Keesokan harinya, Helen yang di temani Leonard sedang melakukan terapi untuk memancing syaraf kaki Helen agar dapat bergerak. Meski sering merasa ngilu saat berusaha untuk menggerakan kakinya, tetap Helen penuh dengan kobaran semangat terus mencoba.
Leonard tidak pernah bosan untuk mendukung putrinya. Petugas terapi yang melihat semangat Helen sampai terharu melihat perjuangan Helen.
Hasil terapi Helen yang pertama ini setidaknya tidaklah sia-sia. Helen sudah bisa menggerakan jempolnya. Leonard memberikan Helen dua jempolnya saat terapi itu berakhir.
Hari ini terjadi diluar ekspetasi Helen. Helen berencana untuk kembali mencerna seluruh perkataan Lena kemarin. Dia ingin memikirkan makna dari seluruh yang dikatakan oleh Lena waktu itu. Namun nyatanya, dari pagi, Helen sudah banyak dikunjungi oleh orang-orang yang menanyai kronologis kejadian buruk itu. Rudi juga terlihat sibuk mondar-mandir. Tidak lupa sesekali Rudi membisikan Helen bahwa semuanya akan aman ditangannya.
Meski Helen malas untuk mengingat peristiwa buruk itu kembali, tetapi Helen tetap menjawab semua pertanyaan para petugas berseragam itu dengan detail. Helen mengerti jika data-data kronologis di perlukan untuk menindak lanjutin kasus itu. Meski desas-desus yang Helen dengar, para pelaku yang mengakibatkan kenangan buruk itu sudah mati dengan meledakan bom bunuh diri saat personil keamanan datang.
Helen tidak tahu bagaimana komentar-komentar masyarakat mengenai kejadian itu. Helen belum siap untuk membuka televisi yang sudah pasti berisi tentang ledakan itu. Tapi Rudi meyakinkan bahwa tidak akan ada masyarakat sipil yang mengetahuinya. Semuanya sudah diatur agar pemberitaan tidak mengungkit perihal Helen.
Akibat ledakan itu, Helen mendapatkan enam jahitan di lengan kanannya dan tiga jahitan di jidat, luja diseparuh bibienya, serta beberapa luka gosong di punggung dan kaki. Hidup Helen memang sudah sangat menderita. Bahkan, Helen tidak siap melihat refleksi dirinya di cermin. Pasti sudah sangat hancur rupanya ini.
Terlebih, dia malu mengingat bahwa Jeri sudah melihat kondisinya kemarin.
Hari masih sore ketika Helen menyelesaikan terapinya. Rumah sakit milik negara ini meski terlihat kumuh di depannya, ternyata memiliki sebuah taman yang sangat indah di dalamnya. Rumah sakit ini memiliki bangunan yang melingkar dan sebuah taman yang besar di tengahnya dan air mancur yang dapat dinikmati oleh pasien saat jenuh di kamar.
Beberapa pasien terlihat sedang menikmati sore di taman itu. Leonard mendorong kursi roda Helen dengan pelan melewati koridor rumah sakit itu. beberapa perawat yang lewat tersenyum menyapa Helen. Helen yakin bahwa hampir seluruh pekerja disini tahu siapa dirinya. Untungnya, rahasia identitas pasien yang dirawat di rumah sakit ini akan terjamin kerahasiannya.
Leonard membawanya kesebuah kursi yang terletak di taman itu. Leonard duduk di kursi itu dan mengatur posisi kursi roda Helen agar Helen dapat berada di sebelahnya.
Helen ingin menapakan kakinya di runput itu. Namun apa daya, kakinya saja tidak mampu digerakannya. Helen jadi merasa sangat sedih. Dia sedih karena berpikir bahwa ia tidak lagi mampu merasakan apa yang di rasakan orang normal.
Leonard yang tersadar dengan kesedihan putrinya yang sedang menunduk menatap rumput itu memberikan sebuah tepukan lembut dipundak Helen. Helen menatap kearah leonard dan tersenyum, mencoba menutupi kesedihannya.
Ini adalah pertama kalinya ia bisa berada di dekat papanya tanpa merasa canggung. Helen memang tidak pernah dekat dengan papanya. Dahulu, papanya merupakan orang yang sangat sibut bekerja. Paling-paling ketika ia pulang, ia hanya akan menanyakan kondisi Lena lalu mengunci diri di ruang kerjanya. Helen selalu diabaikannya. Interaksi yang ia lakukan dengan papanya bahkan bisa di hitung dengan jari. Karena itu Helen sangat menikmati suasana ini. Suasana dimana Helen tahu bahwa papanya sedang menyayanginya dengan tulus. Suasana dimana Helen tahu bahwa oragtuanya menyayanginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEL...LENA
ChickLitHEL...LENA Lima tahun yang lalu, Helen memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya. Ia bosan merasa asing didalam keluarganya. Ia bosan dicemoohkan dipergaulannya Ia bosan selalu dibandingkan dengan saudara kembarnya yang cantik dan anggun Lima tahun...
