#TAKIN' THE LONG WAY HOME

34.2K 1.9K 16
                                        

"Papa harap ini adalah kepulanganmu, Helen. Tapi sepertinya harapan papa kali ini mengecewakan. Kamu telah mempunyai tempat lain yang kamu sebut rumah untuk kembali."

Perkataan papanya menusuk hati Helen karena kenyataannya memang demikian. Di sini bukan rumahnya lagi.

Leonard menatapnya sendu dan dalam. Terdengar suara pintu yang dibanting. Helen melihat mamanya berdiri dan keluar dari kamar itu.

Helen menghela nafas dalam-dalam. Mamanya hanya pergi!!

"Jangan hiraukan mamamu. Ia hanya berusaha menerima kenyataan bahwa kau sudah berada disini. Percayalah. Ia sangat merindukanmu. Dia bahagia kamu sudah disini. " Leonard berusaha menyembuhkan gundah gulana dalam hati putri tomboynya.

"Sekarang, mana pelukan kangen untuk papa mu yang sudah tua ini. yang sudah kau buat stres selama lima tahun ini."

Helen kembali memeluk tubuh Papanya dengan keras. Sekrang air matanya mengalir. Baru disadarinya kalau ia sangat merindukan pria paruh baya di hadapannya ini. Leonard pun membalas pelukan Helen dengan kuat. Ada hembusan nafas kelegaan dalam nafasnya saat ini.

"Maafin Helen, pah." Helen terisak. Air matanya mulai deras mengalir di pipinya. Rasanya sangat nyaman berada dipelukan papa tercinta.

Meski dalam hati, dia kecewa, kenapa mamanya harus keluar dari kamar ini. Apa benar yang papanya katakan Bahwa mamanya hanya mencoba menerima kenyataan bahwa Helen sudah ada di sini?

Leonard melepas pelukannya. Ia menatap wajahnya putrinya yang sangat ia rindukan. Putrinya yang hilang telah kembali.

Ia tersenyum bahagia. "Sudah, jangan banyak menangis. Lihat makeup mu itu luntur dan membuat wajahmu menghitam. Hahaha" canda Leonard den mengeluarkan tawa renyahnya.

Ketiga orang dalam ruangan itu tertawa. Masih terasa ganjil tanpa adanya mama mereka. Tetapi, setidaknya sudah cukup menyembuhkan rasa rindu Helen yang terkibir selama lima tahun ini.

Helen menghampus airmatanya menggunakan kuku kelingkingnya. Sudah pasti eyeliner yang ia gunakan luntur. Tapi tidak masalah karena ia sudah melepas lara rindu dengan sang ayah.

Ia segera mengambil tissue dari tasnya dan pamit kepada Lena dan Leonard untuk membersihkan wajahnya di kamar mandi. Lena dan Leonard hanya tersenyum geli.

Helen menghapus riasannya. Dia sudah tidak perlu menjadi Helen yang berbeda sekarang. Dia cukup tampil apa adanya.

Dia melihat refleksi dirinya di cermin. Dan ia tersenyum. Dan dengan bangga, ia keluar dari kamar mandi. Menatap keluarganya.

Keluarga kandungnya.

"Duduklah" Leonard mengambil sebuah kursi lagi. Mereka duduk berdua berdampingan disisi tempat tidur Lena. Jari-jari mereka saling berpautan.

"Sekarang, ceritakan pada papa mu ini tentang kehidupan mu sekarang. Kamu sekarang tampak lebih berkharisma. Dan jangan lupa mengenai bagian jika kamu sudah menembak seseorang bertubuh kekar"

Helen tersenyum kikuk mendengar perkataan papanya yang terakhir. Dia menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

"Ouh, kalau soal itu merupakan ketidaksengajaan." Kata Helen mencari alasan.

Leonard dan Lena menatapnya dengan tatapan penuh keraguan. Tapi mereka hanya melirik satu sama lain dan mengaggukan kepalanya.

"Kalau begitu, ceritakan bagaimana kehidupanmu sekarang."

"Semua dimulai dari lima tahun yang lalu.................."

Mengalirlah seluruh cerita Helen. Mulai dari rencana kepergiannya. Kecelakaan yang di alami keluarga Dewi yang ia lihat di depan matanya senduru. Tentang kebaikan Dewi. Tentang semuanya. Tentang semua yang indah yang terjadi selama lima tahun ini.

HEL...LENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang