Di bawah pohon yang cukup asri ini. Aku duduk di kursi yang tentu saja telah tersedia meja di dekat nya. Kursi kayu dan meja kayu. Aku mainkan pensil ku di atas selembar kertas putih. Pandangan ku tak lepas dari keindahan taman ini. Sungguh luas. Rumput yang hijau, tampak bukit-bukit kecil membuat jalanan bergelombang.
Aku tak sendiri. Ia duduk di hadapan ku sambil memainkan pensil di atas kertas putih polos miliknya. Kepalanya tertunduk terkadang tersenyum sendiri di balik gambar nya itu. Matanya fokus menatap kertasnya. Sungguh mataku tak bisa beranjak dari tingkah nya yang seakan membuat ku gemas, atau mungkin semakin sayang. Rambut pendek nya sedikit membuat ku sulit menatap wajah nya karena di terpa angin yang cukup kencang.
"Gambar apa nal?" tanya ku sedikit mengintip ke arah gambarnya
"Ada deh" balas nya tersenyum dan kemudian menutup gambar nya itu dengan lengan nya
Terlihat sulit ketika aku menebak perilakunya. Kadang ia selalu membuat aku tersenyum dan gemas. Sikapnya sungguh membuat ku tak ingin jauh dari nya. Ingin terus berada disamping nya.
"Selesai!" tukas nya mengangkat hasil karya nya, namun tak memperlihatkan nya kepadaku
"Kamu gambar apa?"
"Ini rahasia tauk, tapi jelek ve. hmm tapi ntar aku kasih tau deh"
Ku lipatkan kedua lengan ku, menatap nya sakartis. Aku mulai penasaran dengan gambar buatan nya itu. Aku tau dia tak hobi menggambar, tapi setidaknya aku ingin melihat hasil tangan nya itu. Aku sangat menghargai apa yang telah ia buat.
"Ve, aku ke supermarket dekat sini dulu ya, mau beli cemilan. Laper" tukas nya
"Hm.." balas ku mengangguk
"Kertas ku disini yah ve, jangan sampai setelah aku balik kertas ini berubah posisi. Klo kamu lihat!? Aku marah sama kamu"
"Iya iya, bawel" balas ku kecut
Hingga akhirnya ia pergi ke supermarket. Aku menatap jalan nya hingga jauh tak terlihat lagi sosoknya. Kini mataku entah kenapa selalu tertatap penuh oleh selembar kertas putih itu. Gambar kinal yang sengaja ia posisi kan menelungkup sehingga tak bisa di lihat. Aku semakin penasaran dengan gambar nya itu.
"Tidak ada kinal, lebih baik aku lihat. Lagian orang nya juga ngak tau kan (?)" tukas ku kemudian menyentuh ujung kertas itu. Pelan membalikkan kertas itu dan....
"Ve?" panggil seseorang mengagetkan ku
Seketika aku berteriak kecil sambil menyentuh dada ku. Beredegub kencang sehingga membuat ku sesak. Terlihat ghaida yang kini sudah berada di hadapan ku.
"Loh ve, kamu kenapa? Kok kaget gitu?"
"Aku kira itu kinal, ternyata kamu. Huftt" balasku menggendus pelan
"Emang kinal nya mana?"
"Lagi beli cemilan. Oiya kok kamu bisa ada di sini?"
"Ouh itu tadi aku ngak sengaja jalan-jalan kesini truss ngeliat kamu sendirian disini"
Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan nya itu. Kemudian aku pun melanjutkan menggambarku yang sempat tertunda ini. Namun sedikit kesal ketika aku gagal melihat gambar buatan kinal yang semakin membuat ku penasaran.
"Kamu suka ngegambar?"
"Iya" balas ku yang masih fokus menggambar
"Ternyata orang yang hobi baca ini suka ngegambar juga ya haha"
"Haha ngak sih, biasa aja ghaida"
Sangat hangat dan asik ketika aku kembali bisa mengobrol bersama ghaida. Membahas hal yang mungkin bisa menjadi topik seru di siang menjelang sore ini. Sangkin asik nya mengobrol bersama ghaida aku melupakan aktifitas ku yang sebelum nya sibuk menggambar.
"Maaf ve, lama yah nungguin nya?" tukas kinal yang tiba-tiba saja datang sambil membawa bungkusan berisi snack-snack
KAMU SEDANG MEMBACA
VEraunophile
Fanfiction[NEXT S2] GxG Kejadian 17 tahun lalu itu membuat ve benar-benar berubah menjadi wanita yang serba tertutup. sikap nya berubah menjadi pemalu dan pendiam. hal yang sulit bagi nya adalah sikap terbuka kepada setiap orang. Ve termasuk orang yang pemil...
