Jeri tengkurap di tempat tidurnya. tangannya melambai menyapu lantai kamarnya. Pikirannya meracau kesana kemari
kemarin, ketika ia akan menjemput Lena untuk check up mingguannya, Helen sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Ketika Jeri bertanya pada Lena, ia pun tidak tahu kemana Helen pergi. Katanya, Helen pergi untuk urusan yang sangat penting.
Seminggu kemarin, ia keluar kota untuk melengkapi penelitian demi menyelesaikan S2 nya. Sebentar lagi ia akan segera mendapat gelar magister di bidang psikologi klinis anak. Artinya, sebentar lagi dia sudah bisa membuka prakteknya sendiri, sesuai dengan mimpinya.
Jeri ingin menjadi psikolog anak karena ia tidak ingin ada anak lain yang seperti dirinya dan Dee, adik perempuannya. Hidup mereka hampa karena orang tua mereka yang sangat sibuk. Orang tuanya jarang berada dirumah. Papanya lebih memilih mengurusi perusahan minyak di luar kota. Sementara mamanya terus-terusan pergi keluar negeri. Menghadiri inilah. Itulah. Bertemu siini, siitu.
Jeri tahu, mereka hanya lari dari realita. Mereka hanya lari dari kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia.
Dan Jeri tahu, betapa menderita seorang anak yang tumbuh dalam keluarga seperti itu. Betapa rapuhnya mental anak berada dalam kondisi keluarga seperti itu.
Ayahnya meninggal 4 tahun yang lalu karena diabetes yang bahkan tidak pernah dikatahui Jeri ataupun Dee. Jeri hanya mendapat telepon dari seorang wanita asing bahwa papanya telah tiada. Entah bagaimana campur aduknya perasaan Jeri saat itu.
Sedih, kehilangan, kecewa, dan marah.
Ketika ayahnya meninggal, keluarga mereka ditimpa syok yang luar biasa. Ternyata, ayah yang selama ini dibanggakan oleh Jeri memiliki wanita idaman lain. Dan wanita itulah yang mengetahui kondisi kesehatan papanya. Sungguh, hati Jeri kecewa. Mengapa papanya begitu tega menghianati keluarganya?
Selama ini, Jeri tahu betapa mamanya sangat mencintai papanya. Hanya saja, mereka sama-sama egois dan tidak mau saling mengalah. Mereka memilih lari dari kenyataan, menenggelamkan diri dalam kesibukan masing-masing. Mereka memilih menyelesaikan masalah mereka dengan bersembunyi. Jeri tidak menyalahkan papanya jika ia memiliki wanita idaman lain
Jeri paham, papanya membutuhkan seseorang yang peduli dengan dirinya saat mamanya, dirinya, dan Dee tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Tapi wanita itu sungguh licik. Dia benar-benar mengeruk seluruh harta papanya. Dia meninggal dan seluruh hartanya jatuh ketangan wanita ular itu.
Saat mengetahui fakta itu, mama Jeri menangis sendu. Pasti ia kecewa karena sudah menyianyiakan waktu. ia pasti kecewa karena papanya sudah terlanjur berpindah ke lain hati. Ia pasti kecewa karena ia sudah benar-benar terlambat.
"Kamu tahu, aku sangatlah mencintai papamu. Tetapi ia tega menghianatiku. Bahkan ia tidak memberikanku kesempatan kedua." Mamanya mulai berbicara sendu. Sementara Jeri hanya memeluk mamanya. "Selama ini kami begitu egois. Aku egois dan dia egois. Aku memilih pergi menghindarinya hingga dia jatuh kepelukan wanita lain. Seandainya waktu dapat diputar, aku akan berusaha memperbaikinya"
Dan menangislah perempuan itu sendu. Penuh dengan rasa sesal.
Dan Dee, entahlah. Dia tidak terlihat sejak mereka tahu fakta itu. Dee pasti sangat terpukul. Saat itu, dia masih SMP. Diusianya yang masih mengalami kelabilan, tentu dia merasa frustasi.
Saat pemakaman, suasana begitu mencekam. Mamanya menangis histeris. Jeri hanya berdiri disana. Menatap dari kejauhan saat mamanya memeluk nissan itu. Menangispun ia tidak sanggup. Jeri melirik kearah mobil dimana Dee mengunci dirinya. Sejak peti diturunkan dari mobil jenazah, Dee tidak pernah turun dari mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEL...LENA
ChickLitHEL...LENA Lima tahun yang lalu, Helen memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya. Ia bosan merasa asing didalam keluarganya. Ia bosan dicemoohkan dipergaulannya Ia bosan selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang cantik dan anggun Lima tahun...
