27. Bertahap.

222 19 0
                                        


   Hari keempat berlalu bagi keluarga itu, waktu terasa berjalan seperti siput, namun tanda-tanda perbaikan pada tubuh Vashua bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan medis. Kabar bahwa dosis obat penenang terus diturunkan menjadi bahan bakar harapan yang membuat mereka semua bisa menarik napas lega untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.

Namun, di balik kabar baik itu, ada badai lain yang mulai mereda dan perlahan menampakkan puing-puingnya.

Sejak kejadian pingsan itu, perubahan pada diri Yoza begitu drastis hingga membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iba. Pria yang dulu dikenal dengan aura dominan, tatapan tajam yang bisa membuat orang gentar, dan sikap dingin yang membentengi dirinya, kini hancur lebur. Dia menjadi sosok yang sunyi, pendiam, dan sangat rapuh.

Di kamar rawatnya sendiri, Yoza duduk di tepi ranjang. Kakinya menggantung, menatap lantai keramik yang dingin. Dokter sudah memperbolehkannya bangun dan bergerak ringan, asalkan tidak melakukan aktivitas berat mengingat tekanan darahnya yang masih fluktuatif. Tapi Yoza tidak ingin bergerak. Dia merasa tidak pantas untuk merasa nyaman, tidak pantas untuk beristirahat sementara adiknya terbaring lemah terhubung selang-selang itu akibat dari kecerobohan nya.

Pintu kamar terbuka pelan. Nirzam masuk dengan nampan berisi makanan dan obat-obatan. Sejak kemarin, entah kenapa, hanya Nirzam yang bisa membuat Yoza mau makan dan minum obat. Jika orang lain yang datang, Yoza akan menolak dengan keras atau hanya diam membatu.

"Kak Za, makan dulu." ucap Nirzam lembut, meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang.

Yoza tidak menjawab, tidak juga menoleh. Bahunya terlihat naik turun dengan napas yang berat.

"Aku dengar dari perawat, tadi Shua membuka matanya sebentar." suara Yoza akhirnya terdengar, parau dan sangat pelan. "Cuma beberapa detik, lalu dia tertidur lagi. Nirzam... aku ingin melihatnya. Aku mohon, izinkan aku melihatnya sekali saja. Meskipun dari luar ruangan tidak masalah yang penting aku bisa melihatnya."

Nirzam menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

"Dokter bilang belum boleh sembarangan orang masuk, Kak. Kondisinya masih sangat rentan infeksi. Dan Kakak sendiri juga masih butuh istirahat, tensi Kakak kemarin sempat naik drastis. Aku tidak mah membebani pikiran kakak dan kejadian kemarin terulang lagi."

"Aku tidak peduli dengan tensiku!" sergah Yoza, suaranya melengking sedikit namun segera melemah karena dadanya terasa sesak. "Aku harus menemui adikku, Aku harus meminta maaf langsung padanya. Selama ini aku telah menyalahkanmu, Zam... aku menyakitimu, aku memisahkanmu dari Shua, padahal kenyataannya... akulah iblis yang menghancurkan hidup kalian berdua bahkan keluarga ini semuanya begini karena aku."

Yoza membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan, bahunya bergetar hebat. Isakannya tertahan di tenggorokan, terdengar menyakitkan.

"Bayangkan, Zam. Karena Perintahku dulu, Aku yang menyuruh mereka mengawasi mobil itu. Aku yang tidak teliti. Dan karena kesombonganku, karena egoku yang tidak mau mendengar penjelasanmu. Satu tahun lebih kami hidup dalam neraka. Shua menderita sendirian, menahan sakit perut, menahan trauma, dan kamu... kamu menanggung semua hinaan itu sendirian. Aku benar-benar manusia yang gagal."

Nirzam terdiam, menatap punggung kakak tirinya itu. Rasa marah yang dulu membara di dadanya kini telah berganti menjadi rasa kasihan yang dalam. Dia mengulurkan tangan, perlahan menyentuh bahu Yoza. Sentuhan itu membuat Yoza tersentak, seolah tidak percaya bahwa adik yang dulu dia siksa kini sedang berusaha menghiburnya.

"Kak Yoza." panggil Nirzam lembut. "Kita semua manusia. Kita semua pernah salah.  Shua pasti bisa memaafkan kakak, aku juga bisa mencoba mengerti, Kakak juga harus belajar memaafkan diri sendiri. Kalau Kakak terus menjatuhkan diri seperti ini, bagaimana nanti kalau Shua bangun? Dia butuh Kakak yang kuat, bukan Kakak yang hancur seperti ini."

Black Hole Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang