19. Jangan Beritahu Siapapun

657 57 51
                                    

Sia POV

Uh, aku benar-benar gila. Apa yang aku lakukan ketika istirahat tadi? Mengintip Yori dan Tannia pacaran? Cewek rendah macam apa aku ini?

Aku memandangi Yori yang duduk di bangkunya seperti biasa.

Punggung itu.... tadi di puk puk sama Tannia.

Dag Dig Dug Dag Dig Dug.

Arrgghhh.... kenapa jantungku jadi gampang brutal gini sih kalo liat Yori?

"Baiklah, karena sekarang hari terakhir pelajaran dan lusa kalian sudah menghadapi semester exam, maka hari ini kalian di pulangkan lebih awal."

Eh, pulang awal?

"Yaasss!!!"

"Alhamdulillah Ya Allah. Rejeki anak soleh. Hahahaha"

Seisi kelas langsuh riuh mendengar berita bahagia itu. Semua orang mulai merapikan buku mereka dan beranjak keluar kelas. Termasuk juga aku.

"Sia!" teriak seseorang memanggilku.

Aku menoleh. Ternyata itu Yori.

Jangan-jangan dia akan menanyakan kejadian tadi pagi?

Mati!

Kabur ah...

"Eh, mau kabur kemana?" ucap Yori sambil memegangi ranselku dari belakang dan menarikku mendekat ke arahnya.

"Ampun Yori. Aku nggak bermaksud nguping atau ngintip kalian pacaran. Serius! Ini semua gara-gara Jess dan Hana yang menarikku ke sana. Serius! Aku nggak bermaksud untuk melakukan hal-hal yang aneh...!" Ucapku memohon dan memelas untuk diampuni.

Yori terlihat memandangiku sesaat, lalu dia tertawa keras.

"Hahahahahahahaha. Liat ekspresimu. Kau membuatku tertawa, hahahaha"

Bagus. Aku malah ditertawakan.

"Kenapa tertawa??" Aku mematung melihat respon Yori yg justru menertawakanku habis-habisan.

"Itu karena.. kau sangat polos, Sia." Yori masih menahan tawanya. "Aku bahkan tidak bermaksud menanyakan hal itu padamu. Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan di semak-semak itu bersama dua teman idiotmu itu. Entah kalian sedang mengintip, menguping atau apapun, aku tidak peduli!"

Oke, sekarang aku benar-benar terlihat menggelikan. Pendeskripsian ekspresiku ketika mendengar pernyataan Yori barusan itu adalah mata menyipit datar, lubang hidung melebar, sudut bibir 15 derajat menurun. Mood juga ikutan menurun.

Aku malu setengah mati. Aku menunduk lalu melangkahkan kakiku menjauh dari Yori yang masih tertawa di belakangku.

Kenapa juga aku langsung nyeplos masalah itu? Sampai kapan aku bertindak bodoh seperti ini? Ah, memalukan!

Baiklah salahkan aku karena hal itu.

"Hei, udang! Mau pulang bersama?" tanya Yori sambil berjalan menyusulku. Aku sudah hampir ada di gerbang ketika ia menyusulku.

"Menjauh dariku, Yori. Kau sudah membuatku malu setengah mati. Jika kau terus berada di dekatku, bisa-bisa aku mati karena malu padamu. Sudahlah, kau pulang sendiri sana." jawabku tanpa berekspresi dan terus berjalan lurus.

"Hei, ayolah!"

Dia menyenggol lenganku. Entah mengapa aku merasa ada hal yang aneh dengan Yori. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa dia lupa meminum obatnya?

Kenapa dia tiba-tiba nyamperin aku terus ngajak pulang? Bukankah dia tadi akan berciuman dengan Tannia? Kenapa dia tidak pulang saja bersamanya?

Eh, kenapa aku jadi baper gini?

DreamcatchersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang