Impi sedang berjalan diantar banyak nya mahasiwa/i yang berlalu-lalang mencari keberadaan Maria yang sudah memiliki janji denganya
"Maria." Teriak Impi
Maria yang melihat keberadaan Impi seketika langsung memberhentikan obrolan nya dengan salah satu mahasiswa.
"Duduk dulu sini Mpi." Ucap Maria sambil menepuk kursi kosong disebelahnya.
"Hm enggak deh kayaknya, gue mau langsung balik aja deh. Lu masih mau disini?" Tanya Impi.
"Iya nanti Gue langsung ke rumah Lu aja." Jawab Maria.
"Enggak usah, Gue jemput Lu di kosan Lu aja." Tolak Impi.
Maria memandang Impi beberapa detik kemudian mengangguk sambil tersenyum. Maria mengerti keadaan rumah Impi sekarang.
--------------------------------------------------------
Gadis itu memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, garasi yang terbilang cukup luas dikarenakan muat untuk 5-6 mobil besar.
"Duduk dulu Mpi." Ucap tegas seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu.
Impi yang mendengar itu terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari Mario.
"Kamu narkoba?" Ucap Mario yang langsung menghentikan langkah kakinya.
Seketika Impi langsung berbalik badan.
"Kalau enggak bisa mendampingi proses bertambah dewasa anaknya minimal enggak nuduh sembarangan ya." Ucap Impi dengan suara yang tercekat.
"Terus tangan kamu dan darah-darah itu kenapa?" Tanya Mario sambil berdiri memandangi anak satu-satunya itu.
Fiona yanhg melihat pergerakan langsung berdiri dari tempat duduknya untuk mencegah sesuatu yang tak diinginkan nya.
"Sejak kapan perduli? sejak kapan anda mau tau tentang hidup saya?" Ucap Impi dengan nada rendah dan merendahkan.
"Apa-apaan kamu ini, Kamu itu saya sekolahin biar makin pintar bukan makin membangkang ya." Ucap Mario dengan nada tinggi.
"Saya gak pakai narkoba, anda bisa periksa kamar saya atau kita perlu tes urine? Saya lakuin semuanya tapi kalau saya benar, anda sujud di depan saya." Ucap Impi dengan nada yang sudah sangat marah dan lengsung berjalan ke arah kamarnya.
----------------------------------------------------------------------------------
"Mas, Kita gak tau apa yang terjadi sama Impi, bener kok kata dia, kita terlalu acuh sama dia. Kita gak pernah tau apa aja masalah dia selama ini." Ucap Fiona sambil menenagi Mario yang sudah sangat marah.
"Masalah Saya ya ada di kalian brengsek." Ucap Impi kecil sambil keluar dari rumah.
Namun ternyata ucapan Impi masih dapat didengar oleh Mario dan juga Fiona.
"Ngomong apa kamu anak sialan?" Tanya Mario sambil menghampiri Impi.
"Kurang jelaskah?" Tanya Impi menantang.
Plakkk.....
Suara keras terdengar dari tangan Mario dan wajah Impi yang bertabrakan.
"uh, keren udah bisa main tangan sekarang. Bunuh juga dong sekalian kayak anda bunuh Ibu saya." Ucap Impi sambil tersenyum licik.
Mario terpaku dengan apa yang sudah Ia lakukan ke anak semata wayangnya, sedangkan Impi langsung pergi keluar rumah untuk menjemput Maria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
Teen FictionPerkenalan yang tak di duga, perkanalan yang selama ini sudah di nantikan, Perkenalan yang sangat di harapkan, Terima kasih semesta mempertemukan ku dengan "Semesta" yang aku harapkan, inginkan dan Ku nantikan. Hangat nya menyelimuti diriku dari din...
