Bau antiseptik yang tajam dan dinding putih yang steril menyambut kesadaran yang terpecah-pecah. Di dalam kamar observasi khusus di bangsal psikiatris itu, waktu kehilangan maknanya. Vee terbaring lemah dengan selang infus menancap di punggung tangan kanannya, menatap langit-langit ruangan yang hampa. Obat penenang yang baru saja disuntikkan oleh dokter memang berhasil meredam histerianya, namun tidak dengan badai yang berkecamuk di dalam kepalanya. Bayangan itu masih ada, bersembunyi di balik kelopak matanya yang terpejam.
Di luar ruangan, di koridor rumah sakit yang sunyi, Namjoon berdiri dengan jemari gemetar menggenggam ponselnya. Setelah berdebat sengit dengan pihak medis mengenai kondisi psikologis Vee yang mengalami psychotic break akibat trauma berat dan paranoia akut, ia harus melakukan satu hal yang paling dihindarinya; menelepon Hoseok.
Tak lama kemudian, derap langkah tergesa-gesa memecah keheningan lorong. Hoseok datang dengan napas memburu, seragam sekolahnya berantakan, dan sorot matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. Begitu melihat Namjoon berdiri di depan pintu kaca kamar rawat, darah pemuda itu mendidih. Tanpa aba-aba, Hoseok menerjang maju dan melayangkan sebuah pukulan keras tepat ke rahang Namjoon.
Bugh!
Namjoon terhuyung ke samping akibat hantaman mendadak itu, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Namun, ia tidak melawan. Ia hanya diam menerima, membiarkan rasa sakit fisik itu meredakan sebagian kecil rasa bersalah yang membakar dadanya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada kakakku, bajingan?!" jerit Hoseok histeris, air matanya tumpah ruah, mencengkeram kerah jaket Namjoon dengan penuh kebencian. "Sejak berhubungan denganmu, sejak dia dekat denganmu, Vee jadi aneh! Dia hancur, dia ketakutan, dan sekarang dia berakhir di tempat terkutuk seperti ini! Di mana tanggung jawabmu?!"
Sebelum Namjoon sempat membuka mulut untuk membela diri, pintu kaca di samping mereka terbuka perlahan. Vee, dengan piyama rumah sakit yang kebesaran dan wajah pucat pasi bagaikan mayat hidup, berdiri di ambang pintu dengan bantuan tiang infus. Mendengar teriakan adiknya, Vee menggelengkan kepalanya lemah.
"B--bukan... bukan salah Namjoon, Hoseok..." bisik Vee, suaranya parau, pecah, dan nyaris tak terdengar. Dengan langkah tertatih-tatih, ia mendekati adiknya, meraih lengan Hoseok dengan tangan yang gemetar hebat. "Jangan salahkan dia... Ini salahku... Semua ini salahku..."
Hoseok menoleh. Dan saat ia melihat secara langsung kondisi kakaknya--pipi yang tirus, tatapan mata yang kosong, rambut pendek yang terpotong asal-asalan, serta tubuh yang kurus kering tak berdaya--pertahanan pemuda itu runtuh seketika. Hoseok menjatuhkan dirinya ke lantai, menangis histeris sejadi-jadinya, merengkuh kaki Vee sambil meraung ketakutan melihat saudara sedarahnya telah berubah menjadi seseorang yang nyaris tak ia kenal.
Di tengah isak tangisnya yang memilukan, Hoseok merogoh saku celananya dengan tangan gemetar, lalu menelepon kedua orang tua mereka, menyuruh mereka segera pulang dan menghentikan perjalanan bisnisnya karena Vee berada di bangsal sakit jiwa.
Malam semakin larut ketika suasana kembali tenang. Orang tua mereka belum tiba, dan Hoseok tertidur lemas di kursi tunggu luar. Di dalam kamar rawat, lampu dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu koridor yang menembus jendela kaca.
