Maaf ya for very slow update. Laptop kena bencana lagi jadi aku ketik ini semua lewat HP. Dan sorry for typos.
Oh iya, kemungkinan sekitar 5-7 bab lagi cerita ini habis :)
_________________________
Tanpa banyak bicara, Fathir segera menarik tanganku yang terkulai lemas dan bergerak menjauhi kerumunan. Aku hanya bisa mengikuti langkah Fathir yang cepat kemudian menoleh ke belakang.
Oh, tidak. Wajah Papa Fathir semakin kaku. Kayaknya semua semakin kacau.
Aku kembali menoleh ke depanku dan merasa 'sedikit' bersalah. Di sini peranku hanya bisa diam dan tidak melakukan apa-apa. Di satu sisi aku ingin Fathir dan Papanya berbaikan dan merundingkan masalah mereka sampai selesai. Di sisi lain Fathir terlihat 'sangat benci' dengan Papanya sehingga aku yakin kalau mereka dipersatukan kembali, bom Hiroshima Nagasaki tidak perlu jauh-jauh meledak sampai ke Jepang melainkan saat ini juga.
Jadi.. Fathir? Atau Papanya? Fathir? Atau..
Oh tidak oh tidak oh tidak! Barbie bingung!
Setelah badanku dilempar Fathir masuk ke dalam mobil, Fathir juga ikut duduk kemudian menyalakan mesin dan membawa mobilnya jauh dari sini. Aku tidak tau dibawa kemana tapi aku tidak mau ambil pusing. Pasti Fathir tidak akan melakukan hal macam-macam denganku.
Selama di perjalanan, Fathir tidak berbicara sama sekali. Bahkan untuk menoleh padaku juga tidak. Biasanya kami suka menyetel lagu di radio dan bernyanyi keras-keras di dalam mobil namun kali ini tidak. Aku ingin mengajaknya bicara tapi... aku takut.
Empat puluh lima menit perjalanan yang 'sungguh sangat menyiksa ini' ternyata menuju depan gang kost anku. Keadaan sudah gelap dan hanya ada lampu jalan yang menerangi sekitar kami. Jadi... setelah kami bersenang-senang merayakan kelulusan Fathir harus berakhir dengan kejadian 'tadi'?
Takut-takut, aku menoleh ke arah Fathir yang sudah diam bergeming. Mobil ini sudah berhenti namun mesinnya masih menyala. Sepertinya Fathir tidak akan berlama-lama di sini apalagi sampai mampir ke kost anku.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku dibekap hangat. Kedua tangan itu menyelimuti punggungku dan aku juga merasakan deru napas di bahuku. Pelukan itu sangat erat, badanku saja sampai sulit untuk digerakkan.
"Nes.." Dia bergumam, memanggilku dengan nada rendahnya. Aku terdiam.
"Maaf hari ini kamu lihat begitu banyak kejadian.." bisiknya di depan telingaku. Kedua tangannya semakin erat memelukku.
Aku bisa merasakan hidupnya yang 'hampa' dari suaranya. Dia mungkin terlihat dingin selama ini karena didikan Papanya. Apalagi melihat Fathir yang 'notabene' anaknya tetapi diperlakukan kejam di hadapanku yang bukan siapa-siapa.
Mengingat permintaan maafnya membuat kedua mataku berembun dan terasa panas. Tanpa kusadari tanganku bergerak memeluknya, sama seperti yang Fathir lakukan. Lalu bergerak melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Fathir dengan kedua tanganku.
"Gimana? Masih sakit ya?" Aku berbisik sambil menggerakkan tanganku di pipinya yang terlihat sedikit bengkak. Bahkan bekasnya terlihat jelas jika diperhatikan baik-baik. Fathir terlihat mengernyit ketika menyentuh bekas tamparan tadi. Air mataku mengalir turun.
"Nes.." Kedua bola mata Fathir bergerak cemas ketika tangisku semakin kencang. Tanganku segera memeluk bahunya, menangis di sudut lehernya.
"Kenapa kamu bisa sekuat itu.. Dan kenapa kamu malah jawab gitu Thir? Kenapa kamu malah ingin dibunuh? Aku kan enggak mau..." Tangisku semakin kencang, memutuskan kalimatku yang belum selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Settle for Less
General Fiction(SEDANG DIREVISI) Jatuh cinta sama pengamen? Kenapa tidak? Toh belum tau kan aslinya gimana? Fathir tidak menyangka pertemuannya dengan pengamen ini membuatnya terperangah. Semua terasa datar di hidupnya tapi berbeda setelah kehadiran Nesha, pengame...
