Hai all,
Glad to see you again 😍😍
Thank you buat support kalian di chapter sebelumnya ya🤗
Di chapter ini, kita move one year later yaaa
Yuk vote dan comment 🤗🤗
Happy reading🫶🏻
🫀
Satu tahun setelah kepergian buah hati mereka, kehidupan pasangan Sean dan Dea tetap berjalan di negara yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Keduanya sama-sama berproses dalam penerimaan duka maupun penerimaan diri.
Sean melanjutkan sekolah kedokterannya dengan fokus, sementara Dea memilih aktif dalam kegiatan sosial dan konsultan pada suatu agensi modeling, yang masih melibatkan kemampuannya dalam hal desain busana.
Harmoni rumah tangga mereka tetap terjaga, tapi tidak bisa dipungkiri, seperti ada yang hilang, nafas mereka tidak sepenuhnya ada, meski sedang saat bersama.
Dea pulang lebih cepat dari kantor dan mendapati apartemen mereka mulai gelap. Sean mendapat jadwal tugas sampai malam, kemungkinan baru akan tiba sekitar jam sepuluh.
Pemanas ruangan sudah menyala, membawa kehangatan, yang selalu Dea cari, sejak kehilangan itu. Ia masih menitihkan air mata, berharap hidupnya sekarang adalah mimpi, berharap ia dan anaknya saling berpelukan dan melihat satu sama lain.
Televisi yang menyala tidak membuat Dea memerhatikannya. Memang matanya tertuju ke situ, tapi pikirannya masih melekat pada masa itu. Dea menarik selimut tipis di sofa, sambil membaringkan badannya, lalu ia akan menangis dalam diam.
Perasaan bersalah itu masih menggerogotinya. Entahlah, ini sulit sekali dimengerti. Dea meringkuk di atas sofa, ia memejamkan matanya, membiarkan televisi tetap menyala, begitupun air matanya.
Tanpa disadari, Dea sungguh tertidur di sofa, dan suaminyalah yang akan melihat dan memindahkannya ke kamar. Dea sadar di pagi harinya, saat bangun dari tidur dan menemukan dirinya ada di kasur.
Dea menoleh ke sisinya, masih ada Sean yang tertidur dengan wajah lelahnya. Entah bagaimana pria itu menyeimbangkan tanggung jawab yang ia punya sekarang. Dea bersyukur diberi pasangan yang resilien dalam situasi yang tidak menyenangkan. Saat Dea ingin menyerah, dia akan datang memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya.
Berhubung hari ini adalah akhir minggu, dan Sean mendapat jadwal day off, mereka berencana pergi jalan-jalan, kalau cuacanya mendukung. Dea mendekat ke tubuh suaminya, membenamkan wajahnya di dada Sean, lalu memeluk tubuh yang selalu menopangnya itu.
Dea kembali memejamkan matanya, merasakan ketenangan yang selalu hadir saat mereka bersama. Sejenak Dea berdoa dalam hatinya, lalu ia tidak bisa tidur lagi. Ia putuskan untuk memandangi sang suami dengan puas. Belakangan mereka jarang berduaan, waktu yang kadang-kadang tidak pas mempertemukan mereka.
"Mas." Dea panggil dengan suara pelan, seraya mengusap dagu Sean. "Hari ini jadi jalan?" Dea kembali menepuk-nepuk pipi Sean, dan pria itu menggeliat, berusaha membuka matanya.
"Kamu tiba jam berapa tadi malam?"
"Almost 11 PM." Sean menjawab dengan gumaman kecil, mata yang kembali menutup. Tangannya ia bawa ke batas pinggang Dea dan memeluk istrinya.
"Kamu angkat aku ke mari, kenapa nggak dibangunin aja?" tanya Dea.
"Kamu tidurnya pulas."
Dea mengembangkan senyum di bibirnya. Ia memajukan wajahnya, lalu mengecup singkat bibir Sean. "Makasih, Sayang," gumamnya pelan.
"My pleasure, Deaby." Sean merapatkan tubuhnya untuk memeluk Dea. Bibirnya tersungging tipis membentuk senyuman saat menerima kecupan manis dari sang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
RomanceDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
