Chapter 49

1.4K 170 5
                                        

[Sore Hari – Danau Kenangan]

Danau itu masih sama. Tenang, jernih, dikelilingi pepohonan rindang yang seolah tak pernah menua. Angin sore membelai permukaan air, menciptakan riak-riak halus yang berkilau keemasan diterpa cahaya matahari senja.

Zee dan Chika tiba di sana setelah wisuda, menghindari hiruk-pikuk pesta dan keramaian. Mereka memilih datang ke tempat yang menjadi saksi cinta tulus seorang Zee untuk Chika — tempat di mana segalanya dimulai bukan dengan kata cinta, tapi dengan kehadiran yang tak pergi saat dunia terasa runtuh.

Zee memarkir motornya di bawah pohon besar. Ia menoleh ke arah Chika yang baru saja turun, masih dalam balutan dress pastel dan senyum tipis yang menyimpan banyak kenangan.

"Kamu masih inget danau ini?" tanya Zee pelan sambil menggenggam tangan Chika.

Chika mengangguk pelan, matanya menerawang menatap permukaan danau yang berkilau keemasan diterpa cahaya senja. Angin lembut meniup anak rambutnya yang terurai.

"Tentu," gumamnya, suara lirih tapi penuh arti. "Waktu itu Mas ajak aku ke sini buat hibur aku... setelah aku nyaksiin sendiri live perselingkuhan yang dilakuin cowok sok keren itu."

Ia tersenyum kecil—bukan karena lucu, tapi karena luka lama itu kini terasa jauh, tertutup oleh hangatnya kisah baru yang ia jalani bersama Zee.

Zee tersenyum mengenang. "Aku gak tahu harus gimana waktu itu. Aku cuma pengin kamu jauh dari tempat yang bikin kamu sakit. Dan danau ini... satu-satunya tempat yang aku rasa cukup damai buat nenangin kamu."

"Ternyata kamu bener," ucapnya pelan, bibirnya melengkung tipis. "Danau ini nenangin. Tapi waktu itu... sebenernya kamu yang lebih nenangin dari semuanya."

Zee terdiam sejenak, menatap balik gadis di sampingnya dengan senyum terbaiknya—senyum yang hanya dia berikan untuk wanita di depannya ini. Senyum yang menyimpan rasa syukur, harapan, dan cinta yang tak pernah berkurang sedikit pun sejak hari pertama mereka bertemu.

"Aku cuma pengen kamu tahu," bisik Zee lembut, suaranya hampir tenggelam dalam semilir angin senja, "waktu itu, dan sampai sekarang, aku selalu pengen jadi tempat kamu pulang. Tanpa syarat, tanpa pamrih."

Chika menahan napasnya sesaat. Kata-kata itu menembus jauh ke relung hatinya. Ia tak menjawab langsung, hanya menatap danau yang kini memantulkan cahaya jingga yang indah, seolah ikut merestui perasaan mereka.

"Kalau suatu saat kita kembali ke sini, artinya kita masih saling percaya," ucap Zee, suaranya tenang namun penuh makna.

Chika menoleh padanya, ada air bening yang menggantung di sudut matanya—bukan karena sedih, tapi karena terlalu bahagia mendengar kalimat sederhana yang mengandung janji dalam diam. Ia tahu, kepercayaan bukan hal yang bisa dibeli, tapi dibangun, dijaga, dan dirawat. Dan bersama Zee, ia ingin terus menjaganya.

"Kita pasti bakal balik ke sini lagi, Mas," gumam Chika sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zee. "Bahkan kalau pun dunia berubah, aku ingin tempat ini tetap jadi milik kita."

Langit berubah oranye keunguan. Di atas danau, bayangan mereka berdua terpantul samar — dua siluet yang pernah terluka, tapi kini saling menyembuhkan.Mereka duduk bersisian, saling bersandar, menatap masa depan yang belum pasti — tapi kali ini, mereka tak takut.

Karena tempat itu, danau itu, telah menjadi saksi bahwa dari luka yang dalam, bisa tumbuh cinta yang paling tulus.




[Malam hari-Apartement]

Lampu kamar remang, hanya nyala lampu tidur yang memberi cahaya lembut di sudut ruangan. Udara malam terasa hangat, ditambah selimut tipis yang membalut tubuh dua insan yang tengah berbaring berdampingan di atas kasur.

Chika menatap layar ponselnya sambil tersenyum kecil, jempolnya sesekali menggeser layar. "Lihat deh, mas... foto kita yang aku upload tadi langsung rame. Komennya lucu-lucu."

Zee melirik malas dari balik guling yang ia peluk. "Rame apaan? Pasti pada bilang, 'Wah, cowoknya mirip aktor Korea', gitu ya?"

Chika tertawa pelan, menoleh ke arahnya. "Nggak juga. Banyak yang bilang,Couple goal ', terus ada yang komen, bau duitnya nembus layar '', dan satu ini paling bikin aku ngakak... 'Zee tuh bukan cowok, dia genre'."

Anngep aja mereka berdua yaa gess wkwkw

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anngep aja mereka berdua yaa gess wkwkw

Zee tertawa geli, lalu menarik Chika ke pelukannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zee tertawa geli, lalu menarik Chika ke pelukannya. "Mereka nggak salah sih. Aku memang genre buat kamu."

"Ih, pede banget!" Chika mencubit pelan perut Zee, tapi tetap bersandar manja di dadanya. Lalu setelah hening beberapa detik, ia bergumam, "Mas, kamu udah fix ambil jurusan bisnis, ya?"

Zee mengangguk pelan, matanya menatap langit-langit. "Iya... aku mau belajar lebih dalam lagi, biar nanti kalau Papah udah bener-bener nyerahin perusahaannya 100%, aku udah dalam persiapan yang matang."

Chika menoleh, matanya memandangi wajah pria yang kini jadi pusat dunianya. "Kamu nggak takut, Mas? Tanggung jawabnya akan lebih gede banget loh."

Zee menghela napas, lalu menggenggam tangan Chika. "Takut pasti ada. Tapi aku nggak mau lari. Perusahaan itu udah berdiri puluhan tahun, dibangun dari nol sama Opah aku lalu dikembangkan dengan sangat baik sama papah. Dan... aku pengen bikin mereka bangga. Pengen buktiin kalau aku bisa nerusin semua itu tanpa ngerusak apa yang udah di bangun."

Chika tersenyum, lalu meletakkan kepalanya di dada Zee. "Kamu nggak sendirian, Mas. Aku tahu kamu bisa. Dan aku akan nemenin kamu. Dalam proses, dalam jatuh-bangunnya, dalam semua langkah yang kamu ambil."

Zee memejamkan mata, menghirup aroma rambut Chika yang familiar. "Kamu nggak tahu betapa bersyukurnya aku punya kamu."

"Aku tahu," Chika tersenyum kecil. "Karena aku juga bersyukur punya kamu."

Malam itu bukan hanya tentang rencana masa depan atau tanggung jawab besar yang menanti. Tapi juga tentang ketenangan yang hanya bisa ditemukan dalam pelukan orang yang membuat semua ketakutan terasa lebih ringan.






segini dulu manteman kapan-kapan lagii yaaa😁

selamat membaca jaga kesehatan yahh kalian🥰

see you👍🏻👋🏻

RAPSODITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang