Malam itu, udara di sekitar terasa begitu padat, seolah oksigen telah habis diserap oleh keheningan yang diciptakan Namjoon. Permintaan Vee--rintihan kecil agar membawanya pergi, melarikan diri dari tempat yang kini terasa seperti sangkar sesak--ditolak mentah-mentah. Namjoon bahkan tidak repot-repot menjelaskan alasan penolakannya. Laki-laki itu bergeming, rahangnya mengeras, menatap lurus ke jalanan gelap yang basah oleh sisa hujan.
Begitu sepeda berhenti di halaman rumah, Namjoon menurunkan Vee, lalu menggandeng pergelangan tangan perempuan itu. Genggamannya tidak menyakitkan, namun mutlak. Tidak ada ruang untuk membantah. Dengan langkah-langkah yang diatur rapi oleh ketegasan dingin, Vee digiring masuk melewati pintu depan, lalu dibaringkan begitu saja di atas ranjangnya sendiri. Selimut ditarik sebatas dada, seolah mengunci Vee di dalam batas teritori yang telah Namjoon tentukan.
"Jangan ke mana-mana," ucap Namjoon dingin sebelum melangkah mundur.
Ve bangkit, mencengkeram lengan Namjoon dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang hampir tumpah, memaksa laki-laki itu membawanya pergi malam itu juga. Namun, Namjoon tetap pada pendiriannya yang kejam. Dengan suara datar yang menyayat hati, Namjoon menolak. "Tidak. No is no. Aku ada ujian besok dan aku harus fokus."
Sebuah prioritas akademis yang terasa bagai tamparan telak bagi Vee, menunjukkan betapa dunia luar tetap berjalan normal sementara dunia Vee baru saja runtuh berkeping-keping.
Pintu tertutup. Namjoon pergi. Meninggalkan Vee sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa begitu luas dan menakutkan.
***
Malam merangkak lambat, menyeret detik demi detik dalam siksaan tanpa ujung. Vee tidak bisa tidur. Matanya terpaku nanar pada layar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Semalam suntuk, ia bolak-balik mengecek benda persegi itu, berharap ada satu saja notifikasi--pesan singkat dari Namjoon yang mengabarkan bahwa laki-laki itu telah sampai dengan selamat di rumahnya. Tapi layar itu tetap gelap. Hampa.
Dalam keputusasaan yang kian menjadi, Vee beralih pada Hoseok. Jarinya gemetar menekan tombol panggil berulang kali, menghubungi Hoseok yang malam itu memilih tidak pulang. Namun, dering demi dering hanya berbalas nada sambung kosong. Hoseok sama sekali tidak menjawab. Sunyi yang pekat di ujung telepon membuat kepala Vee berdengung hebat, mendorongnya perlahan-lahan ke ambang kewarasan yang rapuh.
Dalam kesunyian malam yang perlahan merangkak menuju fajar, pertahanan Vee akhirnya runtuh total. Pikirannya ditarik kembali pada bayangan kelam beberapa jam lalu. Di dalam kepalanya yang berdenging, terputar ulang bagaimana terhinanya ia diperlakukan oleh Jimin. Sentuhan itu, tatapan itu, dan kata-kata merendahkan yang merobek-robek harga dirinya. Setiap detail kembali berkelebat nyata, menghujam ulu hati, membakar dadanya dengan amarah yang bercampur aduk bersama rasa putus asa dan kehancuran yang tak bertepi. Ia kotor. Ia merasa jijik pada kulitnya sendiri.
Tepat pukul tiga pagi, saat dunia terlelap dalam mimpi terburuknya, Vee bangkit. Langkah kakinya gontai membawanya menuju kamar mandi. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu berdiri di bawah pancuran air. Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Vee menggosok kulitnya dengan kasar, mencoba menghapus setiap jengkal jejak perlakuan Jimin yang menempel, menyiksa dirinya sendiri demi melenyapkan memori fisik yang menjijikkan itu.
Tak berhenti di situ, tangannya terulur meraih botol sampo. Ia menuangkan cairan itu ke atas kepalanya, memijat rambutnya dengan sangat kencang, seolah dengan merusak rambutnya, ia bisa mereset ingatannya. Dalam keadaan basah kuyup, dengan busa sampo yang masih melimpah di kepalanya, Vee tiba-tiba terdorong oleh insting liar yang destruktif. Ia keluar dari kamar mandi, menyambar sebuah midi dress milik ibu Jimin yang ia tinggalkan di depan kamar mandi, lalu membawa gunting tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Hayran Kurgu[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
