Sebuah pengharapan atau pilihan, ketika aku terus berharap ia akan kembali padaku atau malah memilih untuk menjauh dari nya. Saat ini raga dan perasaan ku tak bisa menjadi satu. Perasaan ku berat ingin bertemu kinal, tapi langkah kaki seakan menggunci gerakan ku.
Tak seindah kisah ku di saat dia belum mengatakan berpisah, hari-hari ku sepi seperti hidup ku ini akan menghilag dari dunia. Senyum nya, bayangan sosok nya terus menggeluti pikiran ku.
"Kemarin lo sakit ya?" tanya dena yang tiba-tiba saja datang
Aku hanya diam dan tertunduk, tak mengindahkan pertanyaan dena itu. Dena terus menatap ku, aku menyadari akan hal itu. Namun seketika dena menggenggam pergelangan tangan ku, seperti akan bersiap menarik ku dan membawa ku kesuatu tempat. Ku tatap wajah dena yang kini berubah, terlihat menahan amarah nya.
"Ayo ikut aku!"
"Mau kemana?"
Kembali mengulang perbuatan ku, dena malah tak mengindahkan pertanyaan ku. Ia hanya menarik ku kasar, jalan nya cepat sehingga membuat ku harus cepat mengikuti langkah kaki nya itu. Tak lama aku tersadar, bukankah ini lorong menuju kelas kinal, apa yang sedang dena ingin lakukan? Tak tahu kah kini aku dan dia sudah....
"Dena?!" ucapku menahan gerak nya yang cepat itu
Seketika dena menoleh ke arah ku. Dengan cepat aku hempaskan tangan ku mencoba untuk terlepas dari genggaman erat dena. Wajah ku berubah seketika, menandakan tak ingin ada yang boleh mencampuri urusan ku bersama kinal.
"Apa maksud lo membawa gw kesini?" ucapku menada tinggi
"Ternyata lo tau ve"
"Lo ngak perlu campuri urusan gw, biar gw yang selesaikan sendiri"
"Selesaikan sendiri?? Berhari-hari yang lalu pun lo melakukan hal yang sama. Dan hasil nya apa? Lo tak pernah berhasil!" balas dena pun menada tinggi
Mahasiswa-mahasiswa yang berada di sepanjang lorong ini seketika menatap ku dan dena. Kini kami berdua menjadi bahan perhatian. Tak ingin memulai perdebatan baru aku memilih pergi meninggalkan dena terus mematung. Nafas nya tak beraturan. Ia sungguh marah terhadap ku, seandainya lo tau apa yang gw rasain saat ini dena.
Hati ku saat ini sedang kalut, kelas hari ini pun aku memilih untuk melewati nya. Aku butuh kesendirian, butuh pemikiran yang jernih. Aku tak mungkin masuk kelas jika pikiran ku di luar entah melayang kemana. Aku memilih duduk menyendiri di bawah pohon yang tak cukup jauh dari fakultasku. Kebetulan di bawah pohon ini tersedia kursi banjang yang cukup unik. Aku duduk bersandar dan lemas.
Kamu tak memikirkan perasaan ku nal, bagaimana aku bisa melewati semua ini?
Tanpa tersadar air mata ku perlahan menetes membasahi pipiku. Aku hanya mematung, menatap lurus. Kini perasaan ku tak bisa di pendam, ingin rasanya meneriakkan segala nya agar pikiran ku tenang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap seseorang yang suara nya itu sungguh ku kenal. Seketika aku menoleh ke arah sumber suara itu
"Kinal~" ucapku lirih
Ia datang mendekat kearahku. Dan kini ia berdiri tepat di hadapan ku. Aku mendongkak kearah nya dengan tatapan basah. Seketika tangan nya menggapai wajah ku, jempol nya bermain menghapus air mata yang kini mengalir deras ke pipi ku.
"Jangan bersedih seperti ini, aku ngak suka"
"Kamu ngak suka?"
"Hm.." balas nya mengangguk. Tak lama ia duduk di sebelah ku.
"Kenapa kamu disini?"
"Pertanyaan awal ku belum kamu jawab" pinta nya membuatku tersenyum
"Aku sedang ingin menenangkan pikiran ku"
KAMU SEDANG MEMBACA
VEraunophile
Fanfiction[NEXT S2] GxG Kejadian 17 tahun lalu itu membuat ve benar-benar berubah menjadi wanita yang serba tertutup. sikap nya berubah menjadi pemalu dan pendiam. hal yang sulit bagi nya adalah sikap terbuka kepada setiap orang. Ve termasuk orang yang pemil...
