Lampu kristal di ruang keluarga itu memantulkan cahaya kekuningan yang temaram. Malam turun perlahan, menyelimuti rumah megah milik keluarga Adiwijaya dengan kesunyian yang terasa menekan. Di luar, suara jangkrik bersahutan, seolah menjadi latar bagi kegelisahan yang tak terucap.
Ganesha duduk santai di sofa panjang, satu kakinya disilangkan di atas lutut. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya membentuk senyuman yang bagi Disa terasa asing. Terlalu tenang. Terlalu puas. Seolah rencana besar yang baru saja ia susun berjalan persis seperti yang diinginkan.
Berbeda dengan Ganesha, Disa tak bisa duduk dengan nyaman. Jari-jarinya saling meremas, sesekali ia bangkit lalu kembali duduk. Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh oleh bayangan putra sulungnya—Nanggala.
Sejak kecil, Nanggala bukan anak yang mudah diatur. Nanggala itu keras kepala, mudah tersulut emosi, dan memiliki sifat nekat yang sering kali membuat Disa tak bisa tidur nyenyak. Ia terlalu mencintai anaknya itu untuk berpura-pura tak melihat sisi gelap dalam diri Nanggala. Disa tahu, di balik sikap dingin dan wibawanya, Nanggala menyimpan api amarah yang jika meledak bisa melukai siapa pun terutama orang yang paling dekat dengannya.
Dan kini, orang terdekat itu adalah Halera.
Disa menelan ludah. Ada perasaan bersalah yang menggerogoti dadanya. Halera gadis baik. Terlalu baik untuk masuk ke dalam pusaran ambisi keluarga mereka. Gadis itu tak tahu bahwa pernikahannya bukan sekadar ikatan cinta, melainkan bagian dari perjanjian dingin dua kepala keluarga besar.
Helaan napas panjang lolos dari bibir Disa.
"Pa... Mama takut Nanggala berbuat macam-macam sama Halera." Suara Disa terdengar lirih, namun sarat kecemasan.
Ganesha yang sejak tadi memandangi layar ponselnya akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tenang, nyaris tanpa emosi.
"Berbuat macam-macam seperti apa yang Mama maksud?" tanyanya, datar.
Disa menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengucapkan ketakutan terbesarnya.
"Nanggala itu... emosinya susah ditebak, Pa. Dia bisa bertindak di luar nalar kalau merasa terpojok atau dikhianati. Mama cuma takut... Halera yang jadi sasaran."
"Putra kamu nggak sebodoh itu sampai mencelakai istrinya sendiri," jawab Ganesha ringan, seolah hal itu mustahil terjadi.
"Tenang saja. Papa sudah menyiapkan semuanya kalau suatu saat Nanggala benar-benar bertindak di luar kendali."
Ucapan itu membuat Disa menghela nafas lelah. Apa lagi kali ini? Apa Ganesha tidak puas melihat anaknya menderita.
"Papa sudah terlanjur berjanji pada Wiratama untuk membebaskan putrinya dari jeratan putra kita, Wira butuh penerus begitu juga Papa," lanjut Ganesha. Nada suaranya dingin, seolah membicarakan transaksi bisnis, bukan nasib dua manusia.
Nama Wiratama membuat Disa semakin berdecak. Sahabat suaminya itu juga bukan orang sembarangan. Disa tahu itu.
"Jadi sejak awal anak-anak memang cuma alat?"
"Ini demi masa depan mereka," jawab Ganesha singkat. Tidak ingin istrinya berpikir macam-macam.
Disa menggeleng pelan. "Tapi Mama rasa rencana Papa keterlaluan. Nanggala dan Halera sudah menikah. Mereka sah di mata hukum dan agama. Memisahkan mereka begitu saja... Mama rasa ini terlalu kejam."
"Keputusan besar memang tak pernah terasa manis," sahut Ganesha. "Gala sudah menerima ini."
"Papa yakin dia menerima?" Disa menatap suaminya tajam. "Atau dia terpaksa menerima karena Papa yang memaksa?"
Ganesha terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, namun ia tetap mempertahankan nada tenangnya.
"Nanggala tahu posisinya sebagai pewaris keluarga. Dia tahu apa yang harus dia korbankan."
KAMU SEDANG MEMBACA
NANGGALA
RomanceDi jadohin sama cowok yang memiliki rumor gay padahal aslinya brutal. Hati Halera seperti dibuat ganjang- ganjing, saat berhadapan langsung dengan cowok gila, seperti Nanggala Putra Adiwijaya. *** Nanggala dengan segala rumor nya, keturunan Adiwija...
