12. Insecurities

691 100 21
                                    

Yori POV


"Berhentilah mengejar mimpi mustahilmu itu, anak muda! Masa depanmu telah ada di depan mata, untuk apa kau susah-susah mengejar mimpi yang belum tentu akan menjadi kenyataan itu?"


Sejak kejadian tadi siang, entah mengapa hal-hal yang ingin kulupakan kembali berputar-putar di pikiranku. Malam sudah larut, tapi aku tidak bisa memejamkan mataku.

Ingatan semacam ini benar-benar menyiksaku. Benar-benar menyiksa hingga air mata ku meluap.

Aku benar-benar kesal sekaligus sedih.


"Kau adalah anakku satu-satunya. Kepada siapa lagi aku harus mewariskan semua ini??!"


Mengapa aku harus dilahirkan tanpa saudara? Mengapa aku harus menanggung segalanya sendiri? Mengapa harus aku sendiri???


"Tapi aku tidak mau jadi pebisnis, Ayah. Aku mau jadi detektif! Biarkan aku masuk ke departemen sosial dan hukum. Kumohon, pindahkan aku ke departemen itu!"

"Berhentilah merengek seperti anak kecil, Yori!!"

"Aku tidak suka Science Ayah! Berhentilah memaksakan hal yang tidak kusukai!!"

"Dewasalah sedikit, Yori! Apa kau pikir menjadi detektif itu mudah? Apa yang kau dapat dengan menjadi detektif? Berhentilah berhubungan dengan hal-hal kriminal atau kau akan ikut menjadi kriminal!"

"Jika aku harus menjadi kriminal hanya untuk mendapat mimpiku sendiri, akan kulakukan. Kau tidak bisa memaksaku dan berhentilah memaksaku!!!"

'Plaakkk!'

"Kau....kau keterlaluan, Yori!!"

"Ayahlah yang keterlaluan!! Lihat saja. Aku akan mencapai impianku sendiri. Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan mewujudkannya! Ini hidupku dan aku tidak mau diatur oleh orang keras kepala sepertimu!!"

"Yori Hatmadja!! Mau kemana kau? Kembali kau Yorii...!!"

Kau bisa saja memaksaku masuk ke departemen Science, Ayah. Tapi jangan harap segalanya akan berjalan sesuai keinginanmu.

Aku tahu apa yang kuinginkan dan aku tahu apa yang aku lakukan. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

Aku masih menghormatimu tapi aku benci kau, Ayah! Jika aku stress dan menjadi gila karena ini, maka ini semua salahmu. SALAHMU!!


__________________________


BEHIND THE SCENE PART 12

*versi catatan kaki penulis


Suatu hari, penulis lagi duduk santai bareng ibunya di teras depan rumah.

"Dek, tau nggak, anaknya bu Sari yang kuliah di unair mogok kuliah. Dia ketahuan bolos selama 2 tahun."

"Hah? Kok bisa?"

"Ternyata selama ini dia nggak berangkat kuliah. Dia cuma di dalem kos, baca komik!"

"Lah? Kok baca komik?"

"Dia bilang dia stress. Dia nggak kuat kuliah farmasi. Ternyata dari dulu dia emang nggak minat ambil farmasi. Bu Sari yang maksa. Mbak kiki kan pinter sekolahnya. Bu sari udah punya rencana kalo Mbak Kiki ambil S1 farmasi, ntar mau di S2 in ambil pengobatan herbal, biar bisa buka praktek sendiri. Tapi ternyata, mbak kiki lebih suka jadi akuntan daripada jadi apoteker/dokter herbal."

Aku melongo.

"Maksudnya Bu Sari bagus sih, pengen anaknya sukses. Lha tapi kalo mbak kikinya gak mau, pada akhirnya gini juga kan. Ibu baru sadar kalo maksa anak itu nggak baek."


Dari situlah, cerita Dreamcatchers diangkat. Terinspirasi dari pengalaman Bu Sari dan Mbak Kiki.

Satu hal yang pengen aku sampaikan terkait hal ini.


Mimpi adalah tentang passion. Tidak peduli apapun passionmu, sekecil apapun passionmu di mata orang lain, kau hanya perlu membuktikan kepada mereka bahwa kau bisa.

Sukses tidak harus diukur dengan uang, menjadi kaya raya atau menjadi direktur perusahaan besar.

Sukses adalah tentang bagaimana mendefinisikan dirimu sendiri di masa depan. Ini tentang kebahagiaan dan kepuasan terhadap dirimu sendiri.

Tidak harus jadi orang kantoran. Berjas, berdasi, bersetelan mahal.

Ubah mindset!

Sukses adalah tentang keprofesionalan dirimu pada suatu bidang.

Dan sebagai orang tua, tidak seharusnya memaksa anak pada hal yang bukan passionnya.

Jangan sekali-kali mengejek, mengolok mimpinya. Cukup carikan ia jalan keprofesionalannya.


"Aku suka main game." - Maka jadilah gamers yang profesional.

"Aku ingin bikin game sendiri." - Arahkan menjadi IT programer yang handal.

"Aku suka melukis. Dan aku ingin menjadi pelukis." - Berikan jalan agar lebih banyak orang tahu lukisannya, dan berikan masukan yang positif. Carikan guru lukis untuknya, yang bisa membimbingnya.

"Aku...hanya ingin menjadi penata bunga. Apa itu pekerjaan yang menjanjikan?" - Selama kau mau menjadi profesional di bidang itu, pekerjaan itu menjadi menjanjikan untukmu.

Para orang tua, jangan sampai anakmu membencimu hanya karena kau pernah melarangnya melakukan hal kesukaannya dulu. Berpikirlah terbuka. Kau adalah pembimbing, bukan pendekte.


Udah sesuai janji kan, next partnya malam ini? Anw, pesannya lebih panjang dari ceritanya ya? Hahaha. Abisnya kebawa suasana hati yang benar-benar mengutuk orang tua semacam itu.

VOTE. VOTE!



DreamcatchersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang