Bad Parents

77 3 2
                                        

Sabrina hanya bisa mengekori Fikran. Ia heran, sebelum bertemu dengan laki-laki di depannya ini, Sabrina benar-benar merasa membenci dan menyalahkan Fikran atas kejadian yang menimpa dirinya. Tapi, kini, setelah ia melihat ekspresi dan mata penuh kesedihan itu, Sabrina entah kenapa merasa bersalah.

Setelah masuk ke sebuah penginapan menengah yang Fikran sewa untuk beberapa hari ke depan, Fikran bergegas masuk ke kamar mandi. Membasuh mukanya berkali-kali, meninggalkan Sabrina yang termangu di kamar inapnya.

Fikran tahu hal ini lebih menyakitkan untuk Sabrina, tapi ia tak bisa bohong pada dirinya sendiri bahwa kini ia merasa kecewa sekaligus marah. Pada Sabrina dan yang paling besar adalah pada dirinya sendiri.

Fikran mengingat bagaimana ia mengabaikan tiap intuisi yang semesta berikan padanya untuk kembali pada Sabrina. Betapa bodoh dirinya.

Membayangkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri membuat dadanya sesak sendiri.

Ia tak ada bedanya dengan ayahnya. Sama-sama menelantarkan anak.

Fikran keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Ia tak hanya membasuh muka, tapi juga mencoba membasuh pikiran-pikiran di kepalanya. Selain ekspresi tak berdaya, Sabrina melihat kebiruan di pipi kanan Fikran. Pria itu seperti baru dipukul.

"Apa kabar kamu?" tanya Fikran.

Sabrina bergeming.

"Aku... baik."

Keadaan kembali hening seperti menit-menit sebelumnya yang terjadi di mobil.

"Dia laki-laki atau.." Fikran tak bisa menyelesaikan kalimatnya, suaranya bergetar. Pertama kali dalam hidupnya, Sabrina melihat sosok Fikran yang selemah ini.

"Perempuan, namanya Wulan."

Tangis Fikran pecah, ia bersimpuh di hadapan Sabrina yang duduk di pinggir kasur. Wajahnya terbenam pada kaki Sabrina.

"Maaf, Na. Maafin aku. Maaf aku gak meninggalkan satu pun cara buat kamu hubungin aku. Aku egois, aku bangsat."

"Udah kak, please jangan begini."

"Aku pantas mati, manusia sampah kayak aku gak pantas dapat kesempatan hidup bahagia. Cuma bisa bawa sial. Bawa petaka buat hidup orang."

Sabrina menangkup wajah Fikran, mengarahkan mata laki-laki itu untuk menatapnya. Sabrina bisa bisa ikut menangis sama kencangnya jika terus terusan mendengar kalimat Fikran yang bernada frustrasi itu.

"Aku ngerti, Irza kan yang nyuruh kamu pergi. Please berhenti ngomong hal-hal gak jelas."

Fikran terdiam.
Benar, pria itu yang membuatnya pergi. Kenapa dirinya baru ingat? Sialan itu yang membuatnya tak bisa bertemu dengan putrinya.

Fikran menghapus air matanya, ia bangkit. Tenaganya seperti meningkat seketika. Dan pada saat itulah Sabrina mengenali Fikran. Fikran yang sama seperti yang dilihatnya sewaktu SMA.

"No! Stop! Berhenti di situ!" gertak Na. "You are grown-up man, right? Ngehajar dia gak kan bikin Wulan kembali."

Fikran tak peduli, ia melanjutkan langkahnya. Harus ada yang bertanggung jawab atas kejadian ini dan satu-satunya orang yang paling bersalah adalah manusia bangsat bernama Irza.

"Wulan pasti kecewa kalau tahu ayahnya tukang pukul."

Fikran membalikkan badannya, menatap Sabrina yang sedang manatapnya tajam. Namun kemudian Sabrina menghampiri Fikran, memeluk tubuh jangkung itu sambil menangis.

"Kita berdua orang tua yang buruk, Kak."

Fikran memejamkan mata, menahan untuk tidak terisak. Ia mengusap rambut Sabrina.

"Aku, Na. Cuma aku. Kamu sudah kasih yang terbaik. Aku percaya itu."

Sabrina menggelengkan kepala di dada Fikran. "I was not."

"Sssttt."

Fikran mengangkat tubuh Sabrina. Membawanya ke ranjang, menidurkan Sabrina seperti balita.
Setengah jam kemudian Sabrina benar-benar terlelap.
Berapa lama perempuan ini berpura-pura kuat?

Hati Fikran terasa sedikit lebih tenang sekarang, ia tidak kehilangan peran untuk menenangkan Sabrina. Meskipun hal itu tak menutup fakta bahwa ia kehilangan perannya sebagai sosok ayah untuk anaknya.

Ketika rasa kantuk mulai menghinggapi Fikran, suara ketukan pintu kamar inapnya menghilangkan rasa kantuk itu.

Dengan hati-hati Fikran melepaskan pelukan Sabrina lalu turun dari ranjang untuk membuka pintu.

Seolah lupa dengan hidup yang ia jalani saat ini, Fikran terkejut melihat keberadaan Prita di hadapan kamar inapnya.

Prita, kekasihnya saat ini yang hatinya akan hancur sebentar lagi.

_____________Bersambung____________

Sebentar lagi tamat.

Makasih banget buat yang gak ragu ngasih vote.

Jangan lupa mampir ke cerita baruku: Debate String Theory.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SoulhateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang