Jam sembilan, Helen kembali. Dia diantar oleh papanya menuju parkiran mobil. Sebelum Helen pergi, dia memeluk tubuh papanya erat sambil berbisik, "Aku janji, aku akan kembali ke sini lusa."
Leonard mengagguk. Helen masuk ke dalam mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, dia melambaikan tangan dari jendela kepada papanya dan melaju menembus gelapnya malam.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh ketika Helen tiba di rumah inapnya. Dia langsung segera membereskan barang-barangnya. Untung Helen tidak mengeluarkan banyak barang dari kopernya sehingga ia tidak perlu repot untuk membereskannya.
Setelah semua rapi, Helen meletakan koper itu ke bagasi mobilnya. Lalu ia mengambil beberapa kertas laporan yang ada di meja dan mengeceknya. Setelah dia rasa semuanya sudah benar, ia langsung berjalan menuju kantor petugas yang terletak tidak jauh dari rumah inapnya.
Petugas berseragam yang melakukan shift malam cemberut dengan kedatangan Helen yang harus membuatnya membaca laporan saat tengah malam.
Dengan ogah-ogahan dia membaca laporan Helen sambil sesekali mengangguk. Setelah menyuruh Helen menandatangani beberapa berkas, Helen diperbolehkan untuk pulang besok pagi.
Malamnya, Helen tidak dapat tidur. Dia hanya mengguling-gulingkan badannya di tempat tidur. Pikirannya terus mengulang kejadian tadi siang. Begitu cepat orang tuanya berubah. Begitu cepat semuanya berubah.
Hatinya senang meberima perubahan ini. Artinya, dia memang sudah diterima lagi didalam keluarganya setelah menghilang selama lima tahun. Namun, logikanya belum siap. Berkali-kali logikanya berteriak pada hatinya agar berhati-hati.
Seharian, Helen tidak melihat Jeri. Dia sama sekali tidak datang menjenguk Lena yang adalah, ya, tunangannya. Mungkin dia sedang sibuk mengingat ini adalah hari kerja. Lagipula, jika Jeri datang menjenguk Lena tadi, sudah pasti Helen mati gaya dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Dengan memaksakan dirinya, akhirnya Helen dapat tidur meski tidak nyenyak dan berkali-kali terbangun.
Helen berangkat pukul empat pagi. Masih terlalu pagi untuk gadis muda seperti Helen. Tapi Helen menyukai suasana jalan tol saat subuh karena sepi. Helen suka melakukan balapan mendadak di jalan tol dengan supir truk atau mobil lain yang sedang melintas.
Pukul setengah tujuh Helen tiba di peternakannya. Suasana segar berembun menyelimuti Helen. Ketika turun dari mobil, Helen langsung merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafasnya dalam-dalam. Udaranya benar-benar membuat Helen rileks dan tenang.
Saat Helen mengambil barang-barangnya di bagasi, Helen melihat mobil Jeep Rudi yang terparkir tidak begitu jauh dari mobil sedannya. Helen hanya mendengus sebal.
Kalau dia ada di sini, berarti sia-sia saja keinginan Helen untuk menjalani hari dengan tenang karena Rudi pasti akan selalu merecokinya.
Ternyata dia sedang mengunjungi bibinya hari ini, sesuai dengan perkataannya kemarin ditelepon. Helen membawa kopernya dan memasuki area peternakan ayam Dewi. Helen menyapa beberapa pemuda desa yang sedang memberi makan kepada unggas-unggas itu.
Bau amis menggelitik hidung Helen. Tapi Helen tidak menggerutu seperti gadis kota lainnya. Dia malah menyenangi bau seperti itu karena itu selalu mengingatkannya akan suasana rumah Dewi.
Ketika sampai diruang tamu, Helen melihat Rudi memakai kaus oblong putih yang mencetak otot-otot di perurnya dan celana pendek hitam sedang meminum kopi.
"Heh, mana mama?" tanpa memberi salam Helen langsung mengaggetkan Rudi membuatnya menyemburkan kopi yang baru dicicipinya.
"Loh, kata Bi Dewi kamu ada masalah keluarga? Kok kamu tiba-tiba disini? Pasti mau cari tempat galau buat galauin laki-laki yang mencium kamu waktu itu. Hahaha" canda Rudi.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEL...LENA
ChickLitHEL...LENA Lima tahun yang lalu, Helen memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya. Ia bosan merasa asing didalam keluarganya. Ia bosan dicemoohkan dipergaulannya Ia bosan selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang cantik dan anggun Lima tahun...