Namjoon duduk di kursi samping ranjang. Ia mengira Vee telah terlelap dalam pengaruh obat penenang. Di dalam kesunyian itu, pertahanan pemuda yang terkenal keras dan rasional itu akhirnya jebol. Namjoon menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya, sementara air mata hangat menetes membasahi lantai. Isakan tertahan lolos dari bibirnya.
"Maafkan aku, Vee..." bisik Namjoon parau, suaranya bergetar hebat menahan beban kepedihan yang luar biasa. "Maaf karena aku gagal melindungimu. Maaf karena aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu... Seharusnya aku tidak meninggalkanmu malam itu. Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendirian menanggung semua ini."
Sebuah gerakan pelan menghentikan gumaman penyesalan Namjoon. Vee, yang sejak tadi tidak benar-benar tidur, membuka matanya perlahan. Menatap punggung pria yang dicintainya bergetar karena tangis, hati Vee teriris sembilu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Vee mengulurkan tangannya yang berselang infus, menyentuh jemari Namjoon yang dingin.
"Itu... bukan salahmu, Joon," lirih Vee, suaranya begitu lemah namun sarat akan ketulusan yang memilukan.
Namjoon mengangkat kepalanya, menatap manik mata Vee yang basah oleh air mata. Ada keputusan berat yang tersirat di dalam sorot mata Namjoon--keputusan yang telah ia pikirkan selama berjam-jam di ruang tunggu tadi. Pria itu menelan ludah kelat, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Vee... kita sudahi saja ya," ucap Namjoon, suaranya berat, penuh dengan kepedihan dan keterpaksaan. "Aku melihat bagaimana caramu hancur setiap kali kau bersamaku. Aku adalah bagian dari pemicu ketakutanmu, dan kehadiranku tidak membuatmu sembuh. Aku... aku tidak baik untukmu, Vee. Demi kebaikanmu sendiri, kita harus berpisah."
Mendengar kata-kata itu, dunia Vee seolah runtuh untuk kedua kalinya malam itu. Air matanya kembali tumpah deras, menolak mentah-mentah vonis yang dijatuhkan oleh pemuda yang menjadi satu-satunya sandarannya di dunia. Vee terbangun dari pembaringannya, dengan panik mencengkeram lengan Namjoon, menggelengkan kepalanya histeris.
"Jangan... jangan putuskan aku, Namjoon! Jangan tinggalkan aku!" jerit Vee tertahan, suaranya parau dan pecah, berubah menjadi rintihan penuh keputusasaan yang menyayat hati. Vee turun dari ranjang, mengabaikan infus di tangannya yang nyaris terlepas, lalu berlutut di sisi kursi Namjoon, memohon sambil mencium tangan pria itu. "Kumohon... jangan akhiri ini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi kalau kau pergi!"
Namjoon menatapnya dengan dada penuh sesak, mencoba menarik tangannya, namun Vee semakin mengeratkan pegangannya. Dalam puncak keputusasaannya, Vee menawarkan lagi satu-satunya kartu terakhir yang ia miliki--sebuah tawar-menawar yang putus asa, melintasi batas harga diri yang tersisa.
"Lakukan padaku..." bisik Vee hancur, menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Namjoon dengan sorot mata memohon yang teramat sangat. "Setubuhi aku, Namjoon. Sentuh aku sekarang, jadikan aku milikmu seutuhnya seperti yang kau mau... Kalau setelah malam ini, setelah kau menyentuhku lagi, hal ini bisa membuat hubungan kita membaik... kalau ini bisa meredam ketakutanku dan mengembalikan kita seperti dulu, maka kita teruskan hubungan ini. Tapi..." Vee menjeda kalimatnya, napasnya tersengal berat diiringi isak tangis yang tak terbendung, "...kalau ternyata cara ini tetap gagal, kalau aku tetap tidak bisa waras... aku berjanji, aku berjanji... aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu selamanya."
Namjoon terpaku, membeku di tempat duduknya, menatap wanita yang rela merendahkan diri sedemikian rupa demi mempertahankan sisa-sisa ikatan di antara mereka, di tengah dinginnya malam rumah sakit yang menjadi saksi bisu atas kehancuran jiwa mereka berdua.
[;]
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Fanfiction[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
