7 - Beauty And the Beat

754 34 0
                                        

Aku masih menatap cowok itu heran. Padahal dia tadi agak terkejut melihatku. Tapi kok sekarang malah menyeringai seram? Sumpah! Dia nyeremin banget!

"Nes! Nes!"

Samar-samar aku mendengar bisikan dari sampingku.

"Nes! NES!" Bisikan itu semakin jelas. Kayaknya ini suara Abi nih. Bodo amat lah! Aku kan lagi mikirin.... Senyumannya kok semakin lebar?! Dia tidak terlihat menyeramkan lagi kali ini! Dia malah menahan tawa geli.

LOH? Kok dia malah tertawa sih? Emang aku nge-lucu apa? Apa yang lucu sih?

"Lo mau mainin lagu sampai kapan? Udah abis, Neng!"

Bisikan Abi itu seolah menamparku. Aku menoleh ke arah Abi yang sedang menatapku tajam. Rahangnya terlihat menegang, seperti menahan malu. Tapi lain dengan Noval. Dia malah terlihat bertanya-tanya. Melongo bingung.

Aku terlihat sangat bodoh saat ini. Tanganku masih memainkan gitar, terbengong-bengong melihat mereka yang sudah berhenti main. Dan aku yakin pasti wajahku udah bego banget ini. Enggak ada cakep-cakepnya!

Kok aku berasa bodoh begini? Otak! Berpikirlah otak!

OH IYA! Aku tersenyum lebar ke arah penonton. Terlihat hampir semua penonton mengernyit kebingungan, termasuk sang cowok ganteng. Dia enggak tertawa lagi sekarang, membuat perasaanku sedikit lega.

Tenang ya cowok ganteng! Aku enggak bakal malu-maluin kok hihihi... Aku menunduk dan mengambil napas sebanyak-banyaknya agar tidak terlalu canggung.

Semakin lama permainan gitarku semakin melambat dan..

Aku memutuskan untuk menyanyikan lagu Justin Bieber – Beauty And A Beat.

"Show you off, tonight I wanna show you off..."

"Waaa! Lagu Justin!" Ada beberapa dari kerumunan penonton yang menjerit. Jeritan mereka bahkan mengantarkan banyak penonton baru karena penasaran. Alhasil kerumunan penonton semakin ramai.

Abi dan Noval mengerti maksudku. Abi juga ikut bermain Sella dan menghela napas lega. Dia tidak lagi menatapku horror, dia malah tersenyum 'sok manis' ke hadapan penonton. Sementara Noval sudah bersiap-siap dengan kajoon-nya, menunggu waktu yang pas untuk masuk.

Tanpa diragukan lagi, kami membawakan lagu ini dengan baik. Enggak ada rasa gugup, biasa aja. Kenapa? Karena kami pernah menggunakan lagu ini untuk mengamen di bis. Penampilan kami waktu itu juga mengundang perhatian, apalagi kaum hawa.

Penampilan kami ditutup dengan permainan gitarku agar semakin ciamik.

"Jreng!"

Tepuk tangan heboh datang dari arah penonton. Tepukan tangan itu membuatku terperangah. Penampilan kami sukses besar! Hahaha! Aku baru sadar yang menonton pertunjukan kami sangat banyak. Aku, Abi, dan Noval dikelilingi banyak mahasiswa sehingga menutupi sinar matahari sore saat ini. Bahkan beberapa HP juga merekam aksi kami tadi.

Aku tersenyum lebar dan bahagia. Yeay! Epic safe!

Mataku juga menangkap cowok ganteng itu tidak bertepuk tangan tapi dia tersenyum tipis. Aku tau senyuman dia mungkin untuk penampilan kami tapi... Boleh kan aku ge-er sedikit? Mungkin aja kan senyumnya itu untukku?! Hatiku semakin berbunga-bunga melihatnya.

Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan kerumunan bersama temannya tadi. Senyumanku memudar. Aku berusaha melihat punggungnya yang sudah berbalik dan perlahan menghilang. Entah kenapa aku merasa... Kehilangan. Aku tak rela cowok itu pergi. Tau namanya aja belom! Pin BB, ID Line, instagram, twitter,...

Settle for LessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang