatan ibu ibu di media sosial fb yang ia baca hingga notif  pesan dari hp sang suami mengejutkan dirinya  membuat ketakutan tersendiri muncul dari dalam dirinya.

___

Aku yang Terpilih Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang