Menghindar atau Project Film

77 3 0
                                        

Aku memandangi DM yang sudah 3 hari tak kunjung kubalas.

Aku akan ada di Jakarta minggu depan, bisa kita ketemu, Na?

Sudah tiga hari juga aku menimbang-nimbang, apakah aku harus keluar dari project ini atau tetap nekat melanjutkannya meski tau aku harus berhadapan dengan orang yang kubenci?

Pintu kamarku diketok.

"Na, boleh masuk gak gue?" tanya Maisha yang cuma basa-basi.

Dia masuk sebelum dapat izin dariku.

"Apaan?!" jawabku ketus.

"Yaelah galak amat sih, Masih marah ya?" Mai duduk sambil menggoyangkan kakiku dengan cara yang nyebelin.

"Ck! Menurut lu aja." 

"Maafin guelah, gue tadinya kepengin kalian rujuk. Tapi ya udah kalau lu emang udah fiks gak mau lagi sama dia dan masih dendam. Gue juga gak akan maksa kali. Masalahnya selama ini gue lihat lu kayak masih gagal move on, Na..." ucap Mai dengan nada yang lebih dewasa dibanding celotehan sebelumnya. "...Selain itu, gue merasa dia juga harus tahu soal Wulan." terusnya dengan ragu.

Aku seketika bangun dari posisi rebah. "Maisha, lu temennya siapa sih?"

"Temen lu, tapi gue merasa dia setidaknya berhak tahu."

"Lu pikir gue gak capek nyari cara buat ngasih tahu dia soal Wulan? Dari pas gue hamil juga gue udah berusaha. Tapi dia menghilang tanpa jejak seolah gak mau ditemuin siapa-siapa! Terus sekarang salah gue kalau gue gak ngasih tau soal anak dia yang gak mampu gue besarin sendiri? Gitu?!" ucapku murka, aku bisa merasakan darah dalam tubuhku memanas.

Tak lama setelah meneriaki Maisha, aku kembali ke posisi tidur sambil menyelimuti seluruh tubuhku.

Mai terdiam cukup lama, sekitar 2-3 menit.

"Maaf, Na. Gue janji gak bakal bahas ini lagi sama lu." ucap Mai sebelum akhirnya beranjak dari kamarku.

Bersamaan dengan itu, air mataku luruh. Rasanya sesak sama seperti hari-hari dimana aku menangisi nasib anakku yang sial karena harus terlahir dari orang tua pendosa seperti aku, seperti dia.

______________________

Pukul 16.00 Farel mengajakku bertemu di sebuah cafe tak jauh dari kontrakanku. Dia bilang ada yang harus dibicarakan. Maka 10 menit sebelum pukul 16.00 aku sudah berada di cafe yang sudah dijanjikan. Kupikir ini soal pekerjaan jadi aku harus on-time demi profesionalisme.

16.35 Farel gak kunjung tiba, sedangkan baterai HP-ku sudah low. Aku mengeluarkan powerbank majapahitku yang aku hak milik dari Bang Firza sejak SMA.

5 menit kemudian aku melihat mobil Farel baru saja sampai di halaman cafe. Aku memerhatikan mobilnya bersiap memberi tatapan sinis padanya karena sudah telat setengah jam.

Tapi aku bahkan gak mampu memberikan tatapan sinis ketika seorang pria yang kukenal keluar dari kursi penumpang bersama Rahma--asisten sutradara pertama.

Otot-ototku menegang, tenggorokanku mengering tiba-tiba, aku terpaku untuk beberapa detik. Kemudian dapat kurasakan dadaku memanas seolah darahku berkumpul disana semua.

Sebelum mereka masuk dan menyadari keberadaanku, untungnya aku segera sadar dan melarikan diri ke toilet.

Aku pun segera mengirimkan pesan pada Farel.

Lu berengsek banget.

Aku menangis dengan tangan bergetar memegang ponsel. Aku gak menyangka akan bertemu dia secepat ini. Aku gak siap. Sa-ma se-ka-li!

Lu dimana? Sorry gue gak bilang dulu, gue cuma gak mau nanti jadi canggung.

LU HARUSNYA BILANG DULU!

Iya, gue salah. Tapi lu gak mau nyamperin sama sekali emang?

Gue balik.

Powerbank lu ketinggalan, Fikran tadi sempat nanya punya siapa. Gue bilang sekarang jangan soal lu?

Jangan, gue kayaknya mau mundur.

Okelah. Kabarin kalau udah fiks. Hati-hati baliknya.

Aku masih gemetar di toilet. Dia harusnya familiar sama powerbank itu. Tapi mungkin juga enggak.
Setelah bercermin, aku keluar dari toilet dan meninggalkan cafe lewat pintu belakang yang lebih dekat dengan toilet. Syukur aku sudah sering kesini dan syukur juga cafe ini punya dua pintu akses.

Setelah keluar dan berjalan sekitar 300 meter dari cafe. Aku memesan ojek online dan pulang ke rumah. Namun di perjalanan, aku mendapat notifikasi instagram.

Aku udah di Jakarta, Na. Tolong kabari aku.

____________Bersambung_____________

Halo, pembacaku!
Happy New Year & Selamat Imlek.

Semoga hari kalian baik terus.

Jangan lupa vote dan komen yaaa.
Gue udah stok bab selanjutnya lho!!!

Love you all...

Denpasar, 30 Januari 2025.

SoulhateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang