34. Akal Bulus Hamdan

233 32 3
                                        

Hamdan benar-benar jengkel bukan kepalang karena sosok Zuhroh terus merecokinya. "Fania, kamu yang bener aja, masa kita ngajak Dugong ke sea world. Dimasukin ke kandang nanti dia, dikira Dugong liar."

Zuhroh menendang betis Hamdan sebagai balasan. "Bahenol gue, bukan kek dugong!"

Hamdan mencekal tangan Fania yang cuek saja mau ikut duduk di belakang, enak saja. Sudah kencannya kembali diganggu makhluk kasar, masa Fania juga duduk di belakang. Jadi supir dong Hamdan bukan pacar!

"Di depan, ngapain kamu nemenin dia?" sinis Hamdan. "Temenin aku nyupir, gampang ngantuk aku kalau bawa mobil, biasa bawa jet tempur soalnya."

"Sombong! Orang sombong lubang idungnya tiga!" sambar Zuhroh dari dalam.

Hamdan mengabaikan, dia buka pintu depan untuk Fania, mempersilahkan perempuan itu masuk.

"Tadi gue nggak digituin!" sungut Zuhroh.

Hamdan melengos. "Khusus Tuan Puteri, Tuan tanah diem aja."

"Anjeng!" umpat Zuhroh.

Fania tertawa kecil, menoleh ke belakang ketika Zuhroh menutup kupingnya dengan headset, lalu rebah di bangku belakang dengan santai. Dia tampak malas untuk mendengar obrolan dua sejoli tersebut. "Heh! Kok pake headset?"

"Biarin aja, Fania," Hamdan melirik Zuhroh yang mendengkus keras masih dengan mata terpejam. "Kalo denger suara cup, cup, muach, muach diem aja, Zuro. Kencengin volumenya."

Fania menampar lengan Hamdan yang tengah membelokkan mobilnya, keluar dari pekarangan rumah Fania. Hamdan berhasil memaksa Fania untuk berkencan karena katanya jatah liburnya nggak lama. Jad selagi ada waktu luang, Hamdan mau berduaan.

Tapi Hamdan lupa, Fania dan Zuhroh satu paket! Setiap kali mau pergi, gadis itu selalu mengajak sahabatnya. Pertama, kasihan. Zuhroh memang akhir-akhir ini tampak murung usai kena pelet Rega. Kedua, buat jaga-jaga. Yang satu ini sukses membuat Hamdan tertawa, Fania rupanya masih ngeri berduaan dengan dirinya. Ketiga, memang gadis itu tak bisa jauh-jauh dari Zuhroh. Hamdan juga heran mengapa keduanya tak bisa terpisahkan, mungkin ari-ari mereka dikubur di tempat yang sama.

"Itu kamu bawa apa?" tanya Hamdan, dia lihat tadi Fania bawa tas cukup besar. "Curiga tuyul. Buat ngepet di sea world ya?"

"Bawa bekel itu," jawab Fania. "Aku buatin kamu omelette," Dia keluarkan satu tempat makan kecil dari tas jinjingnya. "Tadi pas berangkat kamu bilang nggak sempet sarapan."

Berbinar Hamdan, kalau saja tak sedang berkendara sudah dia kekep Fania. "Iya? Kamu perhatian banget sama aku, jangan manis-manis begini, Fani. Diabetes muda-muda aku yang ada."

"Serangan jantung lo mah!" sungut seseorang dari belakang.

Hamdan mengeryitkan dahi. "Kayak ada yang ngomong nggak sih?" ucapnya sengaja. "Mobil ini emang angker sih, dulu banget Nyi Roro Kidul pernah numpang nebeng di sini, bawa pengikutnya yang serem-serem, salah satunya kayaknya betah jadi penunggu mobil ini, sayang." cerita Hamdan, ngarang.

Dari belakang, Zuhroh menjambak rambutnya. Baru duduk usai Hamdan memekik tertahan. "Gue tuh sebenarnya males banget jadi nyamuk di antara kalian tau!" dengus Zuhroh, melipat tangannya di dada. "Tapi kalo gue nggak ikut, gue ngeri banget Fania diajak belok ke semak-semak sama lo!"

"Kok semak-semak sih? Oyo!"

Fania mencibir, kok bisa dia suka dengan modelan Hamdan begini? Nasib, dia jatuh hati pada sosok berwajah tenang yang matanya berkilat jenaka. Setiap kali Hamdan melihatnya seperti ada sisi jahil pria itu yang berlompatan girang. Seakan dia bersemangat, antusias untuk menggoda Fania. Tapi di sisi lain, dapat Fania temukan tatapan sayang yang tulus, memancar keinginan sederhana untuk membuat Fania selalu tertawa, bahagia.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di bawah Pintu Pengabdian Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang