Bab 24

1.1K 314 13
                                        

Sadarkah Guntur jika sejak tadi sudah tiga kali Rani mengibaskan rambutnya yang setengah basah??

Ah, barangkali pria ini menganggap Rani mencuci rambut seperti biasa. Namun, sudah lima hari terlalui dan Rani sudah selesai datang bulan. Atau Guntur tidak paham kalau lamanya datang bulan seorang wanita bisa berbeda-beda?

Itu sebabnya, kan, Guntur santai saja?

Ya ampun, membuat Guntur sadar sepertinya lebih rumit dari menyederhanakan soal Aljabar. Atau Rani perlu berkata terus terang seperti biasanya? Astaga... ini kan bukan semudah meminta tidak panen kacang atau pergi ke kota mengambil uang.

Bagaimana pun harga diri Rani, meski yang tersisa tidak banyak lagi, tetap saja masih ada. Tetap saja pipinya bersemu, dan isi perutnya jumpalitan sekarang.

"Kenapa tidak langsung di bawa ke dalam saja," ucap Guntur ketika melihat Melani yang tertidur di pangkuan Rani.

Rani menoleh dengan wajah bengong. Sejak kapan Guntur memperhatikannya? Atau Rani lah yang sudah terlalu lama melamun? Begitu melihat ke Melani, ternyata bayi itu sudah tertidur.

"Bang."

"Apa?"

Rani mengerjap, tetapi kata-kata yang sudah diujung lidahnya tak juga terucap.

Aku sudah selesai datang bulan.

Abang tahu nggak kalau lama waktu wanita datang bulan itu beda-beda?

Ada yang lama... banget ada yang lima hari aja udah selesai, loh!

"Kenapa?" ulang Guntur lagi.

Rani menggeleng kecil, membuat dahi Guntur berkerut. "Eng...gak apa-apa."

Guntur menyoroti lebih tajam karena sikap Rani mencurigakan, jangan-jangan wanita ini ingin pergi ke kota lagi.

Guntur belum sempat bertanya lagi ketika ada sebuah kendaraan berhenti di depan rumahnya.

"Assalamu'alaikum."

Guntur langsung beranjak menjawab salam, begitupun dengan Rani.

Pak Mandor dari perkebunan sebelah bertamu ke rumah Guntur, pasti ada hal yang penting, Guntur langsung mempersilakan pria paruh baya itu masuk, sementara Rani masuk ke kamar untuk meletakkan melani ke tempat tidur.

Ketika kembali keluar Rani mendapati Guntur dan seorang bapak yang tak dikenali Rani itu mengobrol di teras. Rani langsung ke belakang dan menyiapkan minum.

Guntur tak bisa menghindari tatapannya dari Rani saat wanita itu membawakan nampan ke teras. Bahkan diliriknya Pak Mandor membalas senyum Rani dengan senyum jumawa. Seharusnya Guntur biasa saja, lagipula sikap Rani pasti akan dianggap orang lain sebagai istri teladan, tetapi harusnya Rani tak perlu mengumbar senyum seperti itu, cukup bersikap sopan lalu pergi. Guntur menahan napas sesaat untuk menormalkan sikapnya.

Ya, Rani memang akhirnya pergi, tapi Rani membiarkan langkahnya terhenti di balik tembok, dan setengah menguping.

Yang jelas, bapak tersebut membicarakan soal jual tanah.

"Di Pelalawan ya?" Rani mendengar Guntur bergumam.

Di mana itu?? Batin Rani.

"Kapan Guntur ada waktu untuk lihat?"

"Kapan aja bisa Pak."

"Besok subuh dari sini?"

Rani tak mendengar Guntur langsung menjawab, lalu kemudian pria itu menyahut. "Bisa."

Bola mata Rani langsung melebar, dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek jarak dari tempat mereka tinggal, ke mana tadi? Pelala... dahi Rani terus berkerut, dan saat melihat jawaban dari mesin pencarian, mata Rani semakin membeliak. Sekitar 7 jam??

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 21 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang