Pagi ini Rani membereskan pekerjaannya dengan cepat, dia juga membuatkan Guntur bekal lagi seperti sebelum-sebelumnya. Setelah semua pekerjaanya selesai, Rani menggendong Melani yang telah sangat wangi dan siap bermain-main di luar seperti pagi-pagi sebelumnya.
Tetapi pagi itu sepertinya Guntur pulang agak lama seperti biasanya. Karena hingga pukul delapan lewat Guntur belum juga muncul.
Tak lama muncul pick-up lain, yang jelas Rani tahu sekali itu bukan milik Guntur. Dengan tatapan cemas Rani menggendong Melani. Pak Idrus turun dari pickup dan si pengemudi tentu saja bukan Guntur.
"Bang Guntur mana, Pak?" tanya Rani langsung ketika mendekat, biasanya dia bahkan tak pernah terlibat obrolan dengan Pak Idrus.
"Pick-up nya mogok Ran," sahut Pak Idrus lalu menurunkan belanjaan.
Rani menyingkir, meski Rani yakin Guntur tidak kenapa-apa, rasanya aneh saja, Guntur tak muncul pagi-pagi di rumahnya.
Hingga siang berlalu, Guntur belum juga muncul. Dalam batin Rani menggerutu mengapa dia tak mendesak Guntur untuk memberikan nomor ponselnya. Kenapa juga perbaikan mobilnya sangat lama? Atau jangan-jangan mobil Guntur mogok di tengah-tengah jalanan ladang sawit yang pernah Rani lalui? Rani merasa begitu bodoh karena tak bertanya begitu jelas kepada Pak Idrus tadi.
Hingga sore menjelang, Rani semakin uring-uringan. Kenapa Guntur tak meninggalkan saja mobilnya, dan kembali pulang dengan menumpang kendaraan lain?
Rani masih duduk di teras rumah bersama Melani, akan tetapi hari yang semakin senja membuatnya terpaksa bangkit.
Tak lama Ika yang sudah menutup kedai muncul.
Rani ingin tak mempedulikan wanita itu dan segera masuk, tetapi Ika malah memanggil.
"Kak Rani. Bang Guntur barusan telepon dia pulang agak malam."
Dahi Rani berkerut, menatap Ika lama tanpa berkedip. Yah, memang setidaknya sedikit ada kemajuan, karena pria itu mengabarkan keberadaannya kepada Rani. Tetapi masalahnya, kabar itu datang melalui Ika!
"Waktu aku tanya kenapa, Bang Guntur bilang dia sekalian servis pickup."
Bibir Rani langsung menipis menahan geram. Kenapa wanita ini harus menanyakan hingga detail seperti itu?!
"Kak?" sebut Ika lagi, sebab Rani hanya diam.
Astaga... wanita ini benar-benar tidak punya malu, dia masih berbicara dengan Rani seperti biasa, meski Rani sudah mengisyaratkan kalau dia marah.
Rani hanya mengangguk singkat tanpa mau menjawab ucapan Ika. Begitu wanita itu pergi Rani segera menutup pintu.
Selain dengan Melani, Rani jadi benar-benar bosan, padahal biasanya dia juga menghabiskan waktu di kamar. Namun tanpa sosok Guntur rumah terasa sangat kosong, menghidupkan televisi pun tak membantu.
Pikiran Rani dipenuhi kapan Guntur akan pulang. Yang sepertinya memang akan sangat lama, buktinya, hingga hari sudah benar-benar gelap dan suara jangkrik mulai terdengar nyaring, tak ada tanda-tanda kedatangan mobil Guntur.
Dan Rani semakin kesal saja, sebab dia benar-benar tak punya nomor yang dapat dihubungi untuk mengetahui di mana Guntur sekarang. Dia juga tak mungkin menanyakan kepada Ika, jika tak ingin wanita itu bertanya macam-macam dengan sorot aneh serta mengejek.
***
Hari sudah sangat gelap ketika Guntur sampai di rumah. Guntur langsung memasukkan pickup-nya ke garasi.
Guntur mencari kunci rumah di tas pinggangnya, dan ketika memasukkan kunci ke lubang. Dahi Guntur berkerut, kenapa Rani tak menguncinya pintunya?? Guntur langsung masuk ke dalam dan kembali mengunci pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
