Bab 23

4.9K 529 22
                                        

Apa maksud Guntur dengan membelikannya pil KB tapi sudah empat malam berlalu tak juga mengetuk pintu kamar Rani ketika malam?? Dua hari pertama mungkin memang bukan waktu yang tepat, sebab ibu yang diantar Guntur ternyata terserang stroke, dan Guntur sebagai tetangga yang dermawan bolak balik ke rumah sakit, mengurus ini itu.

Tetapi, hari ini sudah hari kelima kan??

Astaga... Rani. Meski enggan mengakui, tetapi Rani tetap saja penasaran, kapan Guntur akan memulai aksinya. Tapi, bukankah jika Guntur menginginkannya dia hanya akan langsung masuk ke kamar begitu saja?

Dan belakangan hari ini Rani dengan sengaja memakai piama seperti biasa dan bersikap seperti biasa. Tapi tetap tak ada aksi dari Guntur.

Masa Rani harus berlagak mondar-mandir di depan pria itu?

"Masa Mama harus pancing-pancing Papamu sih??" Gerutu Rani sambil menidurkan Melani di ayunan. "Papamu itu benar-benar..." geram Rani tak melanjutkan kata-katanya.

Atau Guntur benar-benar berubah pikiran??

"Apa aku perlu berpenampilan seperti Ika??" Gumam Rani lagi. "Ih... enggak ah!" tolaknya dengan ekspresi kecut, tapi tetap kepikiran kalau dia punya satu setelan baju tidur berbahan kaus dengan celana super pendek.

***

Wajah Guntur benar-benar kusut ketika pulang karena ada masalah di ladang. Dia mandi dengan cepat, tanpa mencari tahu dulu di mana keberadaan Rani.

Ketika selesai dan keluar dari kamar mandi, Guntur yang menemukan Rani di dapur langsung mendelik.

"Kenapa pakaianmu seperti itu?" tanya Guntur dengan nada tegas, melihat Rani berpakaian tak sepantasnya dengan celana yang hanya menutupi pantatnya.

Bahu Rani langsung tegang, lalu melirik ke arah lain. "Se—perti apa?"

"Tidak perlu kuulangi."

"Ini setelan untuk tidur kok. Cuaca di sini sangat panas, dan tidak ada AC." Rani langsung berdalih agar tidak tampak malu-maluin, sebab reaksi Guntur tak seperti yang diharapkannya.

"Aku tidak berminat mendengarkan segala keluhanmu. Ganti pakaian kota-mu itu. Dan jangan pernah memakainya lagi di sini."

"Aku juga tidak berniat mengeluh, tapi Abang yang selalu mengomentariku."

"Ganti," ucap Guntur dengan nada tak terbantahkan.

"Terkecuali... Abang mengizinkanku untuk membeli AC dan memasangnya di sini. AC juga bisa mengurangi nyamuk. Melani juga pasti akan tidur dengan sangat nyaman."

Mata Guntur langsung berkilat marah.

"Aku—hanya memberi saran, tidak harus Abang setujui."

"Ganti pakaianmu atau kurobek sekalian."

"Kenapa, sih? Kan, aku di rumah aja nggak ke mana-mana. Palingan Abang doang yang lihat. Abang terganggu?"

"Ganti," ucap Guntur lagi seperti tersedak tulang.

Dengan ekspresi cemberut Rani langsung masuk ke dalam kamar, dan mengganti dengan piama, dalam hati dia menggerutu. Ika setiap hari pakai pakaian super ketat, Guntur tak pernah menegur. Rani yang hanya mengenakan di rumah dan tidak keluar-keluar langsung diprotes.

Saat Rani kembali keluar. Guntur tak tampak di mana pun. Atau pria itu kembali keluar??

"Abang!" panggil Rani ke arah depan, tapi dilihatnya sandal Guntur masih di depan teras.

Ketika Rani kembali dia lega sekali begitu menemukan Guntur. Namun, pria itu tengah memegang dokumen di tangannya.

"Itu... buat apa Bang?"

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang