HISTERIA

2 1 0
                                        

Malam itu meninggalkan sisa-sisa debu kepedihan yang menyesakkan di setiap sudut kamar Vee. Gulungan tali dan kain hitam yang ditinggalkan Namjoon masih tergeletak di lantai, menjadi saksi bisu atas runtuhnya pertahanan terakhir seorang perempuan yang kehilangan arah. Sial ternyata Namjoon tak hanya menciptakan teror kesunyian di dalam kamarnya, melainkan juga di kamar Vee. Namjoon memasang tali-tali dan kain hitam di kamar Vee, menciptakan ketakutan yang semakin mencekam akan prahara yang masih saja ia sembunyikan. Namun, kesunyian penuh cekam dan teror itu tidak berlangsung selamanya.

​Tiga hari telah berlalu dalam kebisuan yang menyiksa, hingga pada tengah malam keempat, suara derap langkah berat terdenghar mendekati pintu kamarnya. Ketukan pelan berbunyi, disusul oleh suara pintu yang berputar. Namjoon berdiri di ambang pintu, berantakan, dengan mata yang menyiratkan kelelahan batin yang teramat sangat. Pria itu tidak tahan. Rasa bersalah karena telah meninggalkan Vee dalam kondisi sekacau itu menggerogoti jiwanya setiap detik, membuatnya sadar bahwa seberapa besar pun prinsip moral yang ia pegang, ia tidak sanggup membiarkan wanita yang dicintainya mati perlahan di dalam kegelapannya sendiri.

​Namjoon melangkah masuk, mendapati Vee tertul⁨ur lemas di atas lantai kamar, memeluk lututnya dengan tatapan kosong nanar. Tanpa sepatah kata pun, Namjoon berlutut, menarik tubuh Vee yang sedingin es ke dalam dekapannya.

​Dan di pelukan itu, alih-alih merasa aman, Vee justru langsung mencengkeram erat kemeja Namjoon dengan gemetar hebat. Ia menangis histeris, bukan karena kelegaan, melainkan karena rasa panik yang kembali mendesak.

​"Namjoon... tolong... tolong aku..." isau Vee patah-patah, suaranya serak dan nyaris hilang di balik isak tangisnya. "Sentuh aku, Joon... Sentuh aku... Sentuh tubuhku, kumohon... buat aku merasa bahwa aku milikmu!"

​Namjoon memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gelombang sesak yang mendadak menghantam rongga dadanya tanpa ampun. Hatinya terasa bagaikan disayat sembilu yang tajam, menyaksikan betapa hancur leburnya perempuan yang bertahta di lubuk jiwanya paling dalam. Namun, di tengah keputusasaan yang pekat malam itu, ia tidak lagi memiliki daya untuk menolak. Didorong oleh rasa bersalah yang mengakar kuat serta hasrat yang nyaris gila untuk merengkuh dan mengembalikan kewarasan Vee yang koyak, Namjoon menyerahkan seluruh kendali.

​Di atas ranjang yang tenggelam dalam temaram kamar yang kelam, di bawah naungan malam yang membeku tanpa suara, mereka menyatu dengan busana yang Namjoon pertahankan. Laki-laki itu tak melepas sehelai benang pun dari tubuhnya, pun tubuh Vee. Vee mencoba melepaskan pakaiannya, tapi tangan Namjoon terlalu erat menghalaunya. Namjoon menciuminya, mencium seluruh tubuhnya tanpa melepaskan apapun dari gadis itu. Lenguhan Vee bukanlah lenguhan kenikmatan yang biasa ia pancarkan ketika Namjoon menyentuhnya, melainkan lenguhan penuh keputusasaan yang sarat akan permohonan pengembalian waras yang entah pergi kemana. Sentuhan Namjoon bukanlah ritual suci yang dibalut kehangatan kasih murni, melainkan sebuah pelarian yang buntu, liar, dan sarat akan keputusasaan.

​Vee akhirnya pasrah meski yang diinginkannya tak seperti ini. Akhirnya gadis ini membiarkan Namjoon menutupi setiap jengkal tubuhnya yang gemetar, menyerahkan diri sepenuhnya di bawah bayang-bayang dominasi sang kekasih. Setiap sentuhan yang mendarat di kulitnya terasa berat, menuntut, dan terburu-buru, namun justru di situlah letak keselamatan yang ia cari. Di tengah deru napas yang memburu dan gesekan kulit serta pakaian yang membakar, Vee memejamkan mata erat-erat, mengerahkan sisa-sisa kewarasannya untuk memohon pada kehampaan--berharap cengkeraman kepemilikan mutlak dari raga Namjoon mampu membakar habis, melumat, dan meratakan setiap bayangan busuk Jimin yang hingga detik itu masih berani mengintai di sudut-sudut gelap ingatannya.

