Chapter 47

1.5K 185 13
                                        


Hari persidangan tiba

Ruang sidang terasa hening namun penuh tekanan. Para wartawan sudah berkumpul di luar, mencoba mengabadikan momen persidangan seorang ayah yang menyiksa anaknya sendiri demi ambisi pribadi. Isu ini telah menjadi viral. Kasus kekerasan terhadap anak perempuan yang berujung pada percobaan bunuh diri — dan pelakunya adalah orang tua kandungnya sendiri.

Di bangku saksi, Manda duduk dengan tubuh masih lemah dan perban masih melilit pergelangan tangannya. Tapi di matanya, ada keberanian baru. Di belakangnya duduk  Raisha beserta kedua orang tuanya, Ashel, Freya, Jessi ,Chika, Zee, Onel, dan Aldo. Daddy dan Mommy Marsha duduk di barisan paling depan, mendampingi Marsha yang duduk di samping Manda.

Di sisi seberang, Tio duduk dengan wajah menunduk, didampingi kuasa hukum. Tapi sorot matanya tak bisa menutupi ketakutan yang makin nyata.

"Sidang hari ini dibuka," suara hakim menggema.

"Jaksa silakan hadirkan saksi pertama."

Jaksa berdiri, "Kami menghadirkan saksi selaku atasan terdakwa, dan dari pihak yang bersangkutan atas insiden, yakni Tn.Deri Bramantyo"

Daddy Marsha (Deri) naik ke kursi saksi. Wajahnya tegas, matanya tajam.

"Saya Deri, atasan dari terdakwa. Saya mengakui bahwa saya pernah menitipkan anak saya, Marsha, untuk ditemani oleh Manda karena saya melihat Manda anak yang baik dan bisa menjadi pengaruh positif, apalagi saat itu anak saya baru pindah dari Jepang. Tapi saya tidak pernah meminta atau menyuruh terdakwa melakukan kekerasan atau tekanan terhadap anaknya sendiri. Bahkan saat saya dihubungi oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan dan menjadi saksi tanpa berpikir panjang saya bersedia "

Bisik-bisik terdengar di ruang sidang. Sang hakim mengangguk.

"Kami memanggil saksi berikutnya, Jenderal Aditya Bagaskara."

Ruangan menjadi hening. Jenderal Adit melangkah mantap ke depan. Sosoknya yang berwibawa membuat semua langsung memperhatikan. Ia memaparkan seluruh temuan dan bukti-bukti kekerasan dari CCTV, rekaman audio, hingga hasil visum Manda.

"Seorang ayah yang baik melindungi, bukan melukai. Dan menurut saya, tindakan terdakwa lebih layak disebut pelanggaran hak asasi manusia. Sebagai aparat negara dan sebagai ayah dari seorang anak perempuan, saya tidak bisa menerima perlakuan ini," ujar Adit dengan nada yang menekan.

Ashel yang melihat Daddynya didepan tentu saja merasa bangga dan terharu, dia sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti kedua orang tuanya saat ini, yang tidak pernah menekan dan selalau mendukung keputusan dia selama itu baik.

Lalu, saat hakim meminta saksi selanjutnya pada sidang hari ini, Manda bangkit dari kursinya. Semua mata tertuju padanya.

Dengan suara gemetar tapi tegas, ia berkata:

"Saya... tidak pernah membenci Ayah saya. Tapi saya juga tidak akan memaafkan kekerasan yang saya alami. Saya berdarah karena orang yang seharusnya melindungi saya. Saya terluka bukan cuma di badan, tapi di hati. Dan saya ingin berdiri di sini... bukan sebagai korban, tapi sebagai saksi bahwa anak perempuan juga berhak didengar... didengar sebelum semuanya terlambat."

Air mata mengalir dari banyak mata. Marsha memeluk erat tangan Mommy-nya. Raisha menunduk, menahan tangis. Ashel menggigit bibirnya. Chika menggengam erat tangan suaminya menahan kesedihan.

Hakim memandang semua dengan mata yang berat. "Sidang akan dilanjutkan minggu depan dengan pembacaan tuntutan dan vonis. Sidang ditutup."


RAPSODITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang