File A

10.1K 386 13
                                    

Jakarta 2015, bulan november

Siang yang terik nampak menyengat mataku. Silau. Ah, aku hanya bisa mendesah dalam hati. Dengan pekerjaanku sebagai seorang tenaga security, itu adalah resiko yang harus aku terima. Berdiri diluar.

Perkenalkan, aku adalah deddy. Pekerjaanku sepeeti yang aku jelaskan diatas, sebagai seorang security disebuah pegadaian dibilangan cipete, jaksel. Oya, aku juga telah menikah dan memiliki seorang putri kecil berusia 3,5 tahun. Meskipun aku bekerja dijakarta, tapi aku dan keluargaku tinggal dikota tangerang.

" selamat siang ibu. Maaf, ada yang bisa saya bantu ?" sapaku kepada seorang wanita paruh baya yang hendak memasuki kantorku.

Wanita itu tersenyum. " saya mau gadai pak." ujarnya. Aku lalu membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

Aku lalu kembali siap didepan kantor. Hari itu jalanan terlihat sepi. Aku lalu teringat keluargaku dirumah. Anakku yang sedang sakit. Aku juga membayangkan hera, istriku, tengah dibuat sibuk oleh kemanjaan anakku, aisyah.

Disaat aku terbuai oleh angannanku, ibu tadi keluar sambil berkata. " makasih pak." aku agak tergugu karena kaget. Sontak aku tersenyum sambil kembali mengucapkan terima kasih.

Kembali aku standby kembali.

Hendro, penaksir barang dikantor yang aku jaga keluar.

" hari ini sepi banget y, ded." ujarnya seraya mengeluarkan sebatang rokok. Aku tersenyum. " iya nih mas. Mungkin karena cuaca panas jadi orang-orang pada males keluar." jawabku.

Aku dan hendro kembali bercakap-cakap sampai rokok yang ia hisap habis.

" ya udah aku tak masuk dulu y." katanya. Aku mengangguk.

Kembali sendiri diluar kantor, entah kenapa aku tiba-tiba merasa ada yang kurang beres. Entah apa perasaan yang aku rasakan saat ini.

Aku sayup-sayup mendengar suara sirene dari mobil pemadam kebakaran meraung-raung. Lama aku tunggu, mobil pemadam itu tak kunjung juga lewat depan kantorku. Biasanya, bila ada kebakaran, mobil tersebut selalu melewati jalan didepan kantorku.

Karena bosan, aku lalu menyalakan televisi dipos tempatku bekerja. Aku memutuskan melihat berita saja. Disana tampak seorang reporter terlihat tengah meliput disebuah kemacetan. Saat aku mulai mengikuti berita yang tengah diwartakan oleh reporter tersebut, tiba-tiba saja aku melihat ibu-ibu yang barusan tadi melakukan transaksi dikantor kembali datang.

Tapi, setelah aku perhatikan, aku merasa ada yang aneh dengan sosok ibu ini. Cara berjalannya seperti orang yang mabuk. Semakin dekat dengan tempatku berdiri, semakin aku yakin dengan keanehan itu.

Aku melihat ada bercak darah dipakaian ibu itu. Aku waspada. Ku raih tongkat security yang selalu kuselipkan disabuk.

Sejarak 10 meter, aku terkejut. Leher ibu itu tampak koyak dengan tangan patah tampak berjuntai. Matanya tampak nyalang memandangku. Mulutnya terbuka, air liur menetes membasahi dagunya. Kulit wajahnya pucat.

Melihat ini, aku lalu segera membuka pintu kantor dan masuk. Aku segera berteriak keras kepada hendro yang tampak kaget melihat aku begitu ketakutan.

" mas, minta kunci pintu! Cepatan!" aku berteriak.

Hendro segera datang. " ada apa ded?" tanyanya. Aku tak menjawab. Aku hanya bisa menunjuk keluar pintu sambil tetap menahan pintu. Hendro seketika berteriak kencang demi melihat apa yang aku tunjuk.

Tapi, bukannya segera mengambil kunci, ia malah berlari masuk kedalam. Aku hanya bisa memaki dan ikut berlari kedalam menuju meja kasir tempak hendro biasanya menaruh kunci-kunci.

Saat aku mendapatkan kunci pintu, segera aku hendak pergi kepintu depan. Tapi terlambat! Ibu aneh itu telah berhasil membuka pintu depan dan masuk.

Aku kembali masuk kedalam dan menutup pintu dalam. Aku dan hendro hanya bisa terpaku melihat ibu itu yang ternyata adalah zombie.

***

WABAH  ZOMBIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang