Kehancuran Fikran

56 1 0
                                        

Ada sedikit flashback masa SMA karena ternyata aku kangen Na dan Fikran versi SMA.

Enjoy~

TOK TOK TOK

"Kak Fikran!" panggil Sabrina setengah berteriak.

Na berada di depan pintu kos Fikran bergantian antara mengetuk pintu dan mengintip jendela yang hanya terhalang kain vitrase yang biasa disebut juga gorden siang.

"Na gak sabaran banget sayang." ucap Fikran setelah pintu kos terbuka. Rupanya laki-laki itu habis mandi, bertelanjang dada dengan pundak  tersampir handuk basah yang kini dipakai menggosok rambut.

"Aku cuma takut kamu kenapa kenapa aja. Soalnya gak kedengaran suara air juga."

Fikran tersenyum tipis, "Hm gitu."

Sabrina duduk di pinggir kasur memerhatikan tubuh Fikran. Lelaki itu sedang membetulkan senar gitarnya yang putus.

"Ini luka apa?"

Fikran kaget dengan sentuhan tiba-tiba yang ia rasakan di bawah ketiaknya.

"Bukan luka, ini tanda lahir."

"Kenapa ditutupin tato?"

Sabrina betulan penasaran. Berkali-kali ia melihat tubuh telanjang pria itu tapi baru kali ini ia sadar tato Fikran menutupi sebuah tanda lahir.

"Jelek aja."

Sabrina hanya mengiyakan saja.

"Kalau semisal kita nikah. Ya entah kapan sih. Misalkan aja. Kakak mau ngundang siapa selain keluarga dari panti?"

"Temen-"

"Selain mereka." potong Na begitu saja.

Sabrina jelas tidak suka dengan teman-teman Fikran yang membawa pengaruh buruk itu.

"Gak tau sayang."

Sabrina tampak mengangguk-ngangguk sambil menimbang sesuatu dalam benaknya. "Kak Fikran gak penasaran sama keluarga kandung kakak?" tanya Na dengan keragu-raguan.

Fikran yang tadinya sibuk dengan gitarnya tiba-tiba memandang Sabrina. Ekspresinya datar, Na tak mampu membaca emosi Fikran tapi yang jelas tidak ada kemarahan di sana.

"Maaf ya." ungkap Fikran.

"Kok maaf kak?"

"Kamu gak bisa punya mertua kalau nikah sama aku." terang Fikran dengan pandangan kembali pada gitarnya.

"Ih gapapa sayang." Na mendekat pada Fikran, kepalanya menyender ke bahu telanjang Fikran, "Maksud aku gak ke situ tauuu."

"Tetap aja itu hal yang gak normal. Kamu pantas punya mertua yang menyambutmu dengan tangan terbu-"

"No!" seru Sabrina sambil memeluk erat tubuh bugar Fikran dari samping.
"Please jangan mulai ngomong soal hal-hal kayak gituuu. Aku gak suka dengernya. Yang penting kan kamunya. Lagian kalau ada juga belum tentu akur. Banyak kasus menantu gak akur sama mertuanya."

SoulhateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang