Bab 22

2.9K 338 16
                                        

Sudah tiga hari, tetapi Guntur tampak tenang-tenang saja. Apa Rani perlu menanyakan lagi kenapa dia belum juga membelikan titipannya? Atau Guntur berniat melupakannya??

Kalau Rani marah, kesannya kan gimana gitu? Dengan sangat kesal Rani melipat tangannya.

Dan hingga hari ini Guntur masih tampak santai. Atau jangan-jangan Guntur memang tidak mau menyentuhnya sama sekali. Pria itu... pasti masih sangat membencinya. Apa akhirnya pria itu kembali berpikir kalau hubungan mereka memang tidak boleh lebih dari sekadar menjaga Melani??

Rani tersenyum kecut. Benar juga.

Seharusnya Rani tidak seagresif ini. Jika benar kenyataannya begitu, Rani harusnya khawatir dia kembali sakit hati.

Mood Rani langsung terjun bebas. Tangannya langsung mengelus kasur dan menelentangkan tubuh di sebelah Melani yang tidak tidur, tapi begitu tenang sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Rani masih melamun sendiri dengan hati kian berkecamuk. Dan hingga saat ini Rani tak bisa menghapus pikirannya tentang Guntur dengan Ika? Bagaimana bisa?? Rani benci dengan kenyataan jika dada dan bokong Ika sangat semok.

Atau jangan-jangan tubuh Rani bukan tipe Guntur?! pekik sisi hati Rani yang lain.

Secepat kilat Rani turun dan menatap posturnya di depan cermin. Astaga... dia memang tidak ada apa-apanya dibanding Ika. Tubuh Rani tinggi semampai dengan kulit putih mulus, apakah itu saja tidak cukup?? Meski memang bagian dadanya tidak terlalu menonjol, dan ketika Rani memutar badan, menepuk bokongnya, standar saja, tidak seksi. Arghh... Rani semakin kesal dengan pemikirannya sendiri.

Tidak. Tidak. Alasan paling tepat pasti yang pertama! Lagi pula Guntur juga bilang dia tidak ada hubungan apa pun dengan Ika, kan? Sisi batin Rani yang lain lalu mengejek hubungan seks bahkan bisa dilakukan tanpa hubungan apa pun.

Rani mendengus keras, semakin jengkel dengan segala logika-logikanya.

Tak lama, Rani tersentak ketika mendengar suara-suara agak ramai dari luar, dan salah satunya adalah suara Guntur. Rani segera menggendong Melani dan keluar dari kamar.

Ah... pantas agar ramai hari ini panen sawit ternyata.

Sudah pukul setengah empat, tapi Rani enggan beranjak dari kursi teras untuk beres-beres. Dia sangat menikmati aktifitas Guntur dari kejauhan, saat pria itu mengobrol dengan bapak-bapak lainnya. Ini dunia Guntur, dan pria itu tampak selalu cakap menjalankan segala pekerjaan.

Ada sesuatu yang menyusup ke hati Rani, lingkungan ini lama kelamaan terasa tak asing baginya. Bahkan Rani tak begitu merindukan kota, selain dengan makanan yang masih ingin dicicipi Rani tapi tak ada di sini.

Hanya saja, Rani tak bisa selamanya di sini, dan tiba-tiba itu membuatnya terasa hampa. Atau mungkin bisa? Tetapi bagaimana cara Rani menghadapi keluarganya?

Buah sudah selesai di timbang, dan ketika Guntur membalik badan, dia tertegun sesaat melihat Rani di sana, terkadang Guntur masih suka tak percaya, tetapi begitulah kenyataannya. Si orang kaya, si anak polisi, si gadis cantik yang tak tersentuh, ada di teras rumahnya.

Air muka Guntur mengeras tiap kali pikirannya larut ke hal remeh-temeh seperti itu. Dia membuang pandangan dan mengembalikan paksa pemikirannya ke masa sekarang. Setelah urusannya dengan agen sawit selesai. Guntur melangkah menuju rumah, dan langsung masuk ke dalam.

Rani mengikutinya. Yeah... wanita itu selalu tak segan mengikuti Guntur tak peduli jika tubuh Guntur sangat bau karena bekerja seharian.

Guntur melepas tas pinggangnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.

Rani membeliak melihat tumpukan uang di tangan Guntur. Kenapa juga Rani masih saja terheran-heran. Ya, mungkin Rani selalu membawa ATM berbeda dengan Guntur yang selalu membawa uang cash ke mana-mana.

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang