31. Mengungkap Perasaan

269 32 3
                                        

Selesai membuat kehebohan, keluarga Fania dan Zuhroh lanjut berkumpul di salah satu restoran bergaya Nusantara. Mereka memesan satu room VIP sebab tahu keluarga mereka punya dua anomali berisik.

Lihat saja, keduanya kini sibuk bernyanyi dengan alat karaoke yang disediakan. Mending kalau suaranya merdu, lebih mirip kaleng rombeng.

"Gileee, gue berbakat banget ternyata dalam menyanyi. Skornya 52 cui, udah siap sepanggung sama Agnes Monica nih gue." celetuk Fania.

"Bakatnya dipendam aja sayang, takut yang denger telinganya berdarah semua." Adjie tersenyum manis, dibuat-buat.

"Apa kita daftar ajang pencarian bakat aja Fan setelah ini? Daripada nyari kerja, mending kita salurkan kemampuan bernyanyi kita yang aduhai."

"Abang denger udah tutup pendaftarannya, Zuro." Zraka menyahut sambil menenggak minumannya.

"Lagian akang pencarian bakat itu cuma nerima peserta didik waras, bukan satwa lepas kayak kalian berdua." sambung Khalid.

"Sirik aja, sirik. Nggak seneng lihat orang punya suara bagus ya Kak?" Zuhroh mencibir.

"Itulah kalau hatinya penuh dengan kedengkian, sahabat." Fania menyahuti Zuhroh. "Gelap banget tuh pasti hatinya, kayak ati ampela ayam."

"Bagaimana bisa sih kalian suka adik-adik kami?" Zraka menatap kedua pria yang sejak tadi anteng-anteng aja. "Apalagi kau Rega, seleramu yang ada plenger-plengernya ya?"

Khalid terperangah. "Ka, Zuhroh adekmu lho."

Zraka menggeleng tidak mau ambil pusing. "Mau dibagusin juga nggak ada yang bagus, Lid. Mau ditinggiin namanya juga apalagi, kelakuannya aja kayak gitu," Zraka menunjuk Zuhroh yang tengah berteriak gila-gilaan. "Mana adek satu-satunya."

Adjie menunjuk Rega. "Dia nih, emang butuh perempuan ribet dan berisik kayak adek lo biar cair!" katanya. "Saraf tenangnya pasti kaget melulu sama kelakuan Zuhroh. Dan itu bagus, bikin hidupnya yang kaku jadi berwarna."

Telunjuk Adjie berpindah pada Hamdan yang tengah bertepuk tangan, menyemangati dua perempuan sedeng tersebut. "Kalo dia, emang cocok sama Fania. Se frekuensi istilahnya. Cuma Fania yang sabar menghadapi kelakuan durjana Hamdan."

Hamdan tidak merasa dibicarakan sama sekali, dia suka melihat Fania bersenang-senang. Selalu jatuh cinta pada tawa dan tatap cerah di mata favoritnya itu.

"Nanti jadi mau antar Zuhroh ke makam Hasbi, Ga?" tanya Zraka, wajahnya lebih serius.

"Iya. Hamdan dan Fania juga ikut, mau menemani Zuhroh." balas Rega tenang.

"Kalau dia nangis, jangan disuruh berhenti. Biarin aja, dengerin aja. Mau ngadu banyak sama Hasbi kayaknya." Zraka melirik Zuhroh dengan tatapan sayang.

Khalid menepuk-nepuk punggung sahabatnya. "Jangan khawatir sama Zuhroh, dia udah gue anggap kayak adek gue sendiri. Yang jaga dia banyak, Ka."

Zraka tersenyum, mengerjap dengan sepasang mata berkaca-kaca. "Tolong ya, jagain adek gue juga."

***

Hamdan dan Fania melipir usai berziarah ke makam. Mereka duduk di belakang Zuhroh, menunggu gadis itu bercakap-cakap sambil memegang batu nisan. Melihat Zuhroh bicara dengan kuburan membuat Fania merasa tercubit hatinya. Fania menunduk dalam, mendengar suara isak bercampur serak yang keluar dari mulut sahabatnya. Sementara itu, Hamdan setia memegang payung. Menutupi Fania dari panas matahari.

Rega juga sama, duduk di sebelah Zuhroh dengan satu tangan menggenggam payung. Dia tidak bersuara sedikitpun.

"Abang, Zuhroh udah wisuda. Nih lihat, toganya," Zuhroh menaruh topi itu di atas kuburan Hasbi. "Zuhroh nggak mau kerja di klinik, mau nerusin impian Abang. Jadi guru sekolah," Dia tertawa. "Siapa tahu ada murid-murid stres yang butuh bimbingan Zuhroh."

Di bawah Pintu Pengabdian Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang