Pagi itu, ruang OSIS terasa lebih sepi dari biasanya. Memang, kalau tidak ada keperluan atau rapat, anggota lain jarang datang ke sana.
Namun, berbeda dengan Sae. Ia menganggap ruang OSIS sudah seperti rumah kedua. Dibandingkan menghabiskan waktu di kelas atau kantin yang ramai dan sesak, ia lebih memilih perpustakaan atau ruang OSIS sebagai tempat menyendiri karena suasananya jauh lebih tenang. Tapi hari ini terasa berbeda.
Sae menghela napas. Selain memikirkan tumpukan berkas yang ada di depan mata, pikirannya juga terus dipenuhi oleh masalahnya dengan Isagi yang masih belum terselesaikan.
Kemarin, Sae sempat berniat untuk meminta maaf, tetapi mendengar kabar bahwa Isagi bolos bersama Nagi, entah kenapa emosinya langsung memuncak sehingga ia membentak Isagi secara tidak sengaja.
“Bro, lo lagi mikirin apa sih? Akhit-akhir ini hidup lo kayak lagi berat banget.”
Suara itu memecah keheningan.
Di sofa panjang di ujung ruangan, Shidou Ryusei terlihat selonjoran dengan santai. Bisa dibilang, ia adalah satu-satunya orang yang cukup dekat dengan Sae. Sambil berbaring, ia sibuk memainkan ponselnya, sesekali mengunyah ciki tanpa peduli kalau remah-remahannya jatuh ke sofa.
Sae sempat lupa kalau ia tidak sendirian di ruang OSIS. Tadi, ia sendiri yang mengajak Shidou untuk menemaninya, sekadar jadi teman ngobrol supaya pikirannya tetap waras. Tapi sekarang, ia justru mulai menyesalinya.
“Lo nggak usah sok peduli deh.”
“Dih, padahal lo sendiri yang ngajak gue ke sini, sekarang gue malah dicuekin.”
“Gue sih sebenarnya lebih milih tidur di rooftop ketimbang nemenin lo di sini. Tapi ngelihat lo lagi galau begini, bikin gue jadi kasian.”
Sae menatapnya sinis, “Gue nggak butuh dikasihani sama orang kayak lo. Lo kalo mau pergi, ya silakan.”
“Ya ampun, gue cuma bercanda,” sahut Shidou, “Lagian, mana mungkin gue ninggalin sahabat gue tercinta?”
“Najis lo,” Sae menatapnya dengan jijik.
Shidou memasang raut cemberut, “Galak amat sih. Pantes aja cewek-cewek pada kabur tiap ngeliat lo.”
Kalimat itu langsung membuat Sae terdiam.
“Lagian lo kenapa sih? Dari kemarin gue liat galau mulu, kayak orang abis putus cinta. Sini cerita sama gue, siapa tau gue bisa kasih solusi.”
Sae menghela napas panjang, lalu akhirnya berkata pelan, “Gue udah nyakitin orang yang gue sayang lagi, do.”
Shidou langsung menoleh, alisnya terangkat, “Wow, siapa dia? Sampe bikin lo kepikiran segitunya. Pasti orangnya spesial buat lo, ya?”
“Dia emang spesial buat gue. Tapi gue malah nyakitin dia, dan sekarang gue nggak tau harus gimana...” gumamnya dengan suara lirih.
Shidou menyipitkan mata, lalu menebak santai, “Ini lo nggak lagi ngomongin si Rin, kan?”
Sae langsung mendengus, “Nggak lah. Buat apa gue mikirin dia,” ia berhenti sebentar, “justru gara-gara dia gue malah nyakitin cewek yang gue sayang...”
Shidou langsung bangkit setengah duduk, “WHAT?! Cewek?!” matanya membesar penuh minat, “Siapa dia?!”
‘Sial... keceplosan,’ batin Sae.
Shidou menyeringai lebar, “Wah, gila sih. Gue nggak nyangka ada cewek yang bisa bikin seorang Itoshi Sae hampir gila cuma gara-gara kepikiran sama kesalahannya sendiri.”
“Lo pasti naksir berat sama dia,” ujarnya santai.
Sae membuang muka, “Gue nggak naksir.”
“Yailah,” sahut Shidou cepat, “ngaku aja apa susahnya sih? Udah kelihatan jelas, bro. Kalo bukan suka, lo nggak bakal sampe segininya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐈𝐒𝐀𝐆𝐈 𝐘𝐎𝐈𝐂𝐇𝐈 '𝐅𝐞𝐦. 𝐕𝐞𝐫𝐬𝐢𝐨𝐧' || 𝗕𝗹𝘂𝗲𝗟𝗼𝗰𝗸
RomanceIsagi Yoichi atau biasa dipanggil 'Mbak Ica' adalah seorang kapten dari klub Sepak Bola Putri di SMA BlueLock. Setelah ia memenangkan pertandingan antarsekolah mewakili Sepak Bola Putri, Isagi tiba-tiba langsung populer dan banyak dikejar oleh para...
