Sia POV
Hari ini aku sengaja berangkat agak siangan. Bukan karena telat bangun. Hanya saja aku berharap ketika aku sampai di sekolah, Yori sudah ada di sana. Yah, aku berharap sekali dia masuk sekolah hari ini.
Aku tahu, Yori tidak mungkin langsung merubah pemikirannya hanya karena omonganku kemarin. Tapi aku berharap itu cukup mempengaruhinya.
Tapi... siapa aku?
Aku masuk ke kelas dan seperti dugaanku, bangku Yori kosong. Kelihatannya dia bakal bolos lagi hari ini. Aku melanjutkan langkahku ke bangkuku. Seperti biasa, Hana dan Jess sudah ada di bangkunya, di belakang bangkuku.
"Sia, kemarin kemana? Bolos? Atau...telat?", tanya Hana.
"Dua-duanya," jawabku malas. Hana dan Jess terlihat memandang satu sama lain. Mungkin mereka merasa aneh dengan responku yang asal-asalan.
"Kau sedang sakit Sia? Kenapa lemes banget?" ucap Jess. Aku hanya menjawabnya dengan menggeleng kecil lalu duduk di bangkuku.
Tak lama setelahnya, bel masuk berbunyi. Namun Yori masih belum datang. Sudah ku duga dia tidak akan datang.
**********
Ketika istirahat...
"Sia, nggak ngantin?" tanya Hana.
"Nggak deh. Nggak laper."
"Sia hari ini aneh banget." gumam Hana. Mereka terlihat berbisik-bisik sebentar.
"Aku traktir deh!" ucap Jess.
Entah kenapa, dari dulu aku tidak bisa menahan diriku jika mendengar kata 'traktir'. Itu salah satu bujukan yang sulit ditolak.
"Traktir? Mau kalo gitu. Hehehe" ucapku sambil memasang cengiran jahil ke arah mereka. Hana dan Jess terlihat memasang ekspresi masam mendengar jawabanku itu. Yah, itu salah mereka sendiri kenapa harus mengatakan kata itu. Aku kan tidak boleh menolak rejeki. HA HA HA.
Ketika kami berjalan menuju kantin, di lorong yang berseberangan dengan kantor pusat, tiba-tiba saja aku melihat bayangan Yori di kejauhan.
Aku tidak berhalusinasi kan?
Aku menghentikan langkahku, disusul Hana dan Jess. Aku mengusap-usap mataku berkali-kali mencoba memastikan bahwa aku tidak salah lihat.
Itu benar Yori!
"Yori?" ucapku sangat lirih. Tak lama kemudian, dia sudah ada di hadapanku dan aku masih tidak percaya itu dia. Bukankah dia tadi tidak ikut pelajaran? Kenapa sekarang bisa ada di sini?
"Sia, sadarlah." bisik Jess sambil menyenggolku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku baru menyadari telah memandangi Yori terlalu lama.
"Ka-kamu di sekolah? Tapi... kenapa tadi nggak ikut pelajaran pertama?" tanyaku pada Yori. Entah kenapa dia terlihat cerah hari ini. Matanya bening, tatapannya tajam. Tidak seperti kemarin yang sayu dan redup. Apa dia telah melepaskan bebannya?
"Oh, tadi sebelum aku masuk kelas, aku udah dipanggil duluan sama Pak Jarwo. Jadinya mau nggak mau aku ikut beliau dan nggak bisa ikut pelajaran pertama."
Pak Jarwo? Asisten kepala sekolah?
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku. Jujur saja, ketika Yori mengatakan ia dipanggil Pak Jarwo, aku sedikit khawatir padanya. Dia mengalami masalah dengan sekolahnya dan aku berharap mereka tidak mempersulitnya atau menambah bebannya.
Kenapa aku jadi care sama masalah Yori?
"Semua baik-baik aja kok," ucap Yori sambil tersenyum ke arahku. "Makasih ya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dreamcatchers
Teen FictionMereka bilang jangan bermimpi terlalu tinggi, itu sulit dicapai. Tapi bukankah mimpi selalu di atas awan? Mereka bilang jangan membantah orang tuamu, itu tidak baik. Tapi bagaimana jika kita punya rencana sendiri dengan hidup kita? Mereka bilang lak...