Suasana bukannya canggung, malah makin heboh setelah celetukan Nanggala barusan.
Khususnya Sangkara, cowok itu sampai memukul meja saking senangnya. Bahagia karena akan mendapatkan keponakan dari sepupunya itu.
"Berarti Nanggala junior lagi coming soon dong!" katanya sedikit berlebihan. Ia benar-benar terlihat bahagia sekaligus tidak percaya.
"Berisik, Sang. Meja kantin ini bukan drum," tegur Galang santai. "Kalau mau mukul, mukul dada sendiri aja. Biar kerasa dramanya."
"Masa, kurang greget gue," balas Sangkara. "Kalau mukul dada, ntar dikira sinetron penuh drama."
"Dua-duanya sama-sama lebay," seru Kiva ketus. Wajahnya jelas nggak suka sama tingkah laku teman Nanggala itu.
"Ngomongin orang kayak gitu emang lucu ya?" lanjut Kiva lagi.
"Ya, nggak juga tapi gue lagi bahagia," sahut Sangkara santai. "Gue bakal punya-"
"Keponakan imajiner?" potong Galang cepat. "Yang bahkan belum tentu nyata? Imajinasi lo udah level sutradara film."
Sangkara mendelik. "Lo iri karena belum punya keponakan."
Galang berdecak, "Gue bisa buat sendiri," celetuk Galang membuat Sangkara melotot tidak percaya.
"Kayaknya anak Galang bakalan lebih dulu coming soon deh dari anak Nanggala." ujar Sangkara santai, seolah apa yang dikatakan bukan hal besar.
Hera yang mendengar penuturan mereka, meringis kecil. Percakapan ini bikin kepalanya cenat-cenut. Ia melirik sekilas ke Nanggala, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
Di bawah meja sana, tangan Nanggala masih menyentuh pahanya. Hera menegang, lalu menggeser kakinya sedikit, berharap Nanggala peka.
Sayangnya, harapan itu sirna. Nanggala tidak akan pernah membuatnya tenang walaupun sedikit. Bisa bebas seperti sekarang saja ia sudah bersyukur.
"Yakin banget bakal kejadian," gumam Kiva sambil melirik Hera dan Nanggala bergantian. Tatapannya tajam, jelas menyimpan kekesalan.
"Eh, jangan remehin Nanggala kalau soal begituan," celetuk Galang. Seolah orang yang dibicarakan tidak ada didepannya.
"Apa yang Nanggala mau pasti tercapai," sambung Sangkara. "Anak orang kaya mah bebas,"
"Lah, lo juga anak orang kaya." ujar Galang.
"Bokap gue yang kaya bukan gue." sahut Sangkara tidak terima. Ia memang keturunan Adiwijaya tapi kalau boleh jujur Sangkara tidak semudah itu mengeluarkan uang.
Galang mendengus mendengarnya, "Anak tunggal orang kaya sedang berdrama." ucapnya.
"Gal, keponakan gue bulan depan udah ada ya," ujar Sangkara yang diangguki Nanggala.
Galang terkekeh di ikut Sangkara saat melihat respon Nanggala. Kiva justru makin manyun. Benar-benar tidak menyukai kedua cowok itu. Sama seperti Nanggala, ia juga tidak menyukainya.
"Lucu buat kalian, tapi nggak buat semua orang." ucap Kiva, kesal.
Nanggala hanya tersenyum tipis, seolah nggak merasa jadi pusat masalah. Tangannya masih bergerak kecil di bawah meja, membuat Hera refleks menahan napas. Gadis itu mendelik pelan, matanya memberi isyarat jelas untuk ia berhenti.
Nanggala terdiam sesaat, lalu akhirnya menarik tangannya. Hera menghembuskan napas lega, meski dadanya masih terasa degdegan.
"Kalian bahas yang masuk akal, bisa nggak sih?" potong Hera, suaranya halus tapi tegas. "Dari tadi topiknya aneh-aneh."
KAMU SEDANG MEMBACA
NANGGALA
RomanceDi jadohin sama cowok yang memiliki rumor gay padahal aslinya brutal. Hati Halera seperti dibuat ganjang- ganjing, saat berhadapan langsung dengan cowok gila, seperti Nanggala Putra Adiwijaya. *** Nanggala dengan segala rumor nya, keturunan Adiwija...
