Nesha mengambil tempat jauh-jauh, menempel erat dengan pintu mobil Fathir. Dia tak mau repot-repot menoleh ke arah Fathir. Dengan tangan terlipat di depan dada, Nesha memandang setiap bangunan yang melintas di matanya. Tak mau dia menyesal jika meluangkan satu detiknya saja, agar sadar kalau ada sosok Fathir di sampingnya.
"Helm kamu enggak mau dilepas?" tanya Fathir. Tidak terdengar heran atau mengejek Nesha karena memang tidak ada emosi dalam nada suaranya.
Nesha terdiam. Sejak tadi helm yang dipasangnya di kepala belum juga dilepas. Dia masih kesal sama Fathir. Saking kesalnya, dia sudah terlanjur malas ingin membuka helmnya. Dan selalu ketika mobil Fathir berhenti, matanya bergerak ke kaca depan, melihat apakah ada lampu merah atau tidak. Kalau ada lampu merah, dia kabur.
Tapi sepertinya semua itu hanya imajinasi di kepalanya. Buktinya dia masih saja duduk di tempatnya sambil terus menghela napas.
"Oh, jangan-jangan kamu mau pecahin kaca mobil pakai helm ya?" Fathir tertawa mendengar pemikirannya sendiri. Nesha menoleh sinis ke arah Fathir. Wajahnya tetap cemberut.
Fathir sudah menghentikan laju mobilnya. Mereka sudah sampai di depan TK tempat Nesha mengajar. Lelaki itu bergerak bersender di pintu mobilnya, ikut-ikut bersedekap dada seperti Nesha, menatap wanita yang terlihat masih marah itu.
"Oke, silahkan kalau mau dipecahin. Tuh ada kunci inggris di belakang kalau mau," tambah Fathir. Sekarang dia benar-benar mengejek Nesha.
Nesha melepas helmnya, dia menatap Fathir dengan mata tajam. Dan menahan helm itu di pangkuannya.
"Aku enggak ngerti kalau kamu udah berubah jadi cowok brengsek atau apa. Tapi kayaknya aku anggap iya! Sekarang, apa yang kamu dapat setelah menahan aku di sini? Aku akan kembali lagi sama kamu gitu? Enggak!" ucap Nesha mengeraskan suaranya.
Dia marah karena Fathir kembali seenaknya. Dia marah karena Fathir tidak mengerti perasaannya. Mengapa Fathir sangat egois akan perasaannya sendiri?
Fathir menatapnya diam. Setelah perjalanan yang panjang tadi, Nesha baru berbicara padanya. Tapi Nesha justru membentak padanya, membuat egonya sedikit demi sedikit terkikis. Dia bisa merasakan sakit hati dari suara wanita itu. Dan jujur hatinya juga ikut sakit.
"Apa kamu senang lihat aku sedih lagi? Iya? Kamu seneng gitu lihat aku sedih lagi? Kamu seneng gitu lihat hidupku jadi enggak tenang?" tanya Nesha lagi. Dia memalingkan wajahnya, membuang sesak dari dadanya. Merasa miris.
Tiba-tiba ada tangan yang berjalan melewati pandangannya, yang ia sadar bahwa itu tangan Fathir. Nesha menoleh terkejut ke arah tangan itu lalu menuju wajah Fathir. Ternyata Fathir hanya ingin membuka pintu di sebelah Nesha. Setelah pintu itu terbuka, Fathir menatapnya tanpa ekspresi.
"Kamu mau keluar kan?" tanya Fathir tenang. Dia tidak menjawab rentetan pertanyaan Nesha, bahkan nada suaranya tidak mengejek Nesha lagi.
Sambil menyipitkan matanya, tangan Nesha mengambil tasnya lalu berjalan keluar. Selang beberapa detik, bunyi berdebum keras terdengar karena Nesha membanting pintu mobil itu kencang.
Fathir menghela napas lelah. Nesha membencinya, dia sadar itu. Padahal Nesha tidak mengatakan kalau Nesha membencinya tapi Fathir bisa merasakannya. Karena Nesha telah memberikan aura permusuhan singkat.. yang entah kapan bisa dihilangkan olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Settle for Less
General Fiction(SEDANG DIREVISI) Jatuh cinta sama pengamen? Kenapa tidak? Toh belum tau kan aslinya gimana? Fathir tidak menyangka pertemuannya dengan pengamen ini membuatnya terperangah. Semua terasa datar di hidupnya tapi berbeda setelah kehadiran Nesha, pengame...
