32. Modus Hamdan

304 31 3
                                        

Zuhroh pasti semalam tidur nggak pakai baca doa, karena mimpi buruknya berlanjut sampai pagi. Matanya nyureng ke arah Hamdan yang memamerkan genggaman tangannya dengan Fania, sahabatnya sendiri.

"Kami pacaran," Hamdan tersenyum miring, sengaja betul menghancurkan pagi cerah Zuhroh. Dia memajukan tubuhnya, sementara tangannya yang masih memegang tangan Fania itu ditaruh di atas meja, membuat Zuhroh makin cengap-cengap di depannya. "Bisa begini nggak sama Regalak itu?"

Fania menghela napas ketika Zuhroh mengedip-ngedip syok. "Gue juga heran kenapa gue nerima dia, Zuro. Gue rasa gue udah dipelet deh, bantuin gue sadar sebelum ilmu hitamnya makin menempel di tubuh gue, Zuro."

Hamdan menoleh tak terima. "Kok ngomongnya gitu, sayang?" Tapi kemudian dia kembali melirik Zuhroh yang masih mematung. "Woi, napas!"

Patah-patah tangan Zuhroh meraih botol plastik di meja makannya, lalu dia menuangkan sedikit isinya di telapak tangan, sebelum mencipratkannya ke wajah Fania sambil mulutnya berkomat-kamit.

"Hus! Hus! Lo pasti diguna-guna Hamdan, Fan. Hus! Hus! Pergilah jin dari tubuh Fania... Pergilah...." Zuhroh menggeleng cepat, merapal mantra sekali pakainya. "Buah nangka, ditaro santan. Sadarkanlah Fania, dari setan!" Walaupun lebih mirip pantun daripada mantra.

Hamdan menutup wajah Fania dengan satu tangannya. Berdecak pada reaksi Zuhroh yang menjengkelkan. "Lo nggak salah? Air doa lo harusnya lo siram ke gue, Zuro. Gue yang diguna-guna Fania tau nggak, orang setiap malam gue kepikiran Fania melulu. Apa namanya kalo nggak diguna-guna?"

"Mesum berarti lo! Ngapain lo mikirin Fania setiap malem?!" teriak Zuhroh, menaruh kasar botol plastik di tangannya. Lalu melirik Fania dan Hamdan bergantian, dia bergidik seketika. "Fan, lo nggak dicekoki obat atau miras kan sama si setan ini?"

"Gue emang setengah sadar sih pas nerima dia." sahut Fania sengaja.

Hamdan merajuk lagi, lucu sekali ketika pria itu mencoba menarik-narik lengannya. "Sayang, kok ngomongnya gitu?"

"Jijik banget, jangan ngomong sayang-sayangan depan gue anying!" Zuhroh menarik kerudungnya ke atas, tampak frustasi di tengah-tengah keramaian pengunjung lain restoran ayam yang bertebaran di jalan. "Hati gue kan dengki, kalo gue pengin juga gimana?! Panggil sayang ke siapa gue?!"

"Ke kuda noh." balas Hamdan, mengedikkan kepala ke jalan.

Benar, Delman baru saja lewat di sana. Monyet kan dia? Zuhroh menjambak rambut Hamdan kuat-kuat. "Aaaa! Nggak suka banget gue, kok lo ngerebut sahabat gue sih, Dan?! Gue mau sehidup seplenger sama Fania! Cita-cita gue mau keliling dunia berdua Fania sambil liat cogan-cogan. Gue nggak mau ya waktu Fania lo sitaaa! Dasar lo perusak persahabatan!"

Fania terkekeh melihat Hamdan diamuk oleh Zuhroh. Dia kemudian terkejut ketika Zuhroh memegang dua tangannya.

"Fan, ayo cek lab. Ngisep ganja kan lo sampe tiba-tiba mau jadi pacar si kunyuk itu?" ajaknya. "Lo bakal bosen sama Hamdan dalam 2 bulan, Fan. Nggak seru dia tuh, lebih enak senang-senang bareng gue selamanya!"

Hamdan menepis tangan Zuhroh, lalu menggenggam dua tangan Fania di depan dadanya. "Fania milikku sekarang." Dia menyentil kecil jemari Zuhroh. "Nggak usah pegang-pegang."

Zuhroh mendengkus. "Fan? Sumpah? Lo beneran mau jadi pacar pangeran kodok kayak dia? Mending jomblo aja nggak sih, Fan?" bujuknya, tidak menyerah. "Kita bisa bebas bareng, bisa main-main tanpa takut dilarang. Bisa godain duda-duda kaya, siapa tahu dapet Om Burhan. Ayo, Fan. Lo harus pilih menjomblo. Manfaatnya banyak, Fan."

Dia menatap sahabatnya sungguh-sungguh. "Lo tahu kan gue selalu punya ide-ide kreatif?"

"Ide sableng kali!" Hamdan menyela.

Di bawah Pintu Pengabdian Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang