26 - Ini Bukan Hukuman (1)

327 22 4
                                        

Bagian ini panjang banget sampe siwer bacanya. Jadi dibagi dua dulu ya..

_____

Nesha bersender di dinding belakangnya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya, memerhatikan taman TK yang terletak di belakang gedung ini. Wajahnya terlihat tak ingin diganggu, sedang memikirkan sesuatu.

Taman TK ini tidak ramai. Jelas karena memang daerah ini ditutup ketika jam pulang tiba. Luasnya cukup untuk menampung berbagai macam permainan anak-anak, di pinggirnya dihiasi rambatan bunga beraneka warna, juga kolam ikan koi yang terletak di ujung taman. Seharusnya pemandangan seperti ini membuat mereka merasa damai, akan tetapi justru mereka merasa ketegangan.

Fathir yang juga bersender di tembok itu, bangkit dan berjalan menuju ke hadapan Nesha.

"Kamu mau aku bicara tentang motor kamu atau yang lain?" tanya Fathir seperti ingin meremehkan. Tapi karena nada berbicaranya sangat datar, perkataan seperti itu bisa menjadi serius.

Nesha membuang pandangannya, kesal.

"Cepat mau ngomong apa? Aku malas lihat muka kamu.." ucap Nesha pelan di akhirnya. Sebetulnya kata-kata ini bukanlah yang ia rasakan. Dia sungguh sangat merindukan laki-laki di depannya. Namun dia takut Fathir tidak merasakan hal yang sama. Dia takut terluka karena berharap terlalu tinggi.

Tapi Nesha juga bertanya-tanya, kenapa Fathir rela datang menemuinya? Apa benar ini semata-mata karena urusan motornya? Atau karena Fathir punya maksud lain?

Menyadari Fathir malah terdiam, Nesha mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Fathir yang memandangnya tanpa ekspresi. Tapi mata Fathir mengatakan lain. Dia terlihat terluka mendengar pengakuan Nesha barusan. Dan Nesha menyadari itu dari kelabu gelap di mata Fathir.

"Oke kalau kamu enggak mau lama-lama," Fathir mengambil napas sejenak.

"Kamu tau sekarang aku jadi apa?" tanyanya.

Nesha heran.

"Tadi katanya kamu enggak mau lama-lama kan? Kenapa malah ajak ngobrol?"

"Justru kalau kamu enggak mau jawab, aku malah semakin lama di sini," ucap Fathir tenang yang justru bernada ancaman bagi Nesha.

Nesha menggertakkan giginya karena kesal. Dia marah kenapa Fathir bisa bersikap setenang ini padanya. Padahal Fathir belum juga menjelaskan tentang masa lalu mereka. Jika teringat hal itu, membuat Nesha ingin menampar Fathir atau memakinya. Dia ingin sekali melakukan hal-hal itu tapi dia tau kelak dia akan menyesal. Nesha membuang napasnya, berharap amarah dalam dirinya ikut keluar bersama uap napasnya.

"Enggak tau. Pengusaha kayak papa kamu gitu?" jawab Nesha malas. Fathir tersenyum.

"Aku sekarang punya Event Organizer. Promotor acara kalau bisa disebut begitu," ralat Fathir, sedikit berbeda dengan tebakan Nesha barusan.

Nesha terdiam. Bukan karena ia salah menebak tapi tiba-tiba otaknya berpikir. Sebentar, bukannya dulu Fathir pernah cerita kalau dia disuruh melanjutkan perusahaan papanya? Dan setau Nesha, perusahaan itu tidak sejenis dengan yang Fathir bilang. Perusahaan makanan ringan kalau tidak salah.

"Dulu aku ke Australia buat kuliah magister. Tapi bukannya kuliah, di sana aku malah melakukan hal lain. Aku rasa, semakin aku jauh dari papaku, aku menjadi semakin berani. Karena di sana, aku menjadi kamu dalam jenis dan lokasi yang berbeda.." jelas Fathir sambil mencoba melihat apakah ada perubahan ekspresi di wajah Nesha. Dan tebakannya benar. Nesha terlihat bingung meskipun dia tak mau bertanya.

"Aku ngamen di sana," lanjut Fathir bangga. Nesha menoleh ke arah Fathir kaget.

"Hah?!"

"Aku jalan-jalan di pinggir kota, membawa gitar, mencari uang.. Rasanya menyenangkan. Aku mengerti kenapa dulu kamu lebih suka menyanyi di pinggir jalan ketimbang menyanyi di atas panggung. Semua yang kamu katakan dulu terasa benar saat itu," kenang Fathir. Nesha tak bisa berkata apa-apa.

Settle for LessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang