Malam hari di rumah keluarga Isagi, ruang tengah kembali dipenuhi suasana riuh seperti biasanya. Suara tombol stick PS yang ditekan bertubi-tubi terdengar bersahutan memenuhi ruangan, sementara Karasu Tabito dan Ayah Isagi tampak serius saling beradu strategi dalam permainan sepak bola.
“Om mainnya kasar banget sih! Tuh liat, nge-tackle mulu dari tadi!” protes Karasu sambil berdecak kesal.
“Kamu aja yang belum jago mainnya,” jawab Ayah Isagi santai tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. “Main bola mana ada yang halus.”
“Ya kali Om sliding terus tiap lima detik- OM, ITU FOUL!”
“Aman itu.”
“AMAN DARI MANA COBA?!”
Isagi yang baru turun dari lantai atas langsung tertawa melihat keributan mereka. Isagi berlari kecil sambil menggenggam HP di tangannya. Raut wajahnya kelihatan cerah sejak tadi.
“Abang,” panggil Isagi sambil duduk di sebelah Karasu, “Liat ini deh!”
Mata Karasu masih fokus dengan permainan game di depan mata, “Bentar, bentar- ANJIR!”
GOAL!
Ayah Isagi langsung selebrasi sambil tertawa kencang, “Nah tuh. 3-1.”
“Om mainnya curang banget asli…” Karasu menjatuhkan stick PS ke sofa dengan dramatis.
“Makanya jangan kebanyakan omong doang,” balas Ayah Isagi santai, “sepuh PS warnet pada masanya ini kamu lawan, Tabito.”
Isagi terkekeh kecil sebelum akhirnya ia menyodorkan layar ponsel ke wajah Karasu.
“Nih, serius. Baca dari awal.”
Karasu yang awalnya masih manyun seketika ekspresinya berubah begitu matanya menangkap isi chat di layar ponsel Isagi. Matanya sampai membelalak lebar, jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
“HAH? INI SERIUSAN?”
“Dia kok malah ngechat kamu duluan sih?!” protes Karasu sambil buru-buru mengecek isi ponselnya sendiri, “tuh kan, dia nggak ngechat abang sama sekali. Parah banget, sumpah.”
“Mana Ica tau,” Isagi menyeringai jahil, “mungkin dia takut abang bakal heboh tujuh keliling kalo dikasih tau duluan.”
“Ya gimana abang nggak heboh coba?” Karasu menghela napas panjang sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa, “dia tiba-tiba lost contact sama semua orang, nggak ada kabar bertahun-tahun, terus sekarang pas balik malah ngehubungin kamu duluan. Padahal abang sohib lamanya, anjir. Keterlaluan banget sih.”
“Udah yapping-nya? Abang lebay banget sih.”
Zrrttt.
Ponsel Isagi kembali berbunyi. Karasu yang dari tadi penasaran langsung ikut menyodorkan kepalanya, berniat membaca isi pesan yang baru masuk itu.
[Nomor Tidak Dikenal]
“Karasu masih tinggal di rumah kamu, Dek?”
Isagi langsung menyengir jahil, “Tuh kan, dia nyariin abang juga kok.”
“Mana sini!” Karasu langsung merebut ponsel milik Isagi dan buru-buru membalas pesan itu.
Beberapa menit kemudian, ponsel Karasu akhirnya ikut berbunyi. Entah apa isi pesan yang dikirim sebelumnya, yang jelas Karasu langsung senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Isagi sampai merinding sendiri melihatnya, “Serem tau, abang senyum-senyum sendiri kayak orang gila begitu.”
“Bodo amat, biarin,” jawab Karasu santai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, “jangan ganggu kebahagiaan abang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐈𝐒𝐀𝐆𝐈 𝐘𝐎𝐈𝐂𝐇𝐈 '𝐅𝐞𝐦. 𝐕𝐞𝐫𝐬𝐢𝐨𝐧' || 𝗕𝗹𝘂𝗲𝗟𝗼𝗰𝗸
RomansaIsagi Yoichi atau biasa dipanggil 'Mbak Ica' adalah seorang kapten dari klub Sepak Bola Putri di SMA BlueLock. Setelah ia memenangkan pertandingan antarsekolah mewakili Sepak Bola Putri, Isagi tiba-tiba langsung populer dan banyak dikejar oleh para...
