Dalam Hening Duka Menyapa

86 3 2
                                        

Baru nyadar cerita ini pertama kali dibuat tahun 2021 yang artinya 4 tahun yang lalu.
Aku merasa berdosa banget, maaf yaaa
Kalau dari kalian ada yang ngikutin dari lama plis absen, i want to have a chat with u.

Selamat Membaca~

Ketika iseng-iseng dicasting oleh tamu studio tato yang datang dari Jakarta, Fikran tak menyangka ia akan jadi pemeran utama. Rupanya tamunya seorang produser yang sedang membuat film punk seperti Radit dan Jani.

Seumur hidupnya, Fikran tak pernah sekali pun bermimpi jadi bintang film. Meski sejak dulu tak sedikit yang memuji tampilannya tapi pekerjaan semacam ini tetap jauh dari karakternya yang dulu--urakan dan tak mau diatur.

Waktu dan tragedi adalah kombo paling ampuh untuk mengubah karakter manusia. Tapi dalam kehidupan manusia yang segalanya serbaberubah ada pula hal-hal yang tetap bersemayam dalam diri manusia dan menolak perubahan. Untuk Fikran sendiri hal itu adalah Sabrina Bartolomeo.

Fikran bisa saja bercinta tanpa cinta atau mencintai tanpa bercinta. Dua-duanya tak dilakukannya. Dalam kehidupan yang ia jalani, ia hanya kenal satu rumus tentang cinta: mati untuk cinta atau cinta untuk mati. Sekarang, dalam praktiknya, Fikran menjalani yang kedua. Cinta untuk mati. Fikran ingin mencoba mencintai lagi agar mati tanpa penyesalan.

Maka, untuk mencapai itu Fikran perlu malakukan satu hal: mengubur cinta masa lalunya. Sebab ia tak bisa terus-terusan menggantung gadis Bali yang sudah dekat dengannya hampir setengah tahun ini.

Beberapa usaha sudah Fikran lakukan untuk berkontak kembali dengan masa lalunya, pertama-tama ia menghubungi sahabat karibnya yang mustahil tak terkoneksi dengannya. Kedua, Fikran mengontaknya sendiri lewat instagram.

Dua tahun bukan waktu yang cukup untuk melupakan wanita bernama Sabrina, bahkan sebelumnya lebih lama, 6 tahun!
Namun, demi kebaikan bersama, Fikran harus melepas Na. Fikran sadar diri, ia tidak cukup baik untuk wanita itu.

Kembali dari Argentina Fikran membawa rasa lega. Ayahnya ternyata sudah meninggal lama, ia merasa tak perlu repot lagi memendam benci pada orang yang sudah wafat. Hal ini perlu disyukuri, sebab sebelum mengetahui fakta ini, Fikran dipenuhi amarah membayangkan ayahnya hidup bahagia dengan keluarganya di Argentina sementara dirinya hidup luntang-lantung di Indonesia.

Di Argentina Fikran bertemu dengan Tío (sebutan Paman dalam Bahasa Argentina) yang katanya berumur empat tahun lebih muda dari ayahnya. Tío mengaku berusia 47, berarti jika ayahnya masih hidup maka dia berumur 51 tahun tahun ini. Tapi sekali lagi Fikran bersyukur ayahnya telah pergi. Meski ada bagian dalam dirinya merasa tidak rela, bahwa sampai ayahnya mati eksistensi dirinya tak pernah diketahui.

Sedikit kelegaan hinggap pada Fikran setelah Tío memberitahunya tentang satu hal, tentunya dalam Bahasa Argentina yang diterjemahkan ponsel Fikran secara otomatis dengan cara merekam suara: "Sebelum Padremu meninggal, Padre menitip cincin kawin ini untuk ibumu. Bila saja Alma tak kembali Padremu pasti akan mengawini ibumu di Indonesia, apalagi bila mendengar soal berita kehamilan ibumu. Tío yakin, dia tak akan mengabaikanmu. Tapi, nak, cinta pertama tak gampang dilupakan. Maafkan Padremu karena lebih memilih Alma dari pada ibumu."
Fikran mendengarkan suara yang keluar dari ponsel pintarnya dengan cermat.

Dalam keheningan luka pelan-pelan menyapa. Hal itu dirasakan pula oleh Tío. Keponakannya begitu malang. Dua minggu di rumah Tío cukup bagi Fikran, untuk mengenal ayahnya sambil sedikit menenangkan pikiran yang berantakan. Mengenal asal usul orang tuanya tak membuat Fikran lupa akan luka baru yang merenggut harapannya. Harapan untuk segera memiliki keluarga.

Maka, dengan kesadaran penuh Fikran mengganti nomor ponsel dan menghapus semua sosial media yang ia miliki. Di usia 24 tahun Fikran baru memulai hidupnya. Dengan identitas baru sebagai anak dari ibu dan ayah yang jelas.

Ibunya orang Jawa dan ayahnya orang Argentina yang melancong ke Nusantara karena tuntutan pekerjaan dan jatuh cinta dengan gadis lokal. Tidak ada Padre, Fikran akan menyebut ayahnya Bapak. Bapak Esteban Benicio. Kini, ia menjadikan nama Benicio sebagai nama usaha pembuatan tatonya yang ia bangun satu tahun setelah kepulangannya dari Argentina.

Dalam satu tahun konsistensinya membuahkan hasil, instagram bisnis tatonya mendapat puluhan ribu followers dengan testimoni dari banyak public figure di Bali.

Hidup ternyata lebih ringan setelah Fikran mengetahui asal usulnya, kini tak ada lagi amarah ataupun dendam yang bersemayam. Tak ada alasan untuk tetap muram.

Fikran siap menyambut kehidupan baru di pulau Dewata bersama Prita.

Namun, pertama-tama Fikran harus mengakhiri masa lalunya. Mengambil hatinya dari Sabrina untuk diberikan kepada Prita.

Sementara Fikran bersiap menyongsong masa depan, Sabrina membawanya pada penyesalan--Wulan.

_____________Bersambung_____________

17 Juni 2025

Cerita ini akan kuusahakan tamat tahun ini. Meski pembacanya udah kabur, tapi ini utang yang harus aku bayar lunas.

Sad how the reader gone but it is all my fault.

Terima kasih yang udah baca.
Please leave me your vote.
Thank you!

SoulhateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang