51. Love language

12K 1.5K 124
                                        

aku kangen bangettt, apa kabarr kalian semua disanaa 😭🥺

Happy Reading!
✦✦◌✦✦
🤎🐻

ㅤㅤ
 

"Aku tak menyangka anak kecil semanis Eve bisa berbuat sekejam ini." Jake berdiri berkacak pinggang, membelakangi pintu kamar Lou yang tertutup.

Tepat sekali, Jake terusir keluar dari kamar Lou setelah membuat Eve menangis.

Namun, yang menendangnya bukan si pemilik kamar, tapi si bocah bersurai silver itu sendiri.

"Apa yang kau lakukan disitu?"

"Oh, aku baru saja diusir." Jake menoleh, menjawab pertanyaan Lean yang baru saja datang.

"Oh, diusir. Ini juga bukan pertama kalinya, kan?" balas Lean tak heran, berjalan mendekat sembari merangkul bahu Lion.

Mendengar balasan santai itu, Jake langsung mendengus tak terima.

"Bukan Loulou, tapi Eve!" bantah Jake menunjuk pintu kamar Lou. "Sekarang Loulou tidak mungkin mengusirku. Secara kan, kami baru saja berbaikan." lanjutnya sombong, melupakan kejadian dirinya yang sempat diseret beberapa saat yang lalu.

Lean dan Lion berhenti tepat dihadapan Jake, saling melipat kedua tangan di dada menatap remaja itu dari atas sampai bawah dengan curiga.

Jake langsung mendelik. "Apa? Jangan menatapku seperti itu! Kami sekarang sudah berbaikan, Paman Levan sebagai saksinya!" semburnya tak santai.

"Papa sebagai saksi?" Lean sontak memegang kedua bahu Jake, menyipitkan mata mengintrogasi.

"Iya, kak!" Jake mendorong tangan Lean, mengusap-usap bahu seakan mengusir debu. "Kalau tidak bagaimana mungkin aku bisa menemui Loulou, jika aku bahkan tidak mengetahui sandi pintu kamarnya."

Lion yang mendengarnya ikut menautkan alis curiga. "Kan bisa langsung mengetuk pintu, kenapa harus sampai mengetahui sandi pintu kamar Loulou?"

"Itu untuk antisipasi, oke? Kalian kan tahu sendiri, jika Loulou tahu aku yang datang mana mau dia membukakan pintu."

Suara Jake sedikit memelan diakhir, ia menatap malas kedua orang menyebalkan dihadapannya saat ini. Yang kembali mengingatkan betapa Lou selama ini begitu memusuhinya.

Pandangan Lean seketika berubah datar. Dengan decakan, ia melangkah maju dan menarik pipi kiri Jake dengan kuat hingga membuat remaja itu meringis.

"Aduh! Kak! Apa-apaan ini?!" pekik Jake terkejut, segera menahan tangan Lean agar melepaskan pipinya.

Melihat sebelah sudut bibir Lean justru tertarik keatas, Jake dengan waspada langsung melangkah mundur bersembunyi di belakang Lion.

Kedua lengan berurat Lean dengan angkuh bersedekap, memandang Lion dan Jake secara bergantian. "Kalian beruntung karena hanya menerima cubitan, setelah aku berjanji pada Loulou untuk memberi kalian berdua pelajaran."

Jake langsung menunjuk pada Lion. "Bagaimana dengan kak Lion? Kakak juga harus mencubitnya!"

"Dia yang pertama kali kakak beri pelajaran." balas Lean ringan, yang membuat Jake tak langsung percaya.

Jake memperhatikan paras tampan Lion yang menampilkan raut dingin. Jika dilihat lebih teliti, di kedua pipi pemuda itu memang terdapat bekas kemerahan yang samar.

"Waw!" Jake mengacungkan jempol, tak menyangka jika Lean berhasil mencubit pipi seorang Lion.

Yang sangat anti seseorang menyentuh wajahnya, kecuali itu Lou.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LOUISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang