Chapter 48

1.4K 188 9
                                        

[Keesokan Paginya – Rumah Keluarga Zee]

Matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai kamar. Aroma harum roti panggang dan susu hangat tercium dari dapur. Chika perlahan membuka mata, masih dalam pelukan Zee yang tertidur nyenyak.

Chika tersenyum kecil. Ia menatap wajah suaminya, menyibak sedikit rambutnya yang jatuh ke dahi. "Mas Zee..." bisiknya pelan sambil mengelus pipi suaminya.

"Hmmm... udah pagi ya?" gumam Zee sambil membuka matanya setengah sadar. "Tapi pelukannya jangan dihentikan dulu dong..." ia meringkuk lebih erat.

Chika terkekeh pelan, "Mas... kita nginep di rumah mamah, jangan malu-maluin. Yuk mandi dulu... nanti diketok Kristy loh."

Yah semalam mereka menginap dirumah keluarga Zee karena lusa Zee akan wisuda disekolahnya jadi biar sekalian berangkat bareng nanti dengan keluarganya. Lalu mumpung hari ini hari libur, Chika tak kuliah dan Zee tidak bekerja jadi mereka memustuskan menginap dari semalam.

Zee akhirnya bangkit sambil mengusap wajahnya. "Oke... tapi abis ini aku yang mandiin kamu ya....."

"MAS!" seru Chika sambil melempar bantal ke arahnya.

Setelah membersihkan diri, mereka turun ke ruang makan. Di sana sudah ada Shani yang sedang menata sarapan, Kenzo yang membaca koran, dan Kristy yang sibuk mengaduk cokelat panasnya.

"Pagi semuanya," sapa Chika ceria.

"Wah... menantu mamah makin glowing habis bangun tidur yaa," goda Shani sambil tersenyum hangat.

"Mamahhh... jadi malu," Chika mencubit pelan lengan Zee.

"Pagi juga, kak! Duduk sini, kita udah siapin sarapan kesukaan kak Chika — roti isi telur dan susu madu hangat," ujar Kristy senang.

Zee duduk di sebelah Chika, menatap seluruh keluarganya dengan bahagia. "Gini nih... momen yang bikin hati adem."

Kenzo menurunkan koran. "Kalian ada rencana hari ini?"

"Hm... kayaknya kita mau istirahat aja dulu, yah. Mungkin sorenya jalan-jalan deket sini. Atau nemenin mamah ke supermarket, kalau perlu bantuan," jawab Zee.

"Boleh banget itu! Sekalian bantu mamah pilih sayuran, biar gak salah kayak waktu itu..." ujar Shani sambil melirik tajam ke arah Kenzo.

"Eh... itu mah papah bukan salah... cuma beda merk doang," elak Kenzo membuat semua tertawa.

Suasana pagi itu terasa hangat. Chika merasa seperti berada di rumah impiannya — dikelilingi kasih sayang, canda tawa, dan ketenangan. Suasana yang sangat dia rindukan saat orang tuanya masih bersamanya.

Beberapa saat mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Sampai akhirnya Shani membuka pembicaraan:

"Ngomong-ngomong... gimana kabarnya adek kelas kamu sekarang, Zee? Mamah sempat lihat di berita dan diceritain Gracia... sidangnya cukup berat ya kemarin itu?"

Zee dan Chika saling pandang sebentar, lalu Chika menjawab lembut, "Manda lagi pelan-pelan pulih, Mah... dia sekarang tinggal dengan Raisha, orang tuanya sudah mengadopsi Manda menjadi anaknya. Secara mental, masih naik turun. Tapi dia kuat... lebih kuat dari yang kami kira."

Kenzo mengangguk pelan, "Ayahnya itu... sungguh keterlaluan. Tapi Papah salut sama Manda. Anak sekuat itu, yang bisa berdiri di ruang sidang dan bersuara... dia pasti hebat."

Di tengah obrolan serius itu, Kristy menyelipkan pertanyaan iseng.
"Kak Chika... kalau nanti punya baby, maunya cowok apa cewek?"

Chika dan Zee saling pandang, lalu tertawa bersama.

RAPSODITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang