Chapter 50

1.3K 183 22
                                        


[Pagi Hari – Apartemen]

Aroma roti panggang dan kopi hangat menguar lembut dari dapur kecil apartemen mereka. Di meja makan yang sederhana namun nyaman, Chika duduk sambil mengaduk-aduk oatmeal-nya tanpa benar-benar berniat menyendok.

Zee muncul dari kamar dengan kemeja biru muda yang rapi, rambutnya sudah disisir ke belakang, dan wajahnya memancarkan semangat baru. Tapi langkahnya melambat saat melihat raut Chika yang tak seceria biasanya.

"Sayang, kamu kenapa? Dari tadi cuma ngaduk oatmeal doang, kayak lagi ngobrol sama dia."

Chika tersenyum kecil, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kecemasan. "Aku nggak tahu, Mas. Rasanya... aneh aja. Kayak hari ini bakal ada sesuatu yang nggak aku suka."

Zee menarik kursi dan duduk di hadapannya. Ia menggenggam tangan Chika yang dingin, mengusapnya pelan.

"Kamu mimpi buruk tadi malam?"

Chika menggeleng. "Enggak. Tidurku nyenyak, apalagi di pelukan kamu." Ia mencoba bercanda, tapi nada suaranya tetap mengambang, seperti ada beban yang belum bisa ia jelaskan.

Zee menatapnya serius, matanya mencari jawaban di wajah wanita yang kini jadi istrinya itu. "Dengar, sayang... Aku tahu kamu peka sama perasaan sendiri. Tapi kadang, rasa nggak enak itu cuma datang karena kita masuk ke fase baru. Otak kita menolak perubahan, jadi hati kita merasa nggak nyaman."

Chika mengangguk pelan, meski hatinya masih gelisah. "Iya, mungkin juga karena hari ini pertama kalinya kamu nggak pakai seragam sekolah lagi, dan akan memegang tangung jawab yang lebih besar"

Zee tersenyum. "Aku juga gugup kok. Ini bukan dunia yang aku kenal sepenuhnya. Tapi aku mau belajar. Karena ini tanggung jawabku, dan karena aku pengin kamu bangga."

Chika menghela napas, lalu berdiri dan memeluk Zee dari belakang. "Aku udah bangga sejak lama, Mas. Aku cuma... takut kamu terlalu capek, terlalu terbebani, apalagi nanti kalau kuliahnya udah aktif. Dan aku juga takut nggak bisa selalu ada setiap waktu."

Zee bangkit dan membalikkan badan, kini menghadapnya. Ia mengangkat dagu Chika pelan, menatap mata yang begitu ia cintai itu. "Kamu ada. Bahkan saat kamu nggak di sampingku, kamu tetap ada di sini." Ia menempelkan tangan Chika ke dadanya. "Di sini."

Chika tertawa kecil, sedikit lega. "Ih, kayak adegan film romantis."

"Aku memang genre," balas Zee cepat, membuat Chika kembali tertawa kecil—tawa yang menenangkan segalanya.

Setelah sarapan selesai, Zee mengantar Chika hingga ke pintu apartemen karena hari ini Chika ingin berangkat menyetir mobil sendiri, mengecup keningnya lama seolah ingin memastikan semua akan tetap baik.

"Mas..."

"Hmm?"

"Apapun yang terjadi hari ini... kamu tetap hati aku, ya?"

Zee menatapnya dalam, lalu mengangguk. "Dan kamu tetap rumah aku. Selalu."


[Dikampus Chika]

Suara denting alat medis, langkah kaki para calon dokter muda, dan aroma khas antiseptik memenuhi ruangan. Chika berdiri di dekat tempat tidur pasien, mengenakan jas putih dan masker medis, sedang mencatat hasil observasi sambil mendengarkan instruksi dari dosen pembimbing.

Tapi pikirannya seperti tidak di sana.

Berkali-kali ia melirik jam tangan, berharap waktu bergerak lebih cepat. Atau... entah, mungkin ia hanya butuh alasan untuk menghubungi Zee, memastikan semuanya baik-baik saja.

RAPSODITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang