Malam itu udara terasa berat, sarat akan aroma hujan yang tertahan di balik awan kelabu. Di teras kediaman keluarga Jimin yang megah namun dingin, waktu seolah berhenti berputar. Suara petikan gitar akustik yang asal-asalan dari jemari Jimin mengisi kekosongan, memecah kesunyian yang mencekam dengan melodi sumbang yang menyesakkan dada.
Vee duduk di sana, terpaku seperti patung pualam yang retak. Midi dress milik ibu Jimin yang membalut tubuhnya terasa seperti kain kematian. Begitu tipis, begitu asing, begitu pekat. Setiap helaan napas adalah siksaan, sebab otot-otot di balik gaun itu masih berdenyut nyeri, sisa dari permainan tanda kutip psikopat remaja di sampingnya.
Jimin--iblis yang bersembunyi di balik kulit remaja yang manis--sedang memetik gitar dengan santai. Senyumnya begitu menawan, begitu polos, seolah dia hanyalah seorang anak sekolah menengah atas yang sedang bergumul dengan inspirasi lirik lagu cinta. Namun, Vee tahu kebenaran busuk di balik senyum itu. Ia tahu bahwa jemari yang kini memetik senar gitar itu adalah jemari yang beberapa jam lalu mencekiknya hingga nyaris tak sanggup bernapas.
"Noona, ingat senyumnya," bisik Jimin, suaranya halus seperti sutra yang siapapun tak akan tahu bahwa kemerduan suara itu mengandung racun yang mematikan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, matanya yang gelap menatap Vee dengan kilatan ancaman yang hanya bisa dipahami oleh wanita itu. "Jangan sampai ada satu otot pun di wajahmu yang berkhianat, atau aku akan pastikan Hoseok menjadi korban pertamaku besok pagi."
Vee menelan ludahnya yang bagaikan serpihan kaca. Rasa pahit dan perih memenuhi tenggorokannya. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum yang terasa menyakitkan, sebuah topeng rapuh yang siap pecah kapan saja.
Lalu, suara ayuhan pedal sepeda membelah kesunyian malam. Cahaya lampu depan sepeda Namjoon menyapu pekarangan, menyilaukan mata.
Namjoon turun dengan gerakan kasar. Kakinya menapak di aspal dengan tekanan yang menunjukkan kemarahan yang tertahan di balik kendali yang sangat ketat. Jaket kulitnya terbuka, memperlihatkan kemeja yang berantakan, dan rambutnya yang berantakan tertiup angin malam menambah kesan liar yang berbahaya. Mata elangnya terkunci pada satu titik, Vee.
"Veeoleta..." Suara Namjoon rendah, serak, dan bergetar karena emosi yang meluap-luap. Itu bukan sekadar panggilan, melainkan sebuah pernyataan perang.
Langkah kaki Namjoon terasa seperti dentuman palu yang menghujam jantung Vee. Setiap derapnya adalah pengingat bahwa ia berada di ambang kehancuran. Namjoon berjalan lurus, mengabaikan gravitasi di sekitarnya, seolah-olah hanya ada Vee di dunia ini yang sedang membutuhkan penyelamatan.
Jimin, dengan kelincahan yang membuat bulu kuduk berdiri, meletakkan gitarnya dan berdiri. Ia tidak mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan tangan terlipat di depan dada, memasang topeng anak baik yang paling meyakinkan yang pernah ia ciptakan.
"Sunbae! Akhirnya sampai juga!" sapa Jimin, suaranya ceria, santai, dan penuh dengan aura keramahan palsu yang sangat memuakkan. Ia tidak mempedulikan aura mematikan yang terpancar dari Namjoon. "Maaf ya sudah pinjam Noona sebentar. Dia ini memang inspirasi terbaik kalau soal lirik lagu. Tadi aku buntu sekali, tapi Noona membantu memberikan perspektif yang... sangat indah..."
Jimin melirik Vee, matanya menyipit dengan peringatan yang tak terucapkan.
Namjoon berhenti tepat beberapa inci dari Jimin. Tinggi mereka yang hampir sama karena Jimin berdiri diundakan teras membuat atmosfer di antara keduanya menjadi sangat menindas. Namjoon tidak menjawab. Ia tidak menoleh pada Jimin. Seluruh dunianya, seluruh pusat gravitasinya, tertuju pada Vee yang duduk gemetar di teras.
"Veeoleta," panggil Namjoon lagi, kali ini lebih lembut, namun nada itu justru lebih menyakitkan bagi Vee karena sarat akan kasih sayang yang tak pantas ia terima saat ini. Namjoon mengulurkan tangannya, jemarinya yang hangat dan kuat terulur untuk menyentuh wajah Vee. "Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak membawa ponselmu? Kenapa kau berada di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Fiksi Penggemar[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
