Wedding Preparation (1)

1.4K 55 4
                                        

Halo

🤍🤍🤍

Cahaya matahari menyusup diantara tirai jendela apartemen, menghangatkan ruangan yang dipenuhi aroma masakan rumah.

Di meja makan, mereka berkumpul Jaemin sarapan seraya memantau Jisung yang sedang belajar makan sendiri. Di hadapannya ada Jeno yang tersenyum gemas melihat tingkah Jisung.

"Buna aaa" tangan mungilnya mengambil telur rebus yang sudah dipotong untuk menyuapi Jaemin.

Jaemin membuka mulutnya menerima suapan Jisung. "Huh pintarnya anak buna," dia mengusik rambut berantakan Jisung yang baru saja bangun tidur.

"Lucunya..." Jeno sebagai penonton kelewat gemas. Dia merekam dengan mata berkaca kaca tak percaya ini lah pemandangannya setiap pagi.

"Daddy... Sudah lah ini sudah waktunya berangkat." Jaemin menegur mengingatkan Jeno.

Ponsel Jeno berdering benar saja itu Yuta yang menelponnya. Tanpa basa basi Yuta langsung bertanya kenapa Jeno belum datang padalah 15 menit lagi rapat akan dimulai.

"Apa Nana bilang jadi dimarahin granpa kan" Ucap Jaemin sembari meladeni Jisung yang terus menyuapinya. Jadi dia juga harus menyuapi Jisung makan agar babynya itu ikut makan.

"Iya, maaf sayang." Jeno berjalan ke arah sofa mengambil dasi dan kembali meminta Jaemin memasangkan dasi di lehernya.

Jaemin mulai memasang dasi setelah menurunkan Jisung dari kursinya. Ini sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi. Memasak sarapan yang simpel, menyuapi Jisung, dan memasang dasi untuk Jeno. Dia sangat menikmatinya.

Saat kedua orang tuanya sibuk berdua Jisung lari ke kamar untuk mencari tas selempang mungil yang biasa dia bawa kalau keluar. Dia menunggu dengan baik duduk di kursi mini yang berbentuk sofa.

Dasi sudah tersemat rapih di kerah kemeja saatnya Jeno berangkat. Jaemin menghantar Jeno sampai pintu.

"Nanti daddy akan menunggu di lobby kantor, lalu baru kita berangkat bersama." Jeno kembali mengingatkan rencana hari ini. Dia sibuk menali sepatunya lalu berdiri.

"Iya, nanti Nana naik taksi saja jadi tidak perlu mengirimkan supir." Ucap Jaemin seraya kembali merapikan pakaian Jeno.

Keduanya belum sadar kalau dibawah sana Jisung sedang menyiapkan sepatu, menggeser bersiap memakainya. Namun belum sempat dia memakai sepatu Jaemin mengangkatnya.

"Tidak sekarang baby. Sekarang daddy akan berangkat bekerja, nanti kita akan menyusul." Ucapnya disambut dengan wajah Jisung yang berkaca kaca. Bayi itu tidak ingin ditinggalkan daddynya.

"Huwaa daddy icung ikut au ikut." Tangisnya tak terbendung. Air mata mengalir deras di kedua pipi gembulnya. Kedua tangan mungilnya berusaha meraih Jeno.

"Jangan menangis baby. Daddy pergi dulu dan Jisung anak baik jaga buna di rumah ya." Merasa tak tega tapi Jeno harus tetap pergi.

Jeno pergi ke kantor dengan mobil. Kali ini dia tidak menyetir sendiri melainkan supir kantor yang menjemputnya. Dia duduk di belakang menggecek kelengkapan berkas rapat.

Di rumah Jaemin menyiapkan Jisung untuk pergi. Dia langsung membawa Jisung ke kamar mandi. Membuka bajunya lalu mulai membersihkan setiap inci tubuh Jisung.

"Sudah selesai, wangi wangi." Jaemin membungkus Jisung dengan handuk lalu menggendongnya ke ruang ganti baju.

Jisung ditidurkan di meja untuknya ganti baju. Untung saja pakaian Jisung sudah dia siapkan tadi pagi berbarengan dengannya memilih setelan yang di pakai Jeno jadi dia tidak terlalu repot lagi memilih baju untuk Jisung.

Daddy Jen || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang