Chapter 51

1.9K 221 17
                                        

[Beberapa Saat Kemudian – Apartemen Zee & Chika]

Ponsel Chika bergetar di atas meja. Ia baru selesai memasak makanan kesukaan Zee sesuai janjinya, mengenakan kaos oversized dan celana pendek. Dengan girang ia meraih ponsel, mengira itu notifikasi dari sang suami.

Tapi wajahnya langsung berubah pucat saat membaca nama pengirim: Gito
Isi pesannya berhasil menghantam jantungnya seperti palu godam.

Tapi wajahnya langsung berubah pucat saat membaca nama pengirim: GitoIsi pesannya berhasil menghantam jantungnya seperti palu godam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ponsel nyaris terjatuh dari tangannya.
"Nggak... nggak mungkin..." bibirnya gemetar.

Dengan tangan yang tak bisa berhenti gemetar, Chika langsung meraih kunci, dompet, dan jaket. Ia nyaris tak bisa berpikir, air matanya sudah tumpah bahkan sebelum keluar pintu.


[Rumah Sakit – IGD, 30 Menit Kemudian]

Chika berlari masuk ke IGD dengan napas tersengal, matanya liar mencari. Di ruang tunggu, Gito berdiri terlihat cemas dan khawatir.

Begitu melihat Chika, Gito langsung menghampiri
"Kak Chika..."

Tapi Chika tak menghiraukannya.
"Zee di mana?! ZEE DI MANA?!" suaranya nyaris histeris.

"Dia lagi ditangani di dalam. Dokter bilang dia banyak luka, benturan keras di kepala... tapi dia masih sempat sadar waktu kami datang"

Chika menutup mulut dengan kedua tangannya. Kakinya lemas, tubuhnya bergetar hebat. Gito yang berdiri didekatnya segera menangkapnya sebelum ia jatuh.

"Kak... kita harus banyak berdo'a. Dia kuat. Zee pasti kuat."

Air mata Chika tumpah semakin deras.
"Dia janji pulang cepat... dia janji bakal selalu pulang..."


[IGD – Beberapa Saat Setelah Pemeriksaan Awal]

Chika berdiri mematung di sudut lorong. Cahaya putih dari lampu rumah sakit terasa menyilaukan, tapi yang ia rasakan justru gelap—seolah langit runtuh perlahan.

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan darurat, membuka masker, lalu menghampiri mereka yang sedang menunggu dengan cemas. Suaranya tenang, tapi datar. Terlalu datar untuk kabar yang menyangkut hidup dan mati.

Dokter:"Kami harus melakukan CT-Scan untuk memastikan, karena kami curiga ada gumpalan darah di dalam rongga kepala. Itu yang membuat kondisinya terus menurun."

Chika menatapnya, wajahnya pucat. Ia tahu istilah itu. Ia tahu betul maksudnya.

"Itu artinya...?"ujar Chika lirih

Dokter menatap mata Chika, lalu mengangguk pelan.

"Kalau benar ada hematoma intrakranial, pasien harus segera dioperasi. Jika tidak, tekanan di dalam otaknya bisa meningkat cepat... dan membahayakan nyawanya."jelas dokter

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RAPSODITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang