Bagian 38

215 41 25
                                        

Entah berasal dari mana, kabar bahwa Pinka menuduh Abim berbuat curang dalam pilketos seketika menyebar luas. Sebab sedari awal citranya memang sudah buruk, gunjingan tentang dirinya semakin menjadi-jadi. Bukan hanya di belakangnya, beberapa siswa justru terang-terangan menyindir Pinka di depan muka.

"Bro pikir setelah sedikit lebih dekat sama Nusa tiba-tiba berubah jadi manusia suci."

"Kocak. Itu kalau enggak dibantuin Nusa juga dia enggak bisa nyalon jadi ketos. Manusia-manusia kurang bersyukur."

"Padahal Abim sama Nusa sama sucinya. Kenapa ada seenggok Pinka di antara mereka. Herman."

"Kesabaraan Pak Azam pasti seluas samudra menghadapi Pinka."

"Dia mah cocoknya emang jadi ketua gengster, ngide banget tiba-tiba mau jadi ketos. Mana nuduh-nuduh Abim nyogok lagi. Aslinya mesti dia yang main duit, tapi ga cukup tuh modalnya."

"Orang mau orasi aja pingsan sok-sokan bilang Abim nyogok. Hadeh .... iri bilang bosss!"

"Ka, lo oke?" Evelyn menyenggol bahu Pinka ketika sedari tadi gadis itu hanya memandangi latihan soal LKS tanpa sedikitpun bergerak untuk dikerjakan. Keduanya memilih menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan untuk menghindari pembicaraan buruk orang-orang.

Pinka tak menjawab. Ada perasaan yang sangat-sangat menganggunya. Dan itu bukan sebab dari omongan buruk tentang dirinya, melainkan ketidakhadiran Nusa hari ini. Apakah lelaki itu masih sakit? Mengesampingkan semua kecurigaan yang Pinka taruh kepadanyaa, ia benar-benar membutuhkan sosok yang akan membelanya dengan cara yang paling menenangkan dan rasional.

"Gue mau izin pulang habis istirahat deh, Lyn," gumam Pinka seraya merapikan buku-bukunya.

"Why? Sangat menganggukah? Harusnya kita lapor ke BK engga sih? Mereka udah kelewatan."

"Enggak usah, Lyn. Gue bisa ngamuk kalau lama-lama di sini," ucap Pinka, "sedang pawang gue engga ada," lanjutnya dalam hati.

Anda
Sa, lo di rmh?
Gw ... pgn ketmu.

Seolah tanpa sadar, pesan itu ia kirimkan begitu saja.

***

"Sok sibuk banget kamu sampai saya harus menghubungi berulang kali biar dateng." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Maya. Ia sudah mengirimi pesan meminta pertemuan sejak Nusa dan Pinka masih di Bandung. Namun, remaja itu baru saja membalas pesannya setengah jam sebelum mereka benar-benar bertemu.

"Harusnya kalau memang butuh dan berani, Tante bisa mengundang saya langsung ke rumah," jawab Nusa.

Maya tak langsung menjawab. Ia dapat melihat dengan jelas raut pucat dan bekas keringat masih tampak di leher Nusa. Kali terakhir mereka bertemu di luar rumah, lelaki itu tiba-tiba pingsan di hadapannya. Dan kini, bukannya empati melihat sosok itu tidak dalam keadaan baik, Maya justru merasa saat ini adalah memontum yang tepat untuk menyudutkan sosok itu.

"Jalan Indrayasa no. 101, Cibaduyut, Bandung," Maya menyebutkan sebuah alamat, "ternyata selama ini kamu menyembunyikan Viola di sana."

Tidak ada respons yang berlebih dari Nusa. Ia sudah menduga jika ibunya itu pasti akan mengumpulkan semua informasi tentang dirinya dan sang kakak. "Baru sekarang, Ma? Setelah Mama merasa terancam, lalu mengumpulkan informasi tentang kami?" sarkasnya, "coba tawaran apa yang Mama punya, siapa tahu menarik," tantangnya. Ia paham jika Maya mengatur pertemuan ini untuk mengancamnya. Dan dengan sisa-sisa tenaganya, Nusa ingin mendengar sejauh mana Maya mampu berbuat.

"Saya masih menyimpan kontak orang-orang yang masih punya hubungan utang dengan Viola. Saya bisa aja menyebarkan alamat kalian agar orang berbondong-bondong mengusik ketenangannya," ancam Maya, "oh satu lagi, Viola juga masih dalam tahap penyembuhan, ya. Sepertinya kalau kita guncang sedikit dia bisa-bisa langsung keluar dari persembunyiannya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Nusa SagaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang