33. Cara Rega

275 31 13
                                        

"Kok mau jadi nyamuk?"

"Udah biasa, jadi t-rex juga pernah gue." balas Zuhroh, masih jengkel karena ditinggal oleh dua monyet yang lagi kasmaran itu.

Rega meliriknya, memutar stir ke arah kiri mentok, keluar pekarangan museum dan memasuki jalan raya besar. "Mau makan apa?"

"Gak! Mau pulang aja!" Perempuan itu mendengkus, melipat tangannya di depan dada. "Gue mau susun rencana balas dendam yang setimpal dengan pengkhianatan Hamdan!"

Berlebihan banget. Tapi Rega tidak kaget, mengerti jika perempuan di sebelahnya itu ratu drama. Sepertinya Hamdan sudah memberitahu Zuhroh soal hubungannya dan Fania yang mendapat lampu hijau. "Makan dulu, kalau nggak mau nyebut tempat makannya, aku yang pilih sendiri sesuka hati."

Zuhroh melirik Rega nyureng, kembali menatap jendela. Lampu-lampu gedung di Jakarta sudah hidup, menambah estetika Ibu kota saat malam. Beberapa kali, bus biru lewat. Melesat, penuh oleh orang-orang. Kadang-kadang setiap Zuhroh melihat mereka yang berdiri di bus, dia kepikiran, secapek apa mereka?

Rega berhenti di sebuah warung pecel lele pinggir jalan, dia memarkir mobil di sebelah warung tersebut. Di depan ruko tutup. Lalu menoleh pada Zuhroh. "Ayo turun, lanjut nanti ngambeknya."

Zuhroh mencibir sikap Rega yang menurutnya terlalu dingin untuk menghadapi perempuan yang sedang ngambek. Bujuk kek, kasih duit kek segepok. Dia mendorong pintu, menutupnya kencang. Bodo amat meski Rega menoleh padanya dengan dingin.

Karena bagian depan penuh, mau tak mau mereka melipir ke sisi samping. Di bagian lesehan dengan karpet plastik. Rega melirik perempuan yang sibuk cemberut itu. "Mau apa?"

Belum ada balasan, Zuhroh sibuk menekuk wajahnya. Rega tidak kelihatan panik, tenang saja sambil menulis menu-menu yang pasti akan dimakan oleh si purik itu. "Satenya mau?"

"1000 tusuk!"

"Kunti?"

Zuhroh menoleh kesal. Rega cuma meliriknya sambil bangkit untuk menyerahkan pesanan. Saat kembali, dia bawa satu air botol perasa soda warna hijau yang disukai Zuhroh.

Gadis itu memekik karena rasa dingin yang menyengat menyentuh kulit pipinya. Direbutnya botol tersebut dari tangan Rega untuk dipukul ke bahu laki-laki tegap tersebut. Rega duduk di sebelahnya, malah terhibur melihat Zuhroh marah. Karena, dia jadi diam kalau ngambek.

Kebetulan di samping kedai itu ada tukang mie ayam, saat dia membuat pesanan, membuka panci besarnya, harum semerbaknya menggoda Zuhroh. Dia meneguk ludahnya, mie ayam itu seperti memanggil-manggil namanya. Tapi... Zuhroh melirik Rega yang kini sedang tersenyum miring, seperti sudah membaca pikirannya.

Sialan!

Rega menunggunya bicara, tapi Zuhroh ogah minta. Mereka mengadu ego. Zuhroh melirik sinis, tapi Rega biasa saja. Menikmati ini dengan senyum tipis.

"Ayamnya masih digoreng, masih cukup lama mungkin, mau mie ayam?" Rega akhirnya menawarkan saat melihat Zuhroh tetap keras kepala.

Tapi yang namanya Zuhroh itu urat malunya sudah putus. Dia mengangguk. "Mau!"

"Kunti sekarang nggak cuma makan sate, ya? Tapi doyan mie ayam?" ledek Rega, dia mau bangkit, tapi telponnya berdering. Rega meraih ponselnya, dia bicara di sebelah Zuhroh. "Bentar." Lalu mengangkat ponselnya.

Tiga menit, Zuhroh sabar. Lima menit kemudian dia mencolek lengan Rega, meminta uang. "Sini gue beli sendiri, bagi duit."

Rega mengangkat sedikit badannya, meraih dompetnya yang berada di saku belakang. Dia serahkan pada Zuhroh masih dengan menyahut 'Siap-siap' Di telepon. Lalu kembali fokus. Sementara itu Zuhroh melongo diberi dompet tebal itu.

Di bawah Pintu Pengabdian Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang