Ketegangan di ruangan itu bukan lagi sekadar udara yang menipis, melainkan sesuatu yang berwujud--berat, mencekik, dan berbau logam yang tajam. Namjoon berdiri tegak, napasnya diatur sedemikian rupa untuk menahan gejolak emosi yang ingin meledak. Ia menatap Vee, bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan lelah yang teramat dalam.
"Dengarkan aku, Vee," suara Namjoon merendah, hampir seperti bisikan yang menyayat. "Aku tidak akan melakukannya. Kau tahu betul, hubungan kita bukan hanya tentang dominasi atau tunduk di bawah keinginan impulsif kita berdua. Kau bukan semata hanya submissive dalam hubungan ini, dan aku bukan juga monster yang akan memuaskan kegilaanmu lewat paksaan."
Vee menatapnya dengan mata yang telah kehilangan fokus. Perlahan, lututnya lemas. Ia tidak lagi peduli pada harga diri yang tersisa. Dengan gerakan yang menyakitkan, Vee menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut tepat di kaki Namjoon, memeluk erat pergelangan kaki pria itu.
"Tolong, Joon... aku memohon padamu," isak Vee, suaranya parau, pecah oleh tangis yang tak lagi tertahankan. "Sentuh aku. Ambil milikku yang masih utuh. Aku tidak tahan lagi. Kalau kau tidak melakukannya, aku mati. Aku benar-benar mati, Namjoon!"
Namjoon menghela napas panjang, mencoba menarik kakinya namun Vee justru mengeratkan pelukannya. "Katakan padaku, Vee. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Jimin? Kenapa kau begitu terobsesi dengan hal ini sejak hari itu? Kenapa? Apa Jimin melecehkanmu?"
Vee bungkam. Ia hanya menggelengkan kepala, membenamkan wajahnya di lutut Namjoon. Ketidakmampuannya untuk berbicara, untuk mengeluarkan kebenaran yang sebenarnya hanya ada di balik paranoia yang merusak otaknya sendiri, membuat Namjoon menarik diri sepenuhnya.
"Jika kau tidak mau bicara, jangan harap aku akan melakukan apa pun," ucap Namjoon dingin. Ia berbalik, meninggalkan Vee yang berlutut sendirian di atas lantai dingin.
Dan sejak hari itu, silent treatment dimulai. Namjoon berhenti bertanya, berhenti membujuk, dan berhenti hadir sepenuhnya di kehidupan Vee.
Hari-hari bagi Vee berubah menjadi kepingan kaca yang tajam. Saat Hoseok akhirnya pulang ke rumah setelah menghabiskan malam-malam di luar, Vee menyambutnya bukan dengan sapaan, melainkan dengan badai amarah.
"Ke mana saja kau?!" bentak Vee, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah. "Kau tidak belajar! Kau malah keluyuran tidak jelas! Sekarang, duduk! Belajar di depanku sekarang juga! Telepon Namjoon dan suruh dia datang kesini untuk memberimu les tambahan seperti yang ibu suruh! Atau kuberi tahu Ayah dan Ibu kalau kau menginap di rumah teman sembarangan selama berhari-hari! Dan jangan kira aku tidak tahu kau mulai merokok, Hoseok! Kau ingin kuhancurkan sekarang?!"
"Iya iya... Ya ampun tenanglah, kak. Aku akan menelpon Namjoon dan memintanya belahar bersamaku, tapi tolong jangan mengatakan apapun pada ayah dan ibu..."
Hoseok yang kelelahan dan terintimidasi oleh kondisi Vee yang tak stabil, akhirnya menuruti perintah itu. Ia menelepon Namjoon, memohon dengan sangat agar pria itu datang demi menenangkan kakaknya dan bukannya menyuruh Namjoon untuk belajar bersamanya.
Saat Namjoon akhirnya tiba di ruang tengah rumah mereka, suasana terasa begitu mencekam. Tak hangat seperti biasanya. Vee telah mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang--jika dibandingkan dengan kondisi mentalnya yang kacau--terasa sangat menggoda. Ia mengenakan sutra hitam yang tipis, jatuh dengan anggun membalut lekuk tubuhnya, namun kontras dengan rambut pendeknya yang sudah tiba-tiba saja dipotong asal-asalan.
Vee mendekati Namjoon, langkahnya gemulai, memancarkan aura yang begitu sensual. Ia merayap di sekitar tubuh Namjoon seperti kabut yang memikat. Dengan jemari yang gemetar namun berani, Vee menyentuh rahang Namjoon, lalu turun ke leher pria itu, membiarkan ujung kukunya menggores tipis kulitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Fanfiction[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
