Lima gadis itu sedang berada di kasur Impi yang dapat dibilang cukup besar, ada yang sedang memakan cemilan, ada yang sedang menonton film yang sudah di sediakan oleh Impi.
"Minum lasegar tau Mpi, biar gak panas dalem. Pasti Lu mimisan karna panas dalem kan?" Ucap Tania sambil memakan cemilan nya.
"Nih." Ucap Impi sambil membuka kulkas mini yang berada di bawah meja belajarnya.
"Anjir ternyata dia emang udah stock banyak lasegar cuy." Ucap Sarah yang terkejud di kulkas sarah di dominasi lasegar rasa lechyee.
Maria yang melihat itu pun hanya bersikap datar sambil melihat wajah Impi yang tenang
"Tenang yang mematikan." Ucap Maria kecil yang masih dapat di dengar Impi.
Tok...tok...tok
ketukan pintu yang terdengar langsung di buka oleh Impi menunjukan wanita paruh baya dengan paras cantik, kulit coklat dan bertubuh tinggi.
"Pada makan yuk, udah waktunya makan siang nih." Ucap Fiona pada para gadis itu.
"Ih tante nih repot-repot banget, kan jadi enak kitanya." Ucap Sarah sambil tersenyum malu.
"Hahahaha yuk makann sayang." Ucap Fiona pada Impi sambil berusaha merain tangan nya, namun dengan cepat impi menepis tangan itu dengan sedikit kasar.
Fiona yang merasa tak enak pun langsung tersenyum simpul
"Yuk pada makan dulu." Ucap Fiona kemudian keluar dari kamar Impi.
Para teman Impi yang melihat itu sedikit syok dan tak percaya kenapa Impi sangat kasar kepada Ibu nya sendiri. Satu persatu teman Impi keluar kamar untuk makan menyisakan Impi dan Maria.
Maria langsung turun dari kasur dan membuka kulkas kecil milik Impi.
"Ini semua exp nya tahun 2022 mau sampe kapan Lu simpen? Tanya Maria sambil memegang botol lasegar itu.
"Mau sampe kapan jadiin mimisan sebagai alesan tangan Lu yang berdarah dan mau sampai kapan jadiin lasegar ini sebagai tameng."
—•—
Impi terdiam di atas balkon kamar sambil memegang satu botol berwarna hijau dengan logo J. Namun lamunan Impi terpecah ketika ada seorang wanita paruh baya duduk di samping nya.
"Impi masih enggak suka ya sama tante?" Tanya wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Fiona.
Impi yang mendengar itu memilih tak menjawabnya.
"Gak apa-apa kok Mpi, mungkin Impi belum bisa terima tante, tapi Impi udah tante anggap anak tante sendiri kok." Ucap Fiona kembali.
"Gak perlu, ga butuh." Jawab Impi sambil membakar rokok yang sedari tadi sudah ada di tangan nya.
"Tante atau siapa pun itu gak akan mengerti apa yang Impi rasakan, hanya Impi yang bisa merasakan pasti bagaimana perasaan Impi sekarang. Tapi kalau Esok, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau bahkan 10 tahun lagi Impi siap cerita dan siap menerima tante, tante akan senang hati memberikan pundak tante ke Impi, jadi Impi nggak perlu merasakan kesepian lagi."
"Kalau ternyata seumur hidupku, aku gak terima kamu bagaimana?" Tanya Impi kepada Fiona dengan tatapan tak sukanya.
Fiona hanya tersenyum sambil mengelus kepala Impi, Impi yang diperlakukan seperti itu ntah mengapa tak dapat menolak seolah hatinya memang menginginkan hal seperti itu.
"Tante yakin akan ada waktu dan masa nya nak, tante tidak akan pernah bisa menggantikan mama kamu, tapi tante akan berusaha untuk membuat kamu terus merasa nyaman dan aman bersama tante." Ucap Fiona sambil terus tersenyum.
Impi yang tersadar pun langsung mematikan rokok nya dan beranjak dari balkon dan meninggalkan Fiona sendiri.
"Maaf Nak, tante terlalu egois sampai luka mu sebesar ini," Gumam Fiona sambil menatap kepergian Impi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
Teen FictionPerkenalan yang tak di duga, perkanalan yang selama ini sudah di nantikan, Perkenalan yang sangat di harapkan, Terima kasih semesta mempertemukan ku dengan "Semesta" yang aku harapkan, inginkan dan Ku nantikan. Hangat nya menyelimuti diriku dari din...