​Namun, kelegaan itu hanyalah ilusi semu.

​Hari-hari berikutnya tidak membawa ketenangan. Hubungan mereka memang kembali terjalin, namun itu adalah hubungan yang berjalan di atas pecahan kaca. Vee terjebak dalam lingkaran setan; setiap kali Namjoon menyentuhnya, bayangan Jimin memang memudar sejenak, namun begitu Namjoon pergi atau saat malam kembali tiba, ketakutan itu merayap kembali dengan intensitas yang berlipat ganda. Vee terus-menerus merengek, menuntut Namjoon untuk membuktikan kehadirannya, meminta pria itu menghapus "jejak" yang tidak kasat mata secara berulang-ulang hingga Namjoon mulai merasa kewalahan, lelah, dan kehabisan akal sehat menghadapi obsesi Vee yang semakin tidak masuk akal.

​Dan yang paling menyiksa Namjoon adalah Vee tetap bungkam seribu bahasa. Setiap kali Namjoon mendesaknya untuk jujur, menanyakan apa sebenarnya yang telah dilakukan Jimin hingga membuat Vee trauma sedemikian rupa, Vee hanya menggelengkan kepala histeris, menolak memberikan satu kata pun tentang kejadian yang sebenarnya. Dia membiarkan Namjoon meraba-raba dalam gelap, memaksa pemuda itu menerima segala tuntutan paranoianya tanpa pernah tahu akar dari luka tersebut.

​Hingga pada malam ketujuh setelah rekonsiliasi yang rapuh itu, tubuh dan pikiran Vee akhirnya mencapai batas ambruknya.

​Malam itu, suhu tubuh Vee mendadak naik tinggi, membakar kulitnya dalam demam yang dipicu oleh kelelahan ekstrem dan tekanan mental yang tak terbendung. Namjoon yang sedang berada di sampingnya berusaha menenangkan, mengganti kompres di dahi Vee, namun perempuan itu sudah tidak mengenali realitas di sekitarnya.

​Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, mata Vee terbuka lebar, menatap kosong ke sudut ruangan.

​"Joon... lihat..." bisik Vee terengah-engah, jemarinya mencengkeram lengan Namjoon dengan kuku yang menancap begitu kuat hingga terasa sakit. "Dia di sana... dia berdiri di dekat lemari... dia sedang tersenyum padaku..."

​Namjoon menoleh cepat ke arah sudut ruangan yang ditunjuk Vee. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan tirai yang tertiup angin malam. "Vee, tidak ada siapa-siapa. Tenanglah..." bujuk Namjoon dengan suara yang mulai bergetar karena panik.

​"Bukan! Dia ada di sana!" jerit Vee tiba-tiba, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam dengan nada keputusasaan yang mengerikan. Vee meronta-ronta di atas tempat tidur, menolak sentuhan Namjoon karena ia merasa tangan Namjoon mulai berubah menjadi tangan Jimin. "Jangan sentuh aku! Pergi! Jangan dekati aku!"

​Halusinasi itu merenggut sisa kewarasan terakhir Vee. Ia mulai menangis tanpa henti, air matanya bercampur dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya yang pucat pasi. Napasnya memburu, tersengal-sengal dalam serangan panik yang sangat parah hingga dadanya naik turun dengan cepat dan ia mulai kesulitan mendapatkan udara. Tubuhnya mengejang kecil, terkulai lemas namun terus meronta, berteriak memanggil nama Namjoon sekaligus menolaknya dalam waktu yang bersamaan.

​Namjoon panik setengah mati. Melihat bibir Vee yang mulai membiru dan matanya yang kehilangan fokus akibat histeria yang tak kunjung berhenti, ia tahu situasi ini telah berubah menjadi ancaman maut.

​Tanpa membuang waktu lagi, Namjoon menyambar jaketnya, merengkuh tubuh Vee yang bergetar hebat dan meronta-ronta dalam dekapannya, lalu membawanya keluar menuju mobil. Sepanjang perjalanan malam itu, di dalam kabin mobil yang terasa begitu menyesakkan, Vee terus menangis histeris, mencakar-cakar kaca jendela, meracau tentang bayangan-bayangan yang mencekiknya, sementara Namjoon mengemudi dengan kecepatan gila-gilaan, menembus jalanan gelap menuju Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat, membawa kekasihnya yang perlahan-lahan hancur lebur di ambang gerbang kegilaan.

[;]

THE ORANGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang