29. Lembaran Baru

533 47 4
                                        

Di kamar Zuhroh, usai seluruh tamu pergi. Fania menemani perempuan itu. Meskipun Seminggu telah berlalu, tetapi kesedihan Zuhroh masih terasa. Walaupun kini dia sudah bisa tersenyum.

"Gue mau jadi guru aja deh, Fan. Nggak mau lanjut di Kedokteran."

Fania tercekat. Kaget betulan dengan keputusan tiba-tiba sahabatnya. Dan karena ini sangat mengejutkan, Fania butuh penjelasan detail mengapa tiba-tiba Zuhroh berbelok. Fania dan Zuhroh sendiri mengambil jurusan Psikologi. Tinggal beberapa langkah lagi mereka lulus.

"Maksudnya?"

"Ya, nanti kalau lulus. Gue mau coba kerja di sekolah aja, nggak mau lanjut S2 atau kerja di klinik."

Fania menghembuskan nafas. Tidak mengerti perubahan impian Zuhroh. "Tiba-tiba banget? Katanya cita-cita lo mau sembuhin pasien stress kayak gue?"

Zuhroh tersenyum tipis. Semalam dia teringat dengan percakapannya dengan Hasbi saat Abangnya itu lulus Akademi Militer.

"Abang, cita-cita Abang selain jadi tentara apa?"

Hasbi menoleh, wajahnya yang tampan itu tersenyum menawan. "Hm, Abang mau jadi guru. Abang mau mencerdaskan anak bangsa."

Zuhroh tercekat. Tidak diduga-duga, nggak pernah kepikiran dia Hasbi punya impian mengajar.

"Gue mau mengajar aja, nggak mau lanjut kerja di klinik." ujarnya.

"Dih, kok lo mengkhianati janji yang kita buat, Zuro? Gue kan mau buka klinik konseling sampingan sama lo."

Zuhroh terbahak. Tapi dia sudah bertekad. Setelah kelulusan nanti, Zuhroh akan melamar menjadi guru profesional. "Gue... Mau melanjutkan impiannya Bang Hasbi yang nggak kesampaian." ujarnya.

Fania terdiam, kemudian tersenyum tipis. "Kalau itu pilihan lo, yaudah. Gue juga bakal jadi guru killer!"

"Tolol! Nggak usah ikut-ikutan gue, peaaa!"

"Abis gimana dong, gue nggak mau jauh-jauh dari lo!" Fania rasanya kepingin nangis mengetahui jalan pilihan hidup mereka berbeda.

"Nggak boleh fomo deh, Fan. Lo lanjutin cita-cita kita ya! Buka klinik konseling dan jadi Dokter yang bantu banyak orang." Zuhroh menyengir.

"Otak lo koslet apa gimana sih, Zuhroh? Dikit lagi wisuda lho, lo malah belok dari jurusan."

"Enggak belok kali. Masih satu tujuan kok, kan gue bisa jadi guru bimbingan konseling di sekolah. Terus karena gue punya sertifikat lomba lari, gue bisa jadi guru juga."

"Matamu!" Fania masih tak percaya Zuhroh segampang itu merubah jalan hidupnya. "Tapi kalau itu sudah keputusan akhir lo, gue bisa apa? Ntar jadi guru BK jangan galak-galak Zuhroh."

"Nggak dong, kalau ada murid yang depresot diputusin pacarnya, gue bakal ajak dia belanja di mall, gue kasih tau, di luar sana ada banyak Daddy-Daddy maha dahsyat yang harus digoda, nggak perlu nangisin opet."

Fania meringis. "Jadi guru itu buat memberantas kebodohan, bukan malah menyesatkan."

"Cih! No, saat gue jadi guru kelak, gue bakal buat semua siswi gue jadi baddie. Bad bitch forever."

"Jangan pensiun sampe anak gue lahir, oke? Gue demen nih guru begini."

***

Kembali ke kampus membuat Fania dan Zuhroh sibuk dengan urusan masing-masing. Dan karena mereka absen nyaris 6 bulan. Mereka harus mengejar ketertinggalannya. Di saat yang lain sudah sidang skripsi, mereka masih mengurusnya dari awal.

Di bawah Pintu Pengabdian Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang